Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
68.


__ADS_3

Klaim πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Di pagi yang tenang dan juga sepi. Semburat cahaya terang matahari menelusup masuk melalui pantulan kaca jendela yang tirai nya telah terbuka sempurna. Sentuhan jemari lentik hadirkan usapan lembut pada wajah tenang seseorang yang masih terlelap dalam buai tidurnya. Mengusiknya perlahan hingga iris coklat itu perlahan terbuka. "Morning kiss." Suara serak itu mengalun lembut sembari mendaratkan ciuman hangatnya di puncak kepala Gita. Gadis itu mengembangkan senyum di bibirnya, wajahnya nampak segar dengan kadar keceriaan yang telah pulih sepenuhnya.


Sudah satu minggu berlalu, seiring dengan teror misterius yang perlahan raib tak lagi mengusik ketenangannya. Ia bisa sedikit bernapas lega, dan dengan tenang menjalankan rutinitas hidupnya seperti semula. Hidup yang tenang, damai, tanpa sebuah kekacauan di dalamnya.


β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’


Balutan apron merah muda bercorak bunga-bunga, terpasang rapi di tubuh mungil Gita. Gadis itu telah kembali pada dirinya sendiri. Menjadi pribadi yang anggun dengan segala ciri yg ia miliki.


Jemarinya bergerak lincah menghidangkan sarapan pagi untuk kekasihnya yang hari ini mengambil cuti. Setelah puas mengusiknya di pagi tadi, Gita memilih untuk meninggalkan Zayn, membiarkan pria itu kembali memejamkan matanya dalam lelapnya alam mimpi.


Setelah beberapa saat berlalu, gadis itu telah selesai dengan aktifitas dapurnya. Semua telah tersaji rapi di atas meja, lengkap dengan segala gizi yang tersaji secara apik dan nampak nikmat untuk di santap. Gita melepaskan tali apron yang mengikat di pinggangnya dan berjalan pelan hendak kembali membangunkan sang kekasih yang masih terpejam dalam tidurnya.


Namun, suara ketukan pintu membuat ia kembali menolehkan kepalanya. Mengurungkan niatnya untuk menapaki pijakan anak tangga dan kembali turun untuk membuka pintu guna menyambut kehadiran seorang tamu.


Tiada seorangpun di sana, hanya sebuah paket misteri yang terletak di depan pintu apartemennya. Paket yang terbungkus dengan kotak kado berwarna hitam legam, tertata amat rapi dengan nama Gita sebagai penerimanya.


Gadis itu menautkan kedua alisnya, raut wajahnya sedikit bingung ketika ia tak mendapati nama pengirim yang tercantum di sana.


Jemarinya bergerak ragu, ia sedikit bimbang takut akan sesuatu yg mungkin akan mengejutkannya di hari yg masih sepagi ini.

__ADS_1


Namun, rasa penasaran membuatnya kian tertantang. Jemarinya bergerak cepat merobek-robek bingkisan berbungkus rapi itu dengan tergesa. Matanya membulat sempurna, ketika ia mendapati sebuah boneka berwajah rusak dengan tinta merah pekat yang tersiram di bagian wajahnya.


Sontak jerit histerisnya tak dapat lagi ia tahan. Gadis itu beringsut menjauh dan berlarian menuju kamarnya. Dada nya terasa sesak, bahunya naik turun di landa kecamuk kepanikan. Ia takut, sekaligus benci. Benci harus terus berada di bawah ancaman teror yang tiada berkesudahan.


β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’


Di salah satu coffe shop area kota. Gita melangkahkan kakinya yakin seraya memasuki salah satu dari deretan nama coffe dari pesan asing yang barusaja ia terima.


Masih bernada ancaman, yang tentunya berhasil membuat bulu kuduknya meremang. Namun, ia lelah. Lelah terus bermain secara sembunyi-sembunyi. Berhasil membuat pikiran nya dilanda ketakutan setengah mati. Sedang sang lawan tengah terbahak, duduk tenang di lubang persembunyian nya ketika melihat keadaan musuh dilanda depresi.


Gadis itu terduduk di meja paling ujung, nomor dua dari sudut paling belakang. Ekspresi nya nampak tenang dengan kacamata hitam yang menyembunyikan segala kepanikannya. Sudah satu jam berlalu, entah kenapa seseorang yang mengirimkan pesan misterius kepadanya belum juga menampakkan batang hidungnya. Ia jengah, sekaligus penasaran.


Netranya kian membulat sempurna, jemarinya mengepal erat menahan kemarahan tatkala orang yg ia tunggu itu tak lain adalah seorang yang sangat ia kenal. Gadis itu terlihat santai dan tanpa dosa duduk di hadapannya seraya menyunggingkan senyum cantiknya. "Hanum!" panggil Gita dengan raut muka geram. Jemarinya mengepal erat menahan rasa marah.


