
Cemburu buta
"Bajing*an! minggir kau!" pekik Zayn yang langsung merangsek masuk dan menarik kerah baju Alex dengan kasar.
Ia menyeretnya menjauh dari Gita yang nampak tak sadarkan diri, tengah terbaring di atas sofa bulu. Wajahnya nampak bersemu merah dengan rintihan lirih yang keluar dari mulutnya.
"Apa yg kau lakukan ha?" Ucap zayn dengan kemarahan nya yang tak lagi terbendung. Pikirannya terlanjur buta dan inginnya hanyalah untuk menghabisi pria brengsek yang mencoba menyentuh wanitanya.
"Aku hanya me .."
"Halah! persetan." Ucap zayn menyela penjelasan yang hendak Alex tuturkan padanya.
Kepalan tinjunya semakin menghujam kuat dan serasa puas setelah mendaratkan bertubi pukulan ke tubuh Alex yang nampak tak berdaya.
Sedikit pun ia tak memberikan perlawanan. Alex dengan sukarela menerima pukulan keras yang di layangkan Zayn kepadanya.
Setelah drama kekerasan itu selesai. Ia meringis menahan ngilu yang merambati area bibirnya. Belum lagi wajahnya yang memar-memar dan juga perutnya terasa nyeri akibat bogem mentah yang dilayangkan Zayn padanya.
Jemarinya bergerak pelan menyentuh sudut bibirnya yang terasa perih. Ada seberkas noda darah yang menempel di sana, beberapa sudut bibirnya itu telah terkoyak akibat tinju yang di layangkan Zayn dengan membabi buta.
"Katakan! apa yg kau lakukan padanya? hmm!!" sarkas Zayn seraya mengeratkan cengkraman nya pada kerah baju Alex.
Zayn mengalihkan pandangannya ke belakang, menatap nanar pada Gita yang masih terbaring tak berdaya dengan mata terpejam dan bibir yang sedikit terbuka. Bajunya yang terbuka dan juga posenya yang sedikit menggoda, membuat gelenyar birahinya sedikit mencuat tatkala wajah polos itu seakan sedang merayunya untuk melakukan sesuatu.
Sorot matanya kembali teralih dan kembali fokus pada sosok Alex yang sudah babak belur olehnya. Netranya masih memerah, memendam kemarahan dengan hasrat keji yang seolah belum tersalurkan sepenuhnya.
Ia masih belum puas ...
Melihat Zayn yang seolah tak terkendali, Alex hanya bisa terkekeh sembari mengulas seringai ejekan.
"Apa yang kau pikirkan. Hmm!" ucapnya tenang sembari melepas cekalan tangan Zayn dari kerah baju miliknya.
Alex mengibaskan tangannya seolah menyingkirkan sebuah noda di pakaian nya.
"Kau berpikir terlalu jauh Mr.Zayn!" imbuhnya lagi.
Alex kembali mendekatkan dirinya dan merangkul Gita dengan intens.
Gadis itu menggeliat nyaman seiring kulitnya yang bersentuhan dengan tubuh Alex. "Aku hanya berniat membantunya."
"Keparat! lepaskan tanganmu darinya!"
__ADS_1
Zayn bergerak cepat mengambil alih paksa tubuh Gita dari rengkuhan Alex. Mendorong paksa tubuh tegap itu untuk menjauh dari Gita dan menghempaskan nya kasar hingga terduduk ke lantai.
"Git. Gita .. Hey!" Zayn mengguncang pelan tubuh Gita untuk membuatnya terjaga.
Namun sial kesadaran gita tak kunjung juga kembali.
Zayn berdecak kesal, sementara netranya kembali menajam seolah memberi tusukan tajam pada Alex yang tengah menatapnya dengan tampang anehnya.
"Kau harus segera menanganinya Mr.Zayn.
Kalau kau sampai terlambat maka reaksi berlebihan bisa saja menyerang otak dan membuat syaraf pusatnya menjadi terganggu.
Seketika tubuh Zayn menegang, gadisnya telah di beri obat? ******** mana yang berani melakukan perbuatan keji seperti ini pada gadis lugu seperti Gita?
Zayn kembali mengarahkan tatapan membunuhnya kepada Alex. Membuat pria itu menundukkan kepalanya sesaat tatkala kengerian merambati tubuhnya dengan tiba-tiba. Ekspresi itu membuat ia sedikit berdebar dilanda ketakutan.
"Bukan aku." Elaknya cepat. "Bukan aku yang memberinya obat. Lagi pula dia wanitaku, aku akan mengurusnya." Alex hendak menjangkau kan kembali rengkuhannya ke tubuh Gita, namun dengan cepat tangan Zayn segera menampik kasar uluran tangan pria itu dari tubuh Gita.
