Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
27.


__ADS_3

Kekecewaan.


Di ruang keluarga, Gita masih di kerumuni oleh beberapa orang yang menatapnya dengan penuh kebencian.


Terlebih lagi sorot mata tajam milik Keyra.


Ia seolah tercabik, lebur, dan kicep jika di hadapkan dengan wanita yang lebih tua empat-tahun darinya itu.


"Jadi benar, kamu yang menyerang istri dan anak saya?" Raka mulai membuka suara.


Gita mengagguk pelan. Suara Raka membuat bulu kuduknya meremang.


Gugup dan takut yang begitu dahsyat membuat jemarinya yang bertautan terasa semakin dingin.


"Lantas, apa tujuan mu sekarang?"


"Saya hanya meminta Zayn untuk menikahi saya om."


"Atas dasar?" tanya Raka memburu.


"Karna, kesucian saya ..."


"Stop! saya udah paham.


Tapi satu yang harus kamu ngerti di sini ya, nak Gita.


Terkadang seseorang begitu ceroboh dan melakukan banyak kesalahan saat emosi sudah mengambil alih kendali kesadaran yang kita punya.


Sedangkan kamu tahu betul, anak saya berlaku seperti itu ke kamu sebab dendam yang telah lama ia pelihara.


Dan sumbernya adalah ibu kamu sendiri."


"Tapi om, bagaimanapun saya adalah korban di sini." Sanggah Gita tak terima.


"anak saya juga korban, dan ia memelihara sakitnya hingga ia tumbuh dewasa.


Ayolah! Jangan egois. Lagipula Zayn mengeluarkan banyak pundi-pundi uangnya untuk meminta kamu, bukan dengan cara cuma-cuma."


Deg! Gita serasa jatuh dari ketinggian tebing curam yang seketika meluluh lantakkan seluruh jiwa raganya.


"Bagaimana pria ini begitu kejam?" batinnya lagi.


Parasnya yang tampan ternyata berperan untuk menutupi lidahnya yang begitu tajam.


Gita meremat jemarinya kasar, darahnya serasa kembali mendidih saat mendapat penolakan keras atas kehadiran dirinya.


"Bagaimana jika seandainya yqng di posisi saya adalah anaknya om?" tantang Gita hendak memulai perdebatan.


"Itu tidak akan pernah terjadi. Karena saya tidak memiliki musuh atau dendam pribadi di masa lampau.


Dan kalau-pun putri saya berlaku seperti itu, saya akan meminta pertanggung jawaban dari pihak lain. Jika memang itu pantas."

__ADS_1


"Pantas? jadi saya nggak pantas, begitu maksut om?" sulut gita terpancing emosi.


"Ck, sopan santunnya mana sih mbak? inget orangtua loh yang jadi lawan bicaranya," cibir keyra yang kembali tersulut emosi.


"Kita pulang!" intrupsi tegas itu mengehentikan suara gita yang sudah berada di ujung lidahnya.


Gita mengagguk patuh. Sebelum ia pergi, ia sempat kan lagi untuk bersalaman dengan Raka dan ayu. Di kecupnya lembut jemari mereka untuk pertemuan yang singkat ini.


"Assalamualaikum, Zayn pamit bund."


"Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan," ucapnya dengan senyum manis di bibirnya.


•••••••••


"Jadi gimana, bunda setuju nggak?" tanya Gita sembari merebahkan dirinya di sofa .


Zayn acuh. Ia melangkah lebar menuju kamarnya lalu menutup pintunya rapat-rapat.


"Lhah! di tanya malah melengos, gimana sih!"


Lima belas-menit telah berlalu dan Gita masih asik selonjoran kaki di atas sofa. Sesekali matanya mengendar melirik pintu ruang atas yang masih tertutup sempurna.


"Lhoh, mau kemana?" tanya Gita saat melihat Zayn yang keluar dari kamarnya dengan sebuah koper besar berada di genggamannya.


"Mau kemana? tanya Gita lagi seraya menarik paksa pergelangan tangan Zayn.


