
Fitting .
Tinggal satu bulan lagi dan hari besar itu akan tiba.
Zayn tak pernah lelah dan bosan untuk mengupayakan kegagalan pernikahannya.
Segala cara ia tempuh guna menghancurkan susunan acara yang telah di tata oleh pihak keluarga.
Termasuk upayanya untuk membujuk Hanum. Meskipun ia tahu, usahanya tak pernah membuahkan hasil jika di hadapkan dengan gadis bebal yang telah terjerat oleh cinta butanya.
Alih-alih bersikap dingin dan ketus, Zayn tampak biasa saja.
Satu bulan lebih ia sudah berusaha sekuat tenaga guna membujuk ayah, dan juga om Rio.
Namun hasilnya masih nihil.
Mungkin jika ia terus berusaha upayanya yang selama ini ia kerahkan tak akan berakhir sia-sia dan bisa membuahkan hasil.
Seperti hari ini, Zayn memilih untuk menabahkan hatinya guna menemani Hanum melakukan fitting baju pengantin.
Itu pun ia lakukan dengan ikhlas hati supaya Tuhan senantiasa mempermudah langkahnya untuk lepas dari jerat tali semu yang merantai kakinya.
"Kak! yang ini gimana?" tanya Hanum seraya menunjuk pada dua buah gaun putih yang terpajang dalam etalase berdinding kaca.
Gaun yang sangat elegan dengan desain yang berbeda.
"Coba aja kalau kamu suka, Num!" jawab Zayn dengan senyum mengembang di wajahnya.
Hanum pun mengangguk senang. Ia begitu bahagia dengan perubahan sifat Zayn yang kembali menghangat ke padanya sejak satu bulan terakhir.
Ia begitu bersyukur akhirnya Zayn bersedia untuk membuka hati dan menerima kehadirannya sebagai pendamping hidupnya.
Ditemani langsung oleh seorang wanita muda selaku owner butik tersebut, Hanum menjajal dua set gaun yang mencuri perhatiannya.
Ia masuk ke dalam ruang ganti khusus di bantu oleh pihak owner dan juga pegawainya.
••••••••••
"Kak! gimana, bagus nggak?" tanya Hanum yang baru saja keluar dan sudah mengenakan gaun pengantin model Ball gawn dress yang melekat di tubuhnya.
Gaun yang menampilkan kesan elegan dengan bagian atas yang terbuka, menampilkan bentukan tulang selangka yang indah dan juga terkesan lebih seksi.
__ADS_1
Hanum berputar beberapa kali di hadapan Zayn sembari memperlihatkan gaun pilihannya itu di hadapan calon suaminya.
Zayn masih tergugu, netranya masih memandangi sosok wanita yang nampak begitu bahagia di hadapannya.
"Kamu akan lebih bahagia Num, jika saja kamu menikah dengan pria yg benar-benar mencintaimu. Dan itu bukan aku," batinnya dengan senyum tipis di sudut bibirnya.
"Cocok kok, Num! kamu cantik pakai gaun yang ini."
Hanum tersipu mendengar pujian yang barusaja di ucapkan oleh Zayn. Pipinya juga ikut merona menahan rasa bahagia yang serasa meledakkan jiwanya.
Baru kali ini Zayn dengan terang-terangan memujinya cantik di hadapan orang lain.
Apalagi saat ini ia sedang menggunakan busana pernikahan yang akan ia kenakan nanti di acara resepsi bersama dengan suami pilihan orang tuanya. yaitu Zayn.
"Mbak, bungkus yang ini." Titah Zayn menunjuk gaun yang tengah di kenakan Hanum.
"Ta-pi kak, aku belum coba yang satunya lagi." Cicit Hanum seraya memegangi lengan zayn.
"Kamu cocok pakai itu kok, Num," ucapnya sembari melepaskan rengkuh jemari Hanum dari lengannya.
Hanum nampak kecewa. Bibirnya melengkung ke bawah syarat akan kesedihan yang tertahan karena belum sempat mencoba gaun lain yang juga ia sukai.