"Singkirkan tangan mu darinya!
Satu hal yang perlu kau ketahui Alex. Gita adalah wanitaku dan selamanya akan seperti itu. Minggir, dan jauhi dia.
Semakin kau menjauh, semakin baik pula demi kelangsungan hidup mu." Ancamnya tegas dengan seringai kejamnya yang tak main-main.
Pikirannya masih berkecamuk bingung, "Bagaimana Gita bisa menjadi wanitanya?
Bukankah mereka baru bertemu hari ini?"
Mendadak hatinya menjadi risau, benaknya di isi oleh pekatnya ancaman bernada kejam yang terus terngiang di telinganya.
Ia mengacak rambutnya frustasi. Hatinya mengumpati kebodohannya sendiri.
Ia begitu tamak dan berpikiran instan demi mendapatkan Gita seutuhnya.
*****
Di dalam mobil yang ia kendarai. Zayn nampak pucat ketika melihat tubuh Gita kembali bereaksi. Sungguh, pemandangan ini membuat ia menjadi gerah dan membuat miliknya menjadi sesak di bawah sana.
Sekuat tenaga berusaha mengendalikan setir kemudinya dan mempercepat laju kendaraan nya hingga sampai di sebuah villa resort yang ia tinggali.
Dengan sigap ia membopong tubuh lunglai berhawa panas itu masuk ke dalam villanya.
__ADS_1
Ia seolah acuh ketika para pelayan yang berada di kediamannya itu memberikan sambutan hangat dan juga penghormatan lembut terhadapnya.
Ia hanya ingin bergegas untuk segera menyelamatkan Gita sebelum hal buruk terjadi padanya.
Jemari Zayn masih menepis setiap sentuhan dari jemari Gita yg masih bergerak liar menjamah bagian dadanya.
Ia terusik , dan ini bukanlah suatu berkah baginya.
Gadis ini berada dalam pengaruh obat, dan sialnya harus dia yang menjadi kelinci bodoh yang harus menahan syahwat birahinya ketika tubuhnya mendapat sebuah rangsangan dari seorang wanita.
"Git! sadar git," Zayn menepuk-nepuk wajah gadis itu perlahan. Inginnya segera membuat gadis itu sadar dan melihat apa yang sudah di lakukan Gita terhadapnya.
Zayn menyugar rambutnya kasar. Ia masih mencoba bertahan menahan gelenyar syahwat yang mulai merayapi nalurinya. Jual sampai ia ikut terjerumus maka masalahnya pasti menjadi rumit. Zayn menghela napasnya panjang, bersiap melakukan sedikit kekerasan dengan mencekal kuat pergelangan tangan Gita dan menguncinya di dalam genggamannya agar gadis itu tetap diam dan tak lagi menggerayangi tubuhnya.
"Shhh .. sakit!" desisnya lirih.
Namun suara itu terdengar seperti sebuah undangan bagi Zayn.
Suara berat dan ... seksi yang selalu ia rindukan.
Semakin membangkitkan keinginan yanh sedari tadi berusaha ia lawan.
Hasrat kelelakian nya ingin sebuah pelepasan, namun akal sehatnya mencoba meronta melawan segala hawa nafsunya.
"Zayn!" panggil Gita dengan pandang mata sayu. "Benarkah, ini kau?" tanyanya lagi.
Zayn mengagguk pelan, "Ini aku."
"Aku rindu, sangat rindu sampai aku harus membekukan rasa hatiku padamu. Maaf!" ucap gadis itu lirih.
Zayn terdiam, matanya menatap lekat pada bola mata indah yang masih berbalut kabut hasrat di dalamnya. Sementara jemarinya sudah menghadirkan belai lembut di wajah cantik seorang Gita, dimana Zayn terus saja merindukan momen kebersamaan mereka.
Gadis itu sudah di sini, di bawah kungkungan lengannya dan lagi ia terbuai oleh rangsangan obat.
"Aku juga merindukanmu." Bisik Zayn tepat di telinga Gita.
Hembusan napas panasnya membuat bulu halus gadis itu meremang.
Semburat merahnya kian nampak menghiasi rona pipinya, menambah kesan lain yang tak bisa lagi di deskripsikan oleh Zayn. Pria itu juga telah di balut oleh ketengangan.
Inginnya kian menggebu, menyisihkan akal sehatnya yang perlahan runtuh kalah oleh jiwa nalurinya.
__ADS_1
"Bolehkah aku memintanya sekali lagi?"