
Dia.
Zayn nampak gusar, hatinya serasa tak tenang hanya dengan memikirkan pertemuannya dengan wanita pilihan sang ibunda nanti malam.
Pikirannya berkecamuk, ia masih belum siap.
Bagaimana jika nanti perempuan itu tidak sesuai dengan tipenya. Bagaimana jika dia seorang wanita yang cupu atau kuper?
"Arrrgggghhhh!" Zayn menggeram frustasi.
Usianya masih belum terlalu tua hingga urusan jodoh pun orangtua harus sampai ikut turun tangan dan membantunya memilih.
Ia masih dua puluh-delapan tahun. Kenapa ia harus terburu-buru untuk menikah? Bukankah dengan menikah maka ia tak bisa sebebas sekarang?
"Haih!" lagi-lagi Zayn mendengus lirih.
Memikirkan tentang pertemuannya nanti malam membuat kepalanya terasa pusing.
Zayn meriah ponselnya yang nampak beberapa kali bergetar. Sengaja ia pasang mode silent untuk meredam kebisingan yang sedari timbul dari benda pipih berlogo buah itu.
Ia melihat adanya lima panggilan tak terjawab dari sang ibunda. Mungkin wanita itu sudah tidak sabar ingin segera mempertemukan Zayn dengan wanita pilihannya.
Dan ada lagi beberapa pesan dari sang ibunda, yang kebanyakan isinya adalah hal serupa. "Kakak, nanti jam tujuh malam harus udah nyampe rumah ya."
"kakak, jangan lupa jam Tujuh malam."
Dan begitulah isinya hingga beberapa pesan berikutnya yang di kirim oleh sang ibunda.
Zayn terkikik sendiri, kenapa bundanya begitu getol ingin mempertemukan dia dengan perempuan itu.
"Iya bunda. Nanti kakak pulang." Tulisnya segera membalas chat dari bundanya.
Ia melirik jam tangannya yang masih menunjukkan pukul lima sore. Masih ada sisa dua jam lagi baginya untuk mempersiapkan diri.
Zayn memilih untuk segera pulang dan mengendarai mobilnya menuju arah apartemennya.
Sesampainya di apartemen ia memilih untuk rebahan sejenak. Menyingkir kan penat yang masih bergelayut di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
Netranya perlahan terpejam seiring kantuknya yang kian membebani Indra penglihatannya . Zayn terlelap. Nyenyak dalam buai mimpinya . Lupa akan waktu dan janji temu dengan wanita pilihan sang ibunda.
Ia baru tersadar ketika waktu pertemuannya sudah lewat sejak dua puluh-menit yang lalu.
Zayn melangkah santai menuju kamar mandinya, menyegarkan dirinya sejenak sebelum akhirnya ia melaju ke rumah bundanya. Santai, Zayn memacu mobilnya perlahan. Harap-harap gadis itu menjadi ilfil karena ia begitu lelet dan tidak on-time.
Zayn tertawa geli membayangkan bagaimana wanita pilihan bundanya itu kesal setengah mati karena menunggu kedatangannya.
Sampai di pelataran rumah orangtuanya.
Zayn turun dari mobil dan melenggang santai mengarah ke ruang keluarga.
Nampak suasana begitu riuh karena adanya banyak kepala yang hadir di sana. Dan ia juga belum pernah bertemu dengan orang-orang itu sebelumnya. Mungkin.
"Assalamualaikum," ucap Zayn mengejutkan beberapa orang yang hadir di sana.
Ayu tersenyum senang melihat putra sulungnya sudah tiba.
"Waalaikumsalam, kakak! Ya Allah, bunda dari tadi nungguin kamu loh kak," ucapnya sembari mengusap lembut kepala anaknya.
"He," Zayn menyengir kuda. "Maaf bunda, tadi kakak ketiduran, capek banget soalnya." tuturnya lirih.
Ayu tersenyum lembut dan membawa Zayn untuk lebih dekat dan bergabung dengan para tamu. "Kakak, kenalin ini om Rio. Temennya bunda dulu."
