Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
32.


__ADS_3

Sembilu perih .


Di pagi buta, saat cahaya mentari masih menyembunyikan kilau indah sinarnya.


Zayn masih berdiri tegang menatap kaca-kaca tebal di area bandara.


Pandangannya sayu menatap sebuah pesawat yang bersiap lepas landas dan meninggalkan area Bandara Hang Nadim kota Batam.


Rasa hatinya mendadak gundah saat kali terakhir ia melihat hadirnya senyum manis di sudut bibir gadis berambut pink itu.


Dadanya masih terasa sesak karena gadis itu seolah enggan untuk mengatakan arah tujuannya.


Ia seperti tertutup, membatasi diri dan menutup semua akses menuju kehidupan barunya.


Zayn hanya bisa pasrah menerima segalanya dengan lapang dada. Meski kenyataannya batinnya seolah tak terima atas segala liku kehidupan yang ia lalui.


Ia masih berdiri tegak menghadap kaca pembatas berukuran besar itu.


Jemarinya menempel erat menjangkau sisi kaca tempat beberapa pesawat tengah berjajar rapi.


Jemarinya terulur seolah menjangkau salah satu dari banyaknya jumlah pesawat yang ada di ujung, jauh di sana.


Namun, harap tinggal lah semu.


Gita benar-benar telah meninggalkan tempat ini sejak beberapa detik yang lalu.


Perih dan juga sakit menghinggapi batinnya.


Menggores kan sembilu perih yang tertancap begitu dalam ke dalam sanubarinya.


Menyisakan luka yang amat perih tanpa adanya obat penawar yang tersedia baginya.


*****


Zayn masih menatap nanar sebuah punggung ringkih yang terlihat sibuk dengan kegiatan packing besarnya.


Gita terlihat sibuk mengemasi barang-barang yang akan ia bawa pergi. Semua baju-bajunya dan juga beberapa dokumen penting sudah ia kemas rapih dalam sebuah koper besar dan ia pastikan tak ada satupun benda yang tertinggal di sana.


Zayn masih terdiam. Lidahnya seolah keluh untuk kembali menyuarakan penolakannya atas kepergian Gita.

__ADS_1


Hatinya serasa tercabik saat kalimat yang ia utarakan tak berarti apapun pada keputusan yang telah Gita tetapkan


"Kamu mau sampai kapan berdiri di situ?" ucap Gita dengan senyum cantiknya.


Zayn masih acuh seolah tak perduli. Jika saja ia tak menahan gengsinya, mungkin saja saat ini ia sudah menitikkan air matanya tepat di hadapan gadis itu.


Hatinya begitu lemah saat perpisahan sudah berada di depan matanya.


Ia menyesal, kenapa ia tak pernah menyadari jika perempuan di hadapannya ini adalah seorang yang begitu sempurna. Yang selalu memberikan cinta dan kasihnya secara tulus tanpa pamrih apapun terhadapnya.


Gita memilih untuk beranjak mengikis setiap jarak yang membentang di antara ke duanya.


Melihat wajah pria pujaannya yang terlihat begitu sedih, membuat hatinya serasa tak tega untuk kembali mengucap kata perpisahan.


"Hey!" gumamnya lirih. Gita mengusap lembut wajah tampan itu dengan jemari lentiknya. Mungkin ini untuk terakhir kalinya ia bisa melakukan hal ini di malam ini.


Zayn memejamkan matanya sesaat, menikmati sapuan lembut yang terasa hangat hadir di wajahnya. Begitu lembut hingga membuatnya ikut terbuai menikmati sentuhan jemari lembut sang gadis pujaan.


Zayn membuka kelopak matanya, membuat pandangannya sedikit tertunduk, menatap dalam pada bola mata indah yang nampak berbinar itu.


Tangannya bergerak pelan merengkuh tubuh mungil itu dengan begitu mesra.


Hening. Suasana begitu senyap melingkupi dua insan yang tengah di rundung duka ini. Hanya isakan pilu yang sesekali terdengar lolos dari bibir mungil gadis itu.


Ia juga sedih, ia juga terluka.


Sama seperti yang dirasakan oleh pria pujaannya saat ini. Zayn membenamkan kepala Gita ke dalam dada bidangnya.


Memberikan tempat bersandar paling nyaman bagi segala duka yang dirasakan oleh gadis pujaannya.


"Bolehkah aku meminta?" ucap Zayn terdengar sendu.


Gita hanya diam, ia masih merengkuh bahu bidang yang terasa begitu nyaman itu dengan gelayut manja.


"Please! stay here, with me," ucapnya pelan sembari mengecup puncak kepala Gita.


Gita mendongakkan kepalanya perlahan ia tatap bola mata berwarna-coklat itu dengan penuh cinta.


Sementara matanya sendiri masih berlinang air mata kepedihan.

__ADS_1


"Apa kau tau, Zayn? hari ini adalah hari yang paling bahagia di dalam hidupku.


Aku bahagia, ternyata pria pujaan ku juga memiliki perasaan yang sama seperti ku.


Aku bahagia." Imbuhnya lagi.


"Jangan pergi, tetaplah disini. Bertahan dengan ku," mohon Zayn lirih dengan tutur kata rendah.


Gita menggeleng pelan. Ia mengeratkan pelukannya sesekali mengusap bahu tegap itu dengan penuh kelembutan.


"Akan ada waktunya, Zayn. Semoga masih ada kesempatan bagi kita untuk meresmikan hubungan kita nanti."


"Lantas, kenapa harus nanti? sementara masih ada hari ini dan hari esok yang masih bisa kita lalui bersama, Git? Nanti itu menunjuk kan waktu yang belum pasti dan aku nggak bisa nunggu kata nanti." Tuturnya serius menyuarakan permohonannya.


Gita menunduk pilu membenarkan setiap tutur kata yang di ucapkan oleh Zayn.


Nanti, merupakan penunjuk waktu yang belum pasti. Bisa cepat bisa juga menjadi lambat.


"Kita jalanin aja dulu, Zayn. Aku yakin ini yang terbaik buat kita." putus Gita sembari melepaskan rengkuhannya dari tubuh Zayn.


Ia mengusap pelan bulir air matanya yang masih setia berjatuhan di wajah cantiknya.


Menyisakan sembab yang begitu kentara di area mata bulatnya.


Zayn beringsut lemah. Ia memundurkan tubuhnya hingga meng-antuk badan pintu. Menyandarkan kepalanya ke permukaan datar yang begitu keras hingga terdengar bunyi benturan kecil di sana. "Mungkin ini yang terbaik," ulangnya lagi sebelum akhirnya ia memilih pergi dari hadapan Gita.


Hatinya hancur dan harapnya lenyap.


Hanya tumpuan hati yang telah retak, yang masih menyisakan segala rasa cinta yang tulus pada sosok gadis berambut pink itu.


••••••••••••


Langkah kakinya gontai menyusuri lantai apartemen miliknya . Apartemen yang sebelumnya sudah ia serahkan sepenuhnya kepada Gita.


Gita sengaja mengembalikan semua pemberian dari Zayn, lebih tepatnya meninggalkan benda-benda itu di atas meja kamarnya sebelum keberangkatannya menuju bandara.


Zayn merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamarnya. Matanya terpejam membayangkan lagi saat-saat terakhirnya memandangi gadis ceria itu.


Kini semuanya sirna, lenyap seiring kepergian gadis itu dari hidupnya.

__ADS_1


Zayn hanya bisa menunggu. Berharap suatu saat nanti takdir akan kembali mempertemukan mereka.


__ADS_2