
Tubuh gemetar dengan jari tangannya yang di penuhi oleh lumuran darah. Gita mendongak kan kepalanya menatap Zayn yang masih mematung di hadapannya.
Sorot matanya memancarkan kebingungan ketika mendapati Gita dengan keadaan berantakan di sertai bulir peluh membasahi seluruh wajahnya.
"Za-zayn! a-aku bisa jelasin, ak-ku ..."
"Ssstt!'' gumam Zayn langsung mendekap tubuh Gita yang masih gemetar. Gadis itu menghambur dalam dekap hangat Zayn yang terasa begitu menenangkan. "Aku pembunuh Zayn, ak-ku, dia mati," ucap Gita dengan suara gemetar.
Kilas kecup di kening gita Zayn hadirkan penuh kelembutan. Di usapnya bulir air mata yang masih berlinang di pipinya. "Kamu duduk dulu ya babe, masalah ini biar aku yang urus," titahnya sembari menuntun gadis itu untuk duduk di atas sofa, kemudian mengusap bahu ringkih yang terlihat masih berguncang itu dengan penuh kelembutan. "Tenanglah, dia tidak apa-apa. Kita masih belum terlambat untuk menyelamatkan nyawanya."
Gita hanya mengagguk kecil, ia melipat ke dua lututnya dan mendekapnya penuh rasa takut disertai khawatir. Gadis itu terlihat kacau ketika ingatannya tentang pisau tajam dan adegan tak di sengaja itu kembali terputar di otak nya.
Ini kali pertama dalam hidupnya ia mampu berbuat nekat bahkan berlaku kriminal sampai harus melukai seseorang, dan yang lebih mengerikannya lagi orang itu adalah seseorang yang telah ia anggap sebagai sahabat baiknya.
"Bagaimana? a-apa dia masih bernapas?" tanya Gita sembari memegangi setelan jas yang di kenakan Zayn. Pria itu baru saja selesai mengecek keadaan alex yang masih terkapar di lantai dapur.
Zayn tersenyum lembut sembari mengacak pelan rambut sang kekasih, "Dia baik-baik saja. Aku sudah menghubungi pihak rumah sakit terdekat dan sebentar lagi mobil ambulance akan segera tiba. Cepat bersihkan tangan mu dan bersiap-siaplah, kita juga akan ikut mengantarnya sampai ke rumah sakit."
Gita mengagguk paham, ia segera bangkit dan masuk kedalam kamarnya. Membersihkan jemarinya dan juga melepaskan semua pakaiannya. Berganti dengan pakaian baru nan bersih tanpa corak merah darah yang mengotori bagian bajunya.
Lima belas menit berlalu, keadaan masih hening untuk beberapa saat hingga kemudian suara langkah kaki kisaran lima sampai enam orang berderap kencang menuju kamar apartemennya. Gita nampak pucat, pikirannya kacau bercampur khawatir dan takut kasus ini akan di angkat ke pihak berwajib.
"Jangan panik," ucap Zayn menggenggam jemari sang kekasih yang mulai terasa dingin. Gadis itu mengagguk patuh, mengeratkan genggaman tangannya pada jemari kokoh yang selalu bersedia untuk mengulurkan tangannya demi dirinya, di setiap waktu tanpa harus ia minta.
Gita memalingkan wajahnya kasar, bersembunyi di balik punggung tegap Zayn yang masih menatap lurus ke depan. Ia masih syok ketika melihat petugas medis membopong tubuh Alex di atas tandu dan membawanya turun untuk segera di larikan ke rumah sakit. "Mereka sudah pergi, jangan takut dan jangan menangis. Percayalah, pria itu akan baik-baik saja," ucap Zayn menangkup ke dua pipi Gita. Netranya memejam untuk sesaat, sementara bibirnya mendesis lirih ketika usapan lembut dari Zayn tanpa sengaja mengenai lebam yang ada di wajahnya. Lebam yang di timbulkan oleh tangan Alex yang terlampau kuat merem*t wajahnya. Bahkan rasa ngilunya masih tertinggal di sana. Lengkap dengan cap jari yang sudah bersemu menjadi biru namun sedikit samar.
Zayn mengernyit kan kedua alisnya, matanya memicing ketika melihat ekspresi Gita yang masih meringis tak bersuara. "Kenapa?" tanyanya sembari melepaskan kedua jemarinya dari pipi sang kekasih.
__ADS_1
Gadis itu menggeleng cepat, ia menarik tangan Zayn untuk segera keluar, mengalikan pertanyaannya dan mengikuti mobil ambulance yang mungkin saja saat ini telah pergi dan meninggalkan mereka .
Zayn terdiam, pria itu hanya bisa mengikuti langkah cepat Gita dari belakang. Namun sebenarnya ia tau bahwa keadaan gadis itu saat ini juga tak sedang baik-baik saja. Ia hanya diam dan akan memastikannya sendiri ketika keadaan tak lagi genting, terutama hingga keadaan Alex telah di nyatakan aman terlepas dari bahaya.
•••••••••••
Di depan ruang unit operasi. Zayn dan Gita duduk tenang di kursi tunggu luar ruangan. Gita menyandarkan kepalanya nyaman di bahu Zayn. Gadis itu perlahan terpejam tak kuasa menahan rasa lelah yang kian menggayuti tubuhnya. Sudah sejak semalam ia tak dapat istirahat dengan nyenyak, di tambah lagi dengan adanya perkara ini yang kian membuatnya terkekang. Gadis itu hanya ingin beristirahat sejenak, melepaskan segala penat dan kegelisahannya untuk sesaat di bahu bidang Zayn yang dirasanya sangat nyaman untuknya berbaring.
Dengan perlahan penuh kelembutan, Zayn menyisihkan juntaian rambut Gita