Melihat betapa kecewanya Hanum membuat Zayn menjadi tak kuasa untuk menolak.
"Makasih kakak! Ehm, maksut aku makasih calon suami," ucapnya dengan manja.
"Kita pulang dulu ya, Num. Untuk masalah photo preweddingnya kita bahas nanti aja di rumah. Sekalian ajak Reynand."
Hanum menautkan kedua alisnya, "Ngapain kak? emang reynand mau ikut photo juga?"
Zayn menggerakkan bola matanya cepat, ada sedikit kepanikan di wajahnya, "Ya , reynand kan adik aku, Num. Jadi nggak apa-apa ya kalau dia ikut photo bareng kita."
"Ha? bareng kita?" tanya Hanum makin bingung.
"Maksut aku ... reynand mau photo bareng aku, Num. Buat album memori aku sama dia! Kan aku mau nikah sama kamu, takutnya nanti malah nggak sempet kalau kita udah berkeluarga .
Kamu nggak keberatan kan ... sayang?" rayu Zayn dengan lemah lembut.
Hanum menyunggingkan senyum bibirnya, lagi-lagi wajahnya kembali bersemu bahagia.
"Nggak apa-apa kak. Aku malah seneng kalau memang tujuan kamu untuk bikin album memori sama reynand. Bagaimana pun juga dia kan calon adik ipar aku kak.
Sekalian nanti kita photo bertiga buat memories di rumah baru kita."
__ADS_1
Zayn mengulurkan tangannya dan mengacak rambut gadis itu dengan pelan.
Bibirnya merekah sempurna dengan kelegaan yang ikut terpancar dari wajahnya.
"Num! dengerin aku," ucap Zayn seraya menarik dagu Hanum dan sedikit mendongakkan kepala gadis itu guna dapat melihat ke dalam matanya.
"Apapun yang terjadi nanti, jangan pernah sekalipun untuk benci sama aku ya! Karna dari awal kamu udah tau soal perasaan aku ke kamu.
Gimana hubungan kita, dan aku nganggep kamu sebagai apa.
Aku harap kamu bisa bahagia .
Meskipun itu terasa sangat sulit, aku harap kamu akan tetap bertahan dan nggak akan menyerah demi pernikahan ini."
Hanum mengagguk perlahan, matanya terasa mulai memanas karena terharu dengan tutur kata dari Zayn.
Entah sejak kapan pria dingin itu melunakkan hatinya dan pandai berkata-kata. Tapi ia senang, ia bahagia, akhirnya Zayn telah menerima perjodohan ini.
Suatu ikatan yang akan segera meresmikan ikatan cinta mereka dalam sebuah hubungan suci.
Hanum menggenggam jemari tangan Zayn erat .
Di sentuhnya permukaan punggung tangan pria yqng sebentar lagi akan menjadi imam dalam rumah tangganya.
"Aku janji kak, demi apapun aku nggak akan menyerah dalam pernikahan kita." Tuturnya sendu dengan bulir air mata bahagia yang ikut menjadi saksi janji keduanya.
"Inget num! Pernikahan itu suatu ikatan suci.
Disaksikan oleh Allah dan juga banyak malaikat langit.
Aku harap kamu jadi wanita yang paling bahagia setelah resmi menyandang status sebagai istri dan ibu dari calon anak-anak yang akan kamu kandung."
Hanum mengagguk lagi dan lagi, "pasti kak. Aku pasti akan bahagia karena kamu lah yang akan mendampingi aku dan membimbing rumah tangga kita menuju kebahagiaan."
Zayn tersenyum sendu, netranya sedikit berkaca ketika mengucapkan sedikit wejangannya kepada gadis di hadapannya ini.
Ia menunduk kan kepalanya sedikit, kemudian menghadirkan kecup lembut di kening Hanum. Kecupan kasih sayang layaknya seorang kakak terhadap adiknya.
"Kita pulang ya!" Ajak Zayn yang juga di setujui oleh Hanum.
Ke duanya jalan beriringan, saling menggenggam tangan .
Tanpa hadirnya suara yang membuat suasana kian lebih tenang.
__ADS_1