
Lima hari telah berlalu dan seperti biasanya Gita masih sibuk ber-mandi peluh di beberapa tempat kerjanya. Seperti saat ini, meskipun jam sudah menunjukkan waktu istirahat gadis itu masih begitu semangat mengelap beberapa sudut meja sebelum jam sift kerjanya berakhir.
Dua hari cuti dari semua pekerjaannya membuat tubuhnya menjadi loyo dan serasa tak bertenaga.
Itu semua karena Amber yang terlalu bersikeras menahannya untuk tetap berdiam diri di rumah sebelum sakitnya benar-benar pulih dan dirasa cukup untuk beristirahat.
Gita hanya bisa pasrah menuruti perintah Amber, untunglah sebagian dari tempat kerjanya bisa memaklumi ijin sakit yang Gita ajukan.
Sehingga ia bisa terbebas dari bayang-bayang SP yang menghantuinya.
Tepat pukul satu pagi waktu Eropa.
Gita masih berjalan santai melewati jalan setapak yang akan membawanya ke arah rumahnya.
Jarak yang masih lumayan jauh dengan suasana yang sepi di sekitarnya membuat ia sedikit takut.
Sesekali ia menghentikan langkahnya, betisnya serasa kebas ketika langkahnya tak kunjung sampai di kediamannya.
"Hah!" helanya pasrah ketika ia membuka isi dompetnya.
Ingin sekali rasanya ia menyewa taksi untuk mengantarnya pulang.
Namun sayang, uang di dalam dompetnya tak mendukung inginnya sama sekali.
Hanya tersisa satu lembar uang lima puluh Euro di dalamnya, dan itu membuatnya berpikir ulang untuk menghamburkannya dengan membayar ongkos taksi.
Gita mengibaskan kakinya berulang kali untuk menghilangkan rasa kebas yang masih menjalar di area betisnya. Sebelum akhirnya ia kembali melangkah menapaki trotoar sepi yang masih berjarak-lima ratus meter dari jarak rumahnya.
Sesekali ia mengeluh lelah, dengan desah napas halus yang berembus melalui celah bibirnya.
Banyak taksi yang berlalu lalang di sampingnya, sekedar membunyikan klakson dan berhenti sejenak untuk menawarkan tumpangan kepadanya.
Gita hanya bisa menggeleng, menolak halus tawaran dari para supir taksi yang mungkin juga sedang mencari uang tambahan di jam yqng menjelang pagi.
Tin ... tin! Bunyi klakson mobil berhenti tepat di sampingnya.
Seperti yang sudah-sudah, Gita selalu menggeleng menolak tawaran para supir taksi yang lewat di sampingnya.
Namun ia rasa supir taksi ini sedikit bebal dan terlalu memaksakan kehendak.
Karena sejak tadi mobil itu masih berhenti di tepat sampingnya.
Kaca mobil itupun terbuka dan nampaknya ia kembali bersua dengan keberuntungan.
"Hey! butuh tumpangan?" Alex melongok-kan kepalanya ke luar jendela mobil. Tentu saja dengan senyum maskulin yang selalu jadi ciri khas nya.
__ADS_1
"Kamu? di sini?" Gita bertanya heran.
Alex mengangguk kilas. "Hmm! kebetulan aku baru selesai Acara. Jadi, kamu memilih masuk kemari, dan aku akan mengantarmu pulang, atau kamu akan tetap berdiri di situ?" tanya Alex seraya menopang dagunya.
Sesekali Gita menoleh ke kanan dan ke kiri.
Suasana yang begitu sepi membuatnya berpikir dua kali untuk menolak tawaran dari Alex, "terimakasih!" ucapnya ketika ia sudah duduk di sebelah Alex.
"Iya! By the way, gimana soal tawaran ku kemarin?"
Gita sedikit tercekat, ia nampak bimbang ketika di hadapan dengan sebuah pilihan.
"Ehm, itu ... aku belum tau, aku masih bingung dan tepatnya aku belum yakin sih,"
"Kamu bisa belajar git."