"Nah Rio, ini anak ku. Zayn! Yang dulu pernah kenalan sama kamu waktu aku di rumah sakit."
Om Rio mengagguk pelan, ia mengangsurkan tangannya menyalami Zayn dan Zayn segera menyambut uluran tangan itu penuh kesopanan.
"Zayn, om." ucapnya tenang.
"Rio. Kamu udah sebesar ini ya, tambah ganteng lagi." pujinya sembari menepuk pelan bahu bidang Zayn.
Zayn hanya tersenyum mendapati pujian dari Rio. Matanya menatap sekeliling. Mencari-cari keberadaan perempuan yang akan di kenalkan dengannya malam ini.
Namun, ia tak mendapati kemunculan wanita muda seumurannya di sana. Hanya ada bunda, papa, dan juga om Rio.
Zayn tersenyum lega, mungkin saja gadis itu sudah pulang karena ia jengkel karena menunggu terlalu lama. "Yes! syukur deh kalau dia emang udah kabur duluan." Batinnya senang.
__ADS_1
Ia lebih memilih untuk ikut gabung ngobrol dengan om Rio dan juga kedua orangtuanya.
Meskipun yang di bahas adalah hal yang tak ia mengerti, tapi ia masih bisa jadi penyimak yang handal di tengah pembicaraan mereka.
"Bunda! makan malemnya udah siap." tutur keyra yang baru saja keluar dari arah dapur.
Ayu mengagguk pelan, "kita makan malem dulu. Nanti di lanjut ngobrolnya." Titahnya pelan menyuruh kami untuk bergegas ke arah meja makan.
Di sana ada keyra yang tengah sibuk menyiapkan beberapa gelas air putih.
Dan lagi, ada kehadiran seorang wanita yang tengah duduk membelakanginya . Ia terlihat begitu dekat dengan keyra. "Tapi siapa?" terka Zayn bimbang. "Mungkinkah gadis itu pilihan bundanya?"
Ia duduk di salah satu kursi makan yang berjarak dua bangku dari tempat gadis itu duduk.
Rambut panjangnya terurai indah dengan ombre di bagian ujungnya. Membuat kesan anggun kian melekat pada sesi jumpa pertamanya.
Semuanya sudah berkumpul. Sesekali Zayn mencuri-curi pandang menelisik sisi wajah gadis itu. Namun sayang lagi-lagi terhalang oleh rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya.
Zayn menyerah, Ia memilih untuk menyantap hidangan yang telah tersaji di hadapannya.
Dan mengalihkan fokusnya terhadap gadis itu.
Setelah makan malam usai. Zayn masih berdiam diri di tempat semula. Menyaksikan keyra yang begitu asik mengobrol dengan gadis di sebelahnya itu. Membuat ia kian penasaran akan rupa wanita yang tengah duduk membelakanginya ini.
"Num, di liatin tuh." Goda keyra yang refleks membuat Hanum menoleh ke belakang. Menatap Zayn yang saat ini juga tengah memperhatikannya.
Hanum menyengir kuda sembari melipat kedua jarinya membentuk huruf V. Zayn membulatkan matanya kaget, hatinya menerka-nerka benarkah bahwa Hanum yang akan di kenalkan sang ibunda kepadanya.
"Jadi Hanum yang mau di kenalin bunda?" tanya Zayn yang sudah di rundung rasa penasaran.
Ayu mengagguk pelan. "Iya kakak."
"Lho! Tunggu-tunggu. Kalian udah saling kenal?" Tanya Rio yang masih belum paham akan situasi yang ada.
Zayn dan Hanum saling bersitatap, "gimana nggak kenal coba, orang tiga tahun belakangan kan aku curhatnya sama dia om." Batin zayn dalam hati.
Sementara Hanum hanya bisa tersenyum canggung. "Sorry kak," ucapnya lirih saat ke duanya saling beradu pandang.
__ADS_1
Nah. yang pendukungnya Hanum, mana suaranya? Untuk foto nyusul belakangan ya.
Jgn lupa like, komen , sama rate bintang 5 nya. ***Arigato* ☺️☺️**