Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
65.


__ADS_3

Bersua dengan sang ibunda.


Hari sudah beranjak siang dan gadis itu masih mengurung dirinya di dalam kamarnya. Lelah ia menunggu, mengetuk pintu, memohon maaf. Namun, Gadis itu tak urung juga membukakan pintu untuknya.


Secarik kertas terselip di bawah pintu.


"Babe, aku tinggal ke rumah bunda sebentar ya! Aku tau kamu marah, tapi aku nggak akan pernah bosen untuk minta maaf. Baik-baik di rumah, tunggu aku pulang."


Gadis itu menghela napasnya panjang usai membaca isi pesan singkat itu. Emosinya telah sirna setelah seharian ini ia menghabiskan waktunya mengurung diri di dalam kamar. Di tatapnya sekeliling, dan ia mendapati apartemen itu telah kosong. Pria itu telah pergi.


•••••••••••••


Di kediaman sang ibunda.


Zayn memacu mobilnya lambat dan memarkir kendaraannya dalam garasi keluarga.


Ia melangkah santai, turun dari mobil seraya membawa beberapa bingkisan yang telah ia siapkan untuk semua anggota keluarganya.


"Assalamualaikum ..." ucapnya sembari mengetuk badan pintu sebanyak tiga kali.


"Waalaikumsalam," sahut seseorang dari dalam sana. Suara lembut itu selalu Zayn kenali. Meski wujudnya belum terlihat, namun ia hafal betul suara yang mengalun lembut itu adalah milik sang ibunda.

__ADS_1


Zayn meletakkan semua bingkisan yang berada dalam genggamannya. Ketika ia melihat sang ibunda yang masih mematung di kejauhan, menatapnya penuh haru dan rasa rindu. Segera ia berjalan cepat menghampiri sang ibunda tercinta. Ia berlutut di bawah kakinya, bersujud memohon maaf atas segala sesuatu yang mungkin saja masih menorehkan luka di hati sang ibunda.


Wanita paruh baya itu bergeming, ia terisak sesekali mengusapkan jemarinya lembut ke surai hitam anak sulungnya itu.


"Kau sudah kembali?" ucapnya lirih dengan isaknya yang tertahan.


Zayn hanya mengangguk kan kepalanya, pria itu sangat rindu dengan sang ibunda. Sangat rindu hingga air matanya pun juga ikut menetes ketika ia mendengar isak pilu sang Ibunda.


"Maaf bund, maaf.." ucap Zayn pilu.


Ia masih merengkuh kan lengan kokohnya di bawah kaki sang ibunda. Bersimpuh di sana hingga wanita yang telah melahirkannya itu bersedia memaafkan kesalahannya.


"Jangan begini kak, berdiri lah!" ucapnya sembari menarik pelan tubuh anak sulungnya itu untuk segera berdiri.


Dengan patuh itu duduk di sana, berdampingan dengan sang ibunda yg masih menatap nya sendu dengan mata berkaca. Suasana menjadi hening. Ayu dengan kebisuannya dan Zayn masih terdiam sembari memandangi wajah sang ibunda tercinta.


Pria itu menghadirkan pelukan hangatnya, mendekap sang ibunda tercintanya dengan penuh kasih. "Bunda, apakah masih ada rindu yang tersimpan untuk anakmu ini?" ucap Zayn dengan suara serak. Pria itu menahan sengguk pilu yang terasa mencekat di tenggorokannya, ia menahan kepiluan mendalam.


"Rindu, bahkan sangat rindu hingga bunda tak pernah bosan untuk mendoakan kepulangan mu kak!" ucap ayu dengan derai air matanya. "Jangan pergi lagi, jangan tinggalkan bunda sayang ..."


Zayn menggelengkan kepalanya pelan, ia melepaskan pelukannya dan menangkup wajah ayu dengan lembut. "Nggak akan lagi bund. Kakak janji."