Zayn tersenyum kecut. Ia meletakkan kopernya kembali dan duduk tenang di atas sofa di ikuti Gita yang sudah menatapnya dengan mata sendu.


"Gue mau pindah."


Zayn menggeleng pelan, "ini udah jadi milik Lo. Lo bebas tinggal di sini sampai kapanpun Lo mau."


"Maksut Lo apa sih, Zayn? Lo mau pergi? sungutnya tak terima.


"Iya. Sorry git. Sumpah gue nggak bisa. Sorry banget."


Gita mundur selangkah, hatinya berdenyut sakit. "Kenapa?"


"Gue nggak ada rasa sama Lo." tuturnya jelas memalingkan wajahnya.


"Rasa bisa tumbuh kapanpun Zayn."


"Tapi gue yang nggak bisa, Git. Nggak ada se-persen pun rasa sayang gue buat Lo."


"Brengsek Lo!" makinya kesal. "Kenapa nggak Lo bunuh aja gue sekalian kalo ujung-ujungnya gue juga yang harus nahan beban di sini."


"Hei! dengerin gue. Lo bebas, Lo nggak harus terikat sama gue," ucap Zayn seraya memegangi kedua bahu gadis itu.


******plaaakk******! satu tamparan keras ia layangkan di wajah tampan itu.


"Hadiah perpisahan," ucap Gita mencoba tenang.

__ADS_1


"Gue terima. Thanks!" ucap Zayn melenggangkan kakinya santai.


"Gimana nasip gue?" teriak Gita sebelum Zayn benar -benar keluar dari pintu apartemennya.


"Lo bebas!" ucap Zayn sekali lagi.


"Bukan itu, tapi nasip masa depan gue."


"Lo bisa cari cowok lain yang lebih baik daripada gue, Git."


"Mana ada cowok yang mau sama cewek kotor bekasan kayak gue!" teriaknya histeris.


"C**ome on! dunia nggak sesempit itu.


Kalo Lo mau gue bisa cariin satu yang bisa nerima Lo apa adanya."


"Ini Indonesia Zayn, bukan Amerika." Isaknya terdengar tertahan.


"Gue bisa kirim Lo ke Amerika, kalo Lo mau." ucap Zayn memberikan penawaran.


Gita terdiam.


"Nih, simpen." ucap Zayn seraya memberikan dua kartu black card ke dalam genggaman tangan Gita.


"T-tapi yang kemarin masih ada di gue,"


"Simpen semuanya. Itu bisa bantu kehidupan Lo kedepannya.


Dan, sorry banget soal ini git."


"Kenapa Lo nggak bisa nyoba hubungan sama gue, Zayn? padahal gue udah kasih semuanya ke-Elo, Zayn.


Please jawab!" tuntut Gita untuk terakhir kalinya.


" Lo bukan yang pertama di hidup gue git.


Dan lagi, Lo salah. Hubungan bukan untuk ajang percobaan. Makanya gue lebih milih buat lepasin Lo, bebasin Lo dari segala kekangan."


"Tapi gue seneng deket sama Lo Zayn, gue nggak terkekang sama sekali." sanggah Hanum mencoba meyakinkan Zayn, lagi.


"Sekarang iya. Tapi nggak tahu setahun, dua tahun, atau lima atau bahkan sepuluh tahun lagi. Lo nggak akan tahu git.


Dan gue nggak mau cuma kasih harapan kosong buat Lo."


Gita tertunduk lemah. matanya kembali berkaca-kaca.


"Sorry git, gue pergi." ucap Zayn yang benar-benar keluar dari pintu apartemennya.


Hancur sudah, tiada bersisa.


Gita masih terpaku, netranya masih menatap pintu yang barusaja Zayn lalui untuk terakhir kalinya.

__ADS_1


Sesekali bulir air matanya jatuh membasahi wajahnya.


Sakit seribu sakit, hatinya benar benar patah tertindas oleh penolakan.


__ADS_2