
Di Minggu pagi yang cerah, dimana suasana lengang terasa di kediaman keluarga Zayn.
Denting suara sendok yang beradu dengan piring semakin menambah riuh suasana dapur.
Di balik pantry dapur itu seorang wanita muda berbalut dengan apron bunga-bunga khas musim semi nampak sibuk berkutat dengan kegiatan pagi di dapurnya. Menyiapkan sarapan pagi guna putranya yang selalu bersemangat untuk menyantap hidangan yang di siapkan oleh sang momy.
Asraf, begitulah Gita dan Zayn memanggilnya.
Saat ini putra sulungnya itu sudah berumur lima tahun. Sosok pria mungil berambut hitam legam dengan bola mata berwarna serupa yang selalu mewarnai hari-hari indah mereka sebagai orangtua.
Sesosok bocah lucu yang selalu menjadi penawar lelah bagi Zayn ketika ia pulang dari segudang aktifitasnya di luar rumah.
Keluarga kecil yang bahagia, penuh canda dan juga kehangatan seperti yang mereka impikan sejak lama.
Hanya ada ketenangan tanpa adanya orang luar yang mengacaukan kehidupan damai mereka.
"Momy," suara lirih itu terdengar mengalun manja memanggil Gita yang masih menyiapkan sepiring sarapan yang sudah selesai ia masak.
Aroma wangi kuah sup ayam yang menguar di udara semakin membuat Asraf gencar memainkan sendok di tangannya.
Menimbulkan bunyi-bunyian nyaring yang ditanggapi dengan senyum sumringah dari Zayn dan juga Gita.
"Momy, hurry up I'm hungry," ucap Asraf dengan semangat.
"Sabar sayang," Zayn berucap tenang seraya mengusap lembut puncak kepala putranya itu dengan sayang.
Sedang netranya kembali teralih pada sosok Gita yang nampak kepayahan membawa semangkuk sup di tangannya.
__ADS_1
Wanita itu masih terlihat cantik meski dengan postur tubuhnya yang tak seramping dulu.
Tubuhnya terlihat lebih berisi dengan bagian perut membuncit yang berisi janin dalam kandungannya.
Ya, wanita itu tengah hamil.
Ia mengandung lagi untuk kali kedua setelah usia putra pertamanya di rasa cukup untuk memiliki seorang adik.
Dengan cepat Zayn segera beranjak dari duduknya menghampiri sang istri seraya mengambil alih semangkuk sup dari tangan Gita.
Lalu kemudian ia juga dengan sigap membantu istrinya membawakan hidangan yang lain ke meja makan.
Seperti itulah suasana pagi di rumah mereka.
Dimana mereka selalu menikmati kesibukan atau hal-hal kecil yang diminta oleh putranya.
Asraf selalu meminta makanan hasil dari olahan tangan momy-nya.
Ia tidak suka jika harus menyantap hidangan sajian dari koki rumahnya atua sajian lain. Baginya masakan momy-nya adalah yang paling membangkitkan selera makannya namun, ia akan mentolerir dan menyantap hidangan lain jikalau momy-nya sedang kurang sehat ataupun ada kesibukan lain yang tak dapat di tunda.
Ia memakluminya dan mengerti akan kesibukan orang dewasa dan tak selalu menuntut hal-hal remeh ketika memang tidak ada waktu bagi keinginan kecilnya.
"Makanlah," ucap Gita seraya mengangsurkan sajian sarapan pagi ke hadapan putranya.
Senyumnya tertoreh tipis ketika melihat betapa lahapnya Asraf ketika menyantap sajian dari tangannya.
"Apa kau suka, Asraf?" tanyanya lagi sembari menopangkan dagunya.
__ADS_1
"Hm, aku selalu suka apapun asalkan momy yang membuatkannya untuk ku," jawabnya singkat kembali menyantap sarapannya.
Gita tertawa lirih lalu kemudian ia kembali bertanya lagi, " apakah nanti kau akan marah jika momy tidak bisa memasakan sesuatu untuk mu ketika adik bayi kita lahir?" tanyanya dengan nada lembut.
Jujur ini pertama kali baginya menanyakan pertanyaan seperti itu kepada putra sulungnya. Mengingat bahwa usianya masih lima tahun dan ia juga khawatir akan kecemburuan yang mungkin saja hadir dalam hati Asraf.
Asraf menghentikan gerakan jemarinya dan meletakkan peralatan makannya dengan tenang. Lalu kemudian ia memalingkan wajahnya menatap Gita yang masih memandanginya dengan tatap mata teduh.
"Aku tidak akan marah momy, aku akan sangat senang meskipun momy tidak lagi bisa membuatkan ku makanan.
Aku akan berusaha makan apapun asalkan bisa melihat momy dan adik bayi kita terlahir dengan sehat. Jangan cemaskan aku momy," ujarnya seraya mengusap lembut kedua pipi tembam Gita.
Senyumnya tertoreh lebar menapakkan susunan gigi putihnya lalu kemudian menghadirkan kecupan kecil di pipi Gita, "love you mommy, don't worry about me," ujarnya yang sedikit membuat Gita menjadi terharu.
Gita tersenyum lembut seraya merengkuhkan lengannya untuk memeluk putranya.
Ia bahagia memiliki seorang putra penuh pengertian dan juga suami yang juga memiliki sifat serupa.
Seperti katanya, 'jangan khawatirkan aku' putra sulungnya masih berusia lima tahun dan ia sudah bisa menenangkan hatinya.
Ibu mana yang tak akan bahagia ketika mendengarnya.
Zayn yang sedari tadi hanya diam dan mengamati interaksi antara kedua orang yang ia cintai itu kini juga ikut tersenyum.
Ia bangkit dari duduknya dan ikut menghadirkan pelukan cinta untuk istri dan juga anaknya.
"Kami bahagia karena Tuhan telah menghadirkan mu di tengah-tengah Daddy dan mommy, mengisi segala kekurangan di antara kami dan juga menyempurnakan kehidupan kami. Terimakasih sayang, kalian berdua sangat berarti bagi Daddy," Zayn berucap lirih, lalu kemudian ia memberikan kecupan manis di kening putra dan juga istrinya. Kecupan sayang yang ia lakukan secara bergantian. Menunjukkan segala kasihnya yang tak kan pernah ada habisnya meski nanti akan di makan usia.
__ADS_1
"Aku mencintai mommy, Daddy."