Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
28.


__ADS_3

Hadiah terakhir.


Di jam makan siang kantor.


Gita terlihat lahap menikmati hidangan makan siangnya di kantin. Perutnya terasa lapar sebab sedari pagi hanya sempat terisi oleh segelas minuman sereal hangat kesukaannya.


Sejenak kunyahan mulutnya terhenti, saat tiba-tiba di hadapannya duduk seorang pria yang sangat familier baginya.


Gita meletakkan sendok yang masih tersisa sesuap nasi di atasnya.


Dengan segera ia meneguk segelas teh hangat guna menghilangkan rasa dahaga di kerongkongannya.


"Maaf pak. Ada yg bisa saya bantu?" ucapnya formal pada sosok Rizal yang tampak tenang.


Ia melihat arloji di tangannya, lalu kemudian bertutur kata. "Masih ada waktu untuk kita bicara sebentar, nona."


Gita mengagguk pelan. Telinganya terbuka lebar guna mendengar pembicaraan yang kelihatannya mulai serius.


"Singkat saja. Saya harap kamu menjauh dari anak saya," ucapnya langsung pada inti pembicaraan ini.


Gita menaikkan sudut pandangnya, menatap lekat pada pria tua yang terduduk di hadapannya ini.


"Kenapa? kenapa saya harus menjauh dari dia?" tanya Gita mencoba tenang.


"Saya sudah dengar semuanya dan saya harap hilangkan semua ambisi kamu menyangkut pernikahan." jelasnya penuh penekanan.


"Ck, ambisi? tau apa bapak soal ambisi saya?" lantangnya tegas.


Rizal menggeleng pelan, "saya tau kamu dan begitupun dengan ibu kamu. Kalian memiliki sisi yang sama."


"Jangan samakan saya dengan mami saya. Anda tidak cukup lama mengenal kami.


Apapun itu, terserah apa yangada dalam pemikiran anda."


Rizal mengeluarkan sebuah amplop dari dalam jasnya. "Terimalah, dan pergi sejauh mungkin dari kehidupan anak saya."


Ucapan itu membuat Gita seketika tercekat, "seperti inikah rasanya tak di inginkan?"


Semua orang menginginkan kepergiannya, menjauh dari cinta dan kasihnya yang telah tersemat di hati pria pujaannya. Yang tak lain adalah Zayn.


"Ambil!" titah Rizal menyodorkan amplop itu kehadapan Gita.


Jemarinya bergetar dan perlahan mulai menjangkau isi amplop itu.


Netranya membulat saat ia mendapati ada beberapa dokumen-dokumen penting yang ada di dalamnya.


"Apa ini?" tanya Gita bingung.

__ADS_1


"Dokumen resmi yang akan mengantar mu ke tempat baru, nona. Kau bisa memulai hidup baru disana dengan orang baru, dan juga meredam perasaan mu terhadap putra ku."


"Ha? kenapa Anda harus repot-repot sampai seperti ini?


saya bisa mengurusnya sendiri tanpa bantuan anda!"


Rizal hanya tersenyum tipis, "ini sebagai hadiah untukmu.


Kau bisa pergi tiga hari lagi, dan ku harap kau tak melewatkan jam penerbangannya nona."


Gita mengagguk pasrah, "terimakasih," ucapnya lirih.


Rizal mengangguk pelan, sudut bibirnya kembali terangkat, "semoga kau tidak mewarisi bakat buruk ibumu, nona. Karena aku yakin kau adalah perempuan yang berhati teguh dan bukan manusia bersifat menyedihkan seperti indah, ibumu."


Rizal menegakkan tubuhnya, lalu kemudian pergi dari tempat itu meninggalkan Gita yang masih menatapnya sendu hingga punggung pria itu benar-benar hilang dan tak lagi terlihat di hadapannya.


Pandangannya mulai kabur, matanya kembali memanas begitupula dengan hatinya yang kembali meronta.


Bulir hangat kembali hadir berjatuhan di wajah cantiknya.


Pergi bukanlah merupakan suatu pilihan yang buruk baginya untuk saat ini.


Gita mulai beranjak, langkahnya lunglai membawanya kembali ke dalam perusahaan.


Wajahnya terlihat suram tapi air matanya sudah terhenti sejak beberapa saat yang lalu sebelum ia sampai di depan ruangan Zayn .


Jantungnya berdebar, sesaat sebelum jemarinya mengepal memberi ketukan di pintu ruangan Boss nya.


Gita meneguk salivanya berulang, sementara jemarinya sudah menggenggam surat pengunduran diri yang akan ia ajukan pada Zayn nanti. "yakin git! yakin," ucapnya menyemangati diri sendiri.


"Selamat s-sore boss," ucapnya sesaat setelah masuk menghadap sang atasan.


" Ada perlu apa?" ucap Zayn dingin.


" Itu, saya ingin mengundurkan diri dari perusahaan."


Zayn masih terdiam, wajahnya terlihat sedikit bingung dengan keputusan yang begitu mendadak. "Atas dasar apa? berikan saya alasan."


"Saya setuju dengan penawaran yang bapak berikan tempo hari. Sesuain dengan perkataan bapak sebelumnya, saya akan pergi ke luar negri dan memulai hidup baru di sana." tuturnya yakin.


Zayn mengagguk mengerti, " nggak usah pake bahasa formal, cuma ada kita disini.


Kapan Lo berangkat?" tanya Zayn menyimak dengan serius.


"Tiga hari lagi."


"Ke?"

__ADS_1


Gita menggelengkan kepalanya pelan, "cukup gue yang tau . Lo cukup doain gue dari sini."


Zayn terkekeh mendengarnya, "perlu gue anter ke bandara nggak?" tawarnya sembari tersenyum.


Gita terdiam. Kenapa gue ngerasa berat banget buat pergi dari hidup Lo sih, Zayn?


Padahal gue tau, nggak ada nama gue di hati Lo.


"Enggak perlu, gue bisa sendiri."


"Hati-hati. But the way , Lo masih ada waktu dua hari lagi di sini sebelum Lo beneran pergi ke LN, kan?"


"Yap! gue bakalan berterimakasih banget sama Lo, kalo seandainya lusa Lo bisa dateng ke tempat gue."


"untuk?


"Makan malam mungkin! gue bakal masak semua makanan kesukaan Lo."


Zayn terlihat bimbang, "just have dinner?"


Gita mengagguk pelan, "ya, dinner terakhir sebelum gue pergi dari sini."


"okay, as you wish!" ucapnya sembari tersenyum.


"Thank! kalau gitu saya undur diri dulu pak.


Permisi." pamit Gita beranjak meninggalkan ruangan Zayn.


••••••••••


Gita termenung diam di dalam kamar yang ber nuasna biru gelap itu.


Ia mengirup dalam aroma sang pemilik yang masih tertinggal di dalam sana.


Ia merebahkan tubuhnya pelan di ranjang kamar Zayn.


Kamar yang sudah tak di huni lagi oleh sang pemiliknya.


Rindu perlahan mulai kembali hadir tersirat dalam angannya.


Ia kembali bangkit menyusuri setiap ruang yang terlihat ada gambaran Zayn yang hadir di sana.


Matanya tertuju pada meja makan tempat pria itu selalu menunggunya menyelesaikan hidangan buatannya.


Senyum tipis kembali terukir seiring dengan hatinya yang mendadak perih.


"Haruskah aku menjadi licik untuk mendapatkan mu, Zayn? gumamnya dalam sendu.

__ADS_1


Hmm, seriusan author nanya!


Apasih alasan kalian sampai begitu benci dengan Gita? butuh jawaban. 🙄🙄


__ADS_2