__ADS_1


Ke duanya kembali berpelukan, saling menyalurkan buai kasih di antara seorang ibu dan juga seorang putra. Permohonan maaf telah di terima, duka telah sepenuhnya sirna. Hilang lah sudah segala kecamuk rasa kecewa, dan hadirlah binar bahagia yang kembali menghangat kan suasana.


•••••••••••


"Kak, apakah kau sudah menemukannya?" tanya ayu sembari melirik ke arah Zayn yang tengah fokus dengan pisau di tangan nya.


Pria itu mengehentikan gerakan memotongnya, "Siapa?" tanyanya berpura tak tau.


"Gadis itu,"


Zayn menghela napasnya panjang, ia meletakkan pisaunya dan meraih jemari sang ibunda. Di tatapnya manik hitam sang ibunda dalam-dalam. "Apakah bunda masih membencinya?" tanyanya lirih, penuh kelembutan.


Ayu bergeming, wanita itu masih menatap manik coklat sang putra yang terlihat meredup, sayu dan juga bimbang. "Apakah kau akan tetap memilihnya? sebagai pendamping mu?"


Zayn tersenyum miris, senyum penuh keterpaksaan yang ia hadirkan guna menenangkan hati sang ibunda tercintanya. Karna ia tau bahwa hasilnya akan tetap sama seperti tahun-tahun sebelumnya dan ia tak akan mungkin untuk meminang gadis pujaannya itu. "Tidak, jika itu bisa membuat bunda bahagia. Aku tidak akan menikah dengan siapa pun. Asal Bunda selalu bersedia melihatku, menyayangi ku dengan sepenuh hati. Aku rela bund," jawabnya lirih sembari menundukkan kepalanya. Pria itu kembali menitikkan air matanya. Tak kuasa menahan kepiluan di antara ke dua orang terkasihnya. Di hadapkan oleh sebuah pilihan antara bunda dan juga sang kekasih, membuat ia bimbang di landa dilema. Namun ia tak akan lupa, bahwa kasih dan cinta pertama nya adalah bunda, bunda, dan bunda. Wanita itu jauh lebih berharga daripada siapapun yg ada dalam hidupnya.


Sentuhan lembut di pipinya, membuat Zayn kembali mengangkat kepalanya perlahan. Di tatapnya wajah sang ibunda yg tersenyum bahagia. "Bukankah ini terlalu egois?" ucap wanita itu dengan pertanyaan penuh ambigu.


Ayu menggelengkan kepalanya perlahan, ia mengusap surai sang putra dengan sayang, "Nggak kak! di sini bunda yg salah, bunda terlalu egois. Mata bunda selalu tertutup oleh luka serpihan masalalu. Hingga tanpa sadar, bunda malah menghakimi kamu dan juga gadis itu," ucap ayu dengan penuh penyesalan. Ia menghela napasnya panjang, sebelum akhirnya ia berucap kembali, "Bawa dia kemari, pertemukan dengan bunda dan juga keluarga yg lain. Jangan tunda lagi, hubungan kalian telah terjalin sejak lama, dan ... bunda berharap, kakak bisa berbahagia dengan pilihan kakak."


Zayn terhenyak, terdiam untuk beberapa detik, mencerna baik-baik ucapan dari sang ibunda yg baru saja ia dengar. Wajahnya mendadak pias, ia terharu sekaligus bahagia. Ibundanya telah luluh, dan sepenuh hati menerima segala keputusan nya. "Terimakasih bund, terimakasih," ucapnya seraya bersujud di bawah kaki sang ibunda. Menyembah di bawah sana seraya mengucapkan rasa terimakasih yang tiada habisnya.

__ADS_1


Ayu menganggukkan kepalanya, ia membawa Zayn dalam dekap hangat nya. Memeluk sang putra dengan penuh curah kasih, "Berbahagialah, bunda merestui mu."


Sekian ....


__ADS_2