Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
31.


__ADS_3

Tangis.


Gita P.O.V


"Ya Tuhan? benarkah apa yang dia bilang?


Ataukah mungkin ini hanya sebatas halusinasi pendengaran ku saja?


Tolong, beri aku keyakinan Tuhan.


Kuatkan hati ku untuk teguh memilih.


Apakah dia memang kau ciptakan untuk melengkapi kehidupan ku, atau ia memang sengaja kau hadirkan hanya untuk singgah sesaat kemudian lenyap ikut terseret arus putaran waktu?


Gita mendengarnya, semua tutur kata itu meskipun terdengar samar dalam indra pendengarannya.


Ia sedih, ia juga bahagia.


Dunia terlalu kejam terhadapnya, mengingat banyaknya penolakan yang harus ia terima. Dan kenyataan menjadi anak seorang ******* dan juga perusak rumah tangga orang merupakan aib besar yang menjadi hambatan paling riskan dalam kehidupannya kini.


"Tuhan? Bolehkah aku bertanya!


Kenapa Engkau hadirkan aku dalam kehidupan seorang wanita yang keji?


Apa salahku? Apa pula dosaku?


Aku tak pernah tau tentang apapun kejadian di masa lalu, tapi kenapa semuanya seolah membenci ku? Kenapa mereka jatuhkan hukuman ke padaku?


Apa salahku ...? Jika saja waktu bisa di putar kembali, bolehkah aku memilih?


Bolehkah aku terlahir dari rahim wanita lain? Wanita yang memiliki latar belakang baik. Aku tak mengharapkan seorang yang kaya.


Hidup melarat kurasa lebih baik daripada harus hidup dalam kubangan dosa dan jerat kebencian yang selalu melekat di dalam diri ku.


Aku benci, aku marah! bukankah seorang bayi yang terlahir ke dalam dunia ini adalah seonggok tubuh kecil yang suci?


Meskipun mami ku adalah seorang pendosa dan pezina! Tapi, itu bukan kemauan ku .


Bukan ingin ku terlahir dari hasil jual diri.


Tapi lagi, dan lagi.


Kalian bahkan memandang ku dari sisi yang sama.


Men-judge ku dengan kata-kata yang kalian ucapkan dengan begitu entengnya, tanpa lebih dulu melihat sisi ku yang sesungguhnya.


Aku bukan wanita yang baik, tapi setidaknya aku masih punya harga diri untuk tidak mengikuti kesalahan yang mami ku perbuat."


Gita termenung dalam diam. Ia sadar, sepenuhnya tersadar dari tidurnya.


"Ck! kenapa Kau tidak cabut saja nyawaku tuhan?" gumamnya sedih.


Bukan kah kematian merupakan anugerah terindah bagi mereka-mereka yang tak pernah di harapkan kehadirannya di muka bumi?


Tapi kenapa, justru seolah Tuhan tak pernah memberikan kematian pada mereka-mereka yang selalu tersiksa dan teraniaya batinnya?


Kenapa Tuhan seolah menjatuhkannya lagi dan lagi?


Pikirannya berkecamuk, amarahnya memberontak. Meminta keadilan pada yang Kuasa.

__ADS_1


Cukup sudah baginya untuk menerima semua kepahitan, cacian, dan juga doa-doa buruk dari semua orang yang membencinya.


Tapi ia bisa apa? haruskah ia memikirkan untuk mengakhiri hidupnya? Atau membinasakan semua orang yang membenci nya?


'Pffftt!' Gita terkikik lirih memegangi perutnya.


Pemikirannya membuat ia tertawa.


Membunuh, atau mengakhiri jalan kehidupannya sendiri nyaris belum pernah ia pikirkan. Hingga tiba-tiba hal itu muncul begitu saja dalam isi kepalanya.


••••••••••••


Gita menggeleng pelan, mengusap lembut surai hitam seseorang yang berada di sampingnya.


Senyumnya semakin mengembang saat melihat damai yang hadir di wajah tampan itu.


Sesekali jemarinya bergerak pelan, menyentuh permukaan wajah yang begitu sempurna dari hasil ciptaan sang Kuasa.


Ia menelan Salivanya lagi.


Gugup nyata ia rasakan saat pandangan pria ini ternyata tak lagi terpejam.


"Eh," Gita menarik jemarinya menjauh dari wajah tampan itu.


Wajah tampan yang beberapa detik lalu sempat ia sentuh dan ia kagumi.


"Kamu udah bangun?" tanya Zayn sambil mengucek matanya perlahan.