Namun gadis itu terlihat sumringah menatap nya penuh binar kesenangan di sertai senyum penuh ejekan, "Maaf, membuatmu lama menunggu."


Gita melepaskan kacamata hitam yang masih bertengger menutupi ke dua bola matanya. Sorot matanya menajam menelisik Hanum dari segala sisi.


"Apa kau sudah menyerah?" Pertanyaan itu menggema, membuatnya mau tak mau kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu sehubungan dengan teror.


Ia menarik napasnya panjang, mengatur irama emosinya agar tetap terkontrol ketika di hadapkan dengan seorang musuh.

__ADS_1


Bibirnya mengulas senyum miring, senyum penuh ironi dan juga rasa kasihan yang terpampang nyata ia peruntukan untuk sang lawan, sorot matanya kian tajam seiring lenyapnya rasa takut yg sedari tadi membelenggunya. "Ck, menyerah? untuk apa? ha!" Gita menyeringai tak mau kalah.


"Menyerah atas cinta palsu yang saat ini kau miliki. Lepaskan Zayn dan aku juga akan melepaskan mu!" nada bicaranya naik beberapa oktaf sedang jemarinya sibuk menunjuk-nunjuk ke arah Gita.


Gadis itu masih tetap tenang, emosinya masih datar. Sedang bibirnya siap untuk menuturkan kata-kata pedas yang akan memberondong sang lawan bicara dengan beberan ungkapan fakta. "Ck, ck, ck," gelengnya menahan tawa, "Harusnya aku yang berbicara seperti itu, bukan malah dirimu yg sudah menyandang nama keluarga Malik di bagian belakang nama mu! Kau sudah menikah! sebaiknya jaga perilaku mu dan ... layani suami mu dengan baik. Jangan menjadi parasit licik yang hanya bisa mengambil sesuatu dari yang bukan milik mu!"


Hanum mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Emosinya kian meledak-ledak karena ketidak terimaan nya atas tutur kata Gita yang dirasa telah menggores hati nya. "Siapa yang kau bilang seorang parasit, ha?" bentaknya tak terima. Gadis itu menjadi liar, membabi buta dengan kemarahan yang menguasai nya.


"Wow, wow! kendalikan emosimu nona," ucap Gita berpura takut seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Hanum mencengkeram kan kedua tangannya erat-erat pada kerah baju yg di kenakan oleh Gita. Napasnya naik turun, mengimbangi tingkat emosinya yang telah sampai pada ubun-ubun. "Tinggalkan Zayn!"


Gita terbahak mendengar titah itu, ia terpingkal-pingkal bagai manusia tanpa dosa yang menertawakan kebodohan seseorang yg telah buta akan cinta. "Dia sudah menjadi milikku, pun dengan ku. Kami telah saling menyatu, memiliki, dan mencintai. Walaupun aku dengan suka rela melepaskannya untuk pergi, dia pasti juga akan berpikir 1000 kali untuk berpaling dengan seorang wanita seperti mu!" Bibirnya menyeringai lagi, sedang jemarinya bergerak cepat memelintir tangan lemah hanum selagi ia masih lengah.


"Akhhh!" pekik nya menahan sakit, sendi nya terpelintir dan ia merasakan bahwa kemungkinan ada tulang nya yang patah di sana.


"Apakah ini sakit?" ucapnya dengan acuh, namun jemarinya masih erat mencekal lengan Hanum untuk tetap diam di bagian pinggangnya. "Seharusnya, kau tau dimana letak posisi mu Num! Zayn bukanlah barang. Dimana ia bisa dimiliki oleh siapapun. Kami saling mencintai. Jadi, ku sarankan padamu untuk berhenti mengganggu ketenangan kami dan ku harap, kau tidak lagi menyentuhkan jemari mu pada sesuatu yang jelas-jelas tidak tercipta untuk mu."


Dengan kasar Gita melepaskan cekalan tangannya, menghempas Hanum dengan paksa dari tubuhnya. Hingga gadis itu lunglai terjerembab di atas lantai. Ia meringis menahan nyeri.


"Ini hanyalah sebuah peringatan awal. Ingatlah, bahwa aku bukanlah gadis lemah yang hanya bisa merengek manja di bawah kuasa seorang pria." Gita beranjak, ia berjalan santai meniggalkan Hanum yg masih memandanginya penuh binar kekalahan. Gadis itu menundukkan pandangannya, bibirnya terkatup rapat menahan Isak tangis kekalahan. Ia telah kalah, kalah dari segala sisi dan tiada kemungkinan untuk kembali memiliki sang pujaan hati.

__ADS_1


__ADS_2