Alex menepikan mobilnya sejenak. Ia meraih jemari tangan Gita dan mengusap telapak tangan itu dengan lembut.
"Kamu nggak sayang kalau kulit kamu yang bagus ini cuma di habisin buat ngelap-ngelap meja sama bangku?"
Gita menarik tangannya dengan cepat, "Ekhm, aku nggak yakin bisa Lex, dan aku nggak ada pendidikan di bidang itu juga,"
Alex tertawa sumbang, " Ayolah. Kamu cukup pose dan berlatih jalan dengan benar.
Hening untuk sejenak, lalu Gita hendak kembali membuka bibirnya, "Aku ..."
"Kita bisa mulai dari hal yang paling sederhana.
Contohnya endorse, tas , baju, make-up .
ya something like that !"
"Aku nggak jamin hasilnya bagus Lex!" Gita masih meragu dengan tawaran itu.
"Ayolah, jangan pesimis.
Kita belum mulai, Gita! Seenggaknya kamu harus yakin dulu kalau kamu itu mampu, dan setelah lihat hasilnya, baru kamu bisa menilai cocok nggak sama bidang ini.
Nggak ada salahnya mencoba git!" Alex terus meyakinkan Gita, dan ia ingin membuat gadis itu memiliki keyakinan baru dalam hidupnya.
Tak hanya bisa merendah dan menyiakan masa muda yang memiliki begitu banyak potensi.
"Trus me! aku bakal jamin kalau kamu akan betah di profesi baru kamu." Yakin Alex lagi.
Gita hanya diam, ia sibuk menautkan kedua jemarinya seolah mencari jawaban atas tawaran yang di berikan Alex di atas telapak tangan yang bertautan.
__ADS_1
" Seriously? I Will be come a model ?"
'He-em!' angguk Alex lagi.
Lagi, Gita terdiam.
Bukankah ini juga profesi yang di jalani oleh-nya? bagaimana jika suatu saat dia akan tau tentang keberadaannya?
Bukan kah usahanya selama ini untuk menjauh akan berakhir dengan sia-sia?
Kecamuk pikiran itu kembali merangseknya untuk mengambil langkah aman.
Ia masih belum siap? tapi bukankah ini sudah terlalu lama.
Mungkin saja sekarang pria itu tengah berbahagia dengan gadis pilihannya yang lain!
Kenapa ia masih saja berpikiran picik, bahwa pria itu bisa saja datang dan menemuinya di sini?
Gita tersenyum miris melihat keadaannya sendiri.
Kehidupannya disini bahkan jauh lebih buruk daripada di Indonesia.
Jika di Indonesia ia bisa bekerja di kantor, makan enak, berbelanja dan menikmati liburan.
Tapi di sini, jangan kan untuk menikmati liburan. Untuk berlibur saja rasanya sangat di sayangkan karna ia harus kehilangan pendapatannya ketika ia mengambil cuti kerja.
"Hah, hidup memang sulit ya Lex,"
"Jadi gimana, mau coba?" Alex mengulur kan tangannya kepada Gita, berharap gadis itu akan menyambut uluran tangan darinya.
"Tenanglah, aku yang akan jadi fotografer untukmu," imbuhnya lagi tak menyerah untuk membakar semangat gadis itu.
Gita tersenyum lembut, jemarinya perlahan mulai menjangkau uluran tangan dari Alex.
"okay! seperti kata kamu, kita belum tau kalau kita belum coba. Aku setuju.
Jadi, mohon bantuannya ya, Mr.Alex," ucapnya penuh semangat.
Gadis ini benar-benar memiliki semangat yg luar biasa.
Alex sedikit terkesima ketika melihat senyum penuh ketulusan itu di peruntukan untuk dirinya.
Baru kali ini ia bertemu dengan gadis yang begitu apa adanya dan cenderung lebih terbuka tanpa harus memasang topeng lain di wajahnya.
"Kurasa, kedepannya kita akan jadi patner yang cocok Git," ucap Alex dengan seulas senyum tipis di bibirnya.
__ADS_1