"Ekhm, udah." jawab Gita memalingkan wajahnya.


Bukan karena sombong atau angkuh.


"Perlu aku panggil kan dokter?"


Gita menggeleng cepat, ia menolak hadirnya orang lain di antara ke duanya.


Ini merupakan momen bahagia baginya dan ia masih terlalu rakus untuk berbagi dengan orang lain. Meskipun hanya seorang dokter yang bertugas.


"Zayn!" ucapnya lirih.


"Ya!"


"Terimakasih, karna udah jagain aku."


Zayn mengagguk pelan, "nggak usah makasih, karena dari awal itu emang kesalahan aku."


"Aku. Kamu?" Gita bertanya heran.


Zayn hanya tersenyum tipis, lalu kemudian ia menghadirkan cubitan kecil di pipi gadis itu.


"Nggak boleh apa?" godanya yang membuat Gita kembali terkikik.


"Boleh. Boss mah bebas ya, mau panggil apa aja." cibirnya senang


Zayn meng-angsurkan tangannya perlahan, ia hadir kan sentuhan lembut di kepala Gadis itu.


"Kamu denger nggak semalem aku ngomong apa?"


Gita terdiam, namun bola matanya bergerak lincah menutupi dusta yang coba ia sembunyikan.

__ADS_1


Hingga anggukan kecil ia hadirkan sebagai sebuah jawaban.


Zayn tersenyum lega. Ada rasa plong ya g begitu kentara di wajahnya.


Bebannya seolah lenyap dari permukaan, seiring adanya gurat bahagia yang tercetak jelas di wajah Gita.


"Kamu seneng?" tanya Zayn menyelidik


Gita mengagguk pelan, rasa malunya kembali singgah di wajahnya.


Membuat ia kembali memalingkan wajahnya guna menyamarkan debaran jantungnya yang seolah kian berpacu lebih cepat.


Tapi, seketika harapannya lenyap.


Mengingat bahwa perpisahan mereka sudah di pastikan di depan mata.


Besok ia akan segera berangkat.


Menjauh pergi sesuai kesepakatan yang ia jalin dengan Rizal.


Bukankah ini terlalu sakit? Baru saja ia mengecap rasa bahagia dan sekarang sembilu perih kembali hadir mewarnai kehidupannya.


Zayn menetap lekat pada wajah Gita. Jelas terlihat bahwa ada perubahan ekspresi di wajah yang semula ceria itu.


"kamu kenapa?" tanyanya lembut menghadirkan usapan kecil di sisi wajah cantik itu.


Gita menggeleng kecil, "aku nggak apa-apa." Seraya menyisihkan jangkauan jemari Zayn dari wajahnya.


"Besok aku akan kenalin lagi kamu sama bunda dan keluarga aku yang lain.


Kamu cepet sembuh ya," ucap Zayn penuh kasih.


Gita tercekat, "kenapa semuanya serba bertubrukan? alur kehidupannya begitu kacau dan sekarang berbanding terbalik dari biasanya.


Ia masih ingat bahwa kehadirannya tak pernah diterima di tempat itu.


Dan keputusannya untuk pergi sudah ia bulatkan seiring waktu yang serasa mencampakkan niat baiknya.


Gita menggeleng lemah, "Zayn, kurasa kita tak harus seperti ini." ucapnya bergetar.


Jelas ada sakit yang ia tahan dalam lubuk hatinya


"Kenapa kamu ngomong gitu?" Zayn dilanda dilema. Bukan kah gadis ini begitu mencintainya? Lantas kenapa ia malah menolak keinginan tulusnya?


"A-aku harus pergi Zayn," ucapnya lirih.


Zayn beringsut mundur, menjauhkan sisi tubuhnya yang semula lebih condong merapat ke tubuh gadis yang mulai ia cintai.


Berkali ia menggelengkan kepalanya, menolak setiap kata yang Gita ucap untuknya.


Tangis, hanya Isak tangis yang mewarnai suasana hening itu.


Sakit dan juga sedih, karna hadirnya cinta tak tepat pada waktunya.


"Kita jalanin dulu, Zayn.


Mungkin perpisahan adalah hal yang terbaik yang di takdirkan Tuhan untuk kita," ucapnya sembari terisak.


Zayn memilih beranjak, pergi menjauh dari hadapan gadisnya itu.

__ADS_1


Melenyapkan segala kenyataan pahit yang perlahan mulai menilik dan merangseknya untuk berhenti berjuang akan cinta yang barusaja ia sadari.


__ADS_2