
Amarah 🔥🔥
Senyumnya di wajahnya seketika hilang saat satu tuntutan itu terdengar lantang di suarakan oleh seorang Gita.
Zayn menutup laptopnya kasar kemudian beranjak pergi dari tempat duduknya.
Langkahnya lebar membawanya kembali ke dalam kamarnya.
Braaakk !!
Dentam suara pintu terdengar begitu kencang memekakkan telinga.
Gita terlonjat kaget dan segera ia menolehkan kepalanya ke sumber suara.
Hanya ada sisi tegap pintu yang masih berdiri kokoh di sana, memberi sekat penghalang di antara penghuni di dalamnya dan juga orang luar.
Gita terduduk pilu, isak kecilnya kembali terdengar seiring guyur hujan yang mulai turun membasahi bumi.
Ia meremat dadanya ywng masih terasa nyeri akibat tusukan pisau yang tak kasat di pandang mata.
"Sehina itu kah gue di mata Lo Zayn?
sampai Lo berasa berat banget buat milih gue sebagai pendamping hidup lo," lirihnya pilu.
Satu jam telah berlalu, dan Gita masih termenung di tempat yang sama menikmati rintik hujan yang masih menghujam permukaan tanah.
Bunyinya nyaring seakan menyamarkan Isak tangisnya yang tak jua terhenti.
Suara derap langkah yang semakin dekat tertuju ke arahnya membuat Gita segera menolehkan kepalanya pada sumber suara.
Seketika tangisnya terhenti saat netranya mendapati seseorang yang tak lagi rapi seperti sebelumnya.
Keadaannya begitu kacau dengan bau alkohol yang begitu menyengat melekat di tubuhnya serasa menguar menusuk Indra penciuman Gita.
"Lo kenapa sih Zayn?" tanya Gita sembari memapah Zayn yang terlihat sempoyongan.
Air matanya kembali luruh saat mendapati kekacauan yang ia timbulkan akibat permintaannya yang berlebihan.
'Tapi ini juga hak gue. Gue juga pengen bahagia!' berontaknya dalam hati.
Zayn masih terdiam seribu bahasa.
Ia masih setengah sadar meskipun dua botol wine sudah tandas lenyap dalam tenggorokannya.
Telinganya masih terngiang akan kata "pernikahan" yang selalu membuatnya takut.
Takut untuk mengalami hal yang serupa seperti keluarganya dulu.
__ADS_1
"Gue belum siap," ucapnya lirih.
Gita mengerjap kaget, senyum pilunya samar-samar hadir menghiasi wajahnya yang sedikit sembab karna terlalu banyak menangis.
"Gue ngerti," ucap Gita lirih.
"Dan mungkin nggak akan pernah siap sampai kapanpun," imbuh zayn lagi.
Gita membungkam mulutnya rapat.
Menyamarkan Isak tangisnya yang mungkin akan segera lolos dari bibirnya.
"K-kenapa?" tanyanya terbata.
"Sorry git. Gue nggak bisa untuk permintaan Lo yang itu.
Lo bisa minta apapun ke gue asalkan bukan pernikahan." Tuturnya penuh kejujuran.
"Gue nggak butuh yang lain Zayn,
gue butuhnya Lo," tunjuknya pada dada bidang pria yang terlihat kalut itu.
"Sorry git." tepisnya lirih menyisihkan jemari Gita dari tubuhnya
"Egois Lo Zayn." sarkas Gita kembali emosi.
Zayn mengusap wajahnya kasar. Ada ketakutan yang nyata terpancar dalam matanya.
"Ya, gue harus gimana? gue nggak pernah siap buat nikah entah itu sama Lo atau siapapun."
"Lo harus coba Zayn baru Lo tau gimana caranya buat atasin penyakit takut Lo itu." yakin Gita
Zayn menggeleng lemah, "darimana Lo tau kalau Lo belum pernah ngalamin yang gue rasain?
Lo nggak tau git seberapa traumanya gue dengan namanya pernikahan.
Apa Lo juga mau, kalau suatu saat nasip Lo berakhir kayak mami Lo?" ucap Zayn yang seketika membuat Gita terdiam.
"Gue nggak peduli Zayn.
Yang gue mau Lo nikahin gue, tanggung jawab sama gue," tuntut Gita dengan derai air matanya.
"Sinting Lo!" bentak Zayn penuh emosi.
"Guee emang sinting dan itu karna Lo Zayn," tunjuknya lagi tepat di dada bidangnya.
"Bullshit! masih ada banyak cowok di luaran sana git, kenapa harus gue yang jelas-jelas nggak punya nyali buat melangkah ke sana?"
__ADS_1
Gita menggeleng pelan, " gue nggak butuh cowok lain, gue butuhnya elo Zayn. Elo!"
"Kalaupun gue bisa gue lebih milih pergi sejauh mungkin dari kehidupan Lo.
Tapi gue nggak bisa, karna nyatanya gue udah jadi bucin Lo. Meskipun Lo nggak pernah liat keberadaan gue di samping lo, tapi gue nggak pernah nyerah buat tunjukkin keberadaan gue di sisi Lo Zayn.
Tolong, pikirin perasaan gue juga." lirih Gita seraya beranjak pergi.
Zayn menggerang frustasi, kepalanya serasa berdenyut ngilu saat otaknya hanya mendapati jalan buntu akan masalahnya.
"Hanya pernikahan, hanya pernikahan!" racaunya berulang sebelum kesadarannya resmi menghilang .
•••••••••
"Uhh!" Zayn mengeryit seraya memegangi kepalanya yang terasa berdenyut ngilu.
Matanya mengendar meneliti di mana posisinya sekarang berada.
Pintu terbuka seiring munculnya sosok perempuan dengan semangkuk bubur dan juga susu hangat di tangannya.
"Hey! udah bangun?" tanyanya basa-basi.
"Siapa yang mindahin gue ke sini?" tanyanya dingin seperti biasa.
"Gue yang mindahin," ucap gita sembari meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja nakas.
"Lo makan gih, gue mau istirahat," ucapnya seraya hendak pergi.
"Tunggu," ucap Zayn menahan langkah Gita.
"Apa?"
"Lo duduk di sini temenin gue makan." Titahnya memaksa
Gita hanya bisa pasrah dan kembali duduk di samping Zayn. Melihatnya menyuapkan sendok demi sendok bubur ke dalam mulutnya hingga bubur itu benar benar tandas tanpa sisa.
"Kasih gue waktu buat nyanggupin permintaan Lo."
Gita membulat matanya, ada gurat tipis terpancar dari wajahnya.
Senyum kecilnya kembali terukir seiring ucapan yang baru saja ia dengar.
"Sampai kapan?"
"Gue usahain secepatnya kalau gue udah dapet restu dari bunda." Tuturnya lirih.
Senyumnya semakin merekah, matanya berbinar bahagia mendengar keputusan itu.
__ADS_1
"Makasih, Zayn," ucapnya memberi kecupan kecil di pipi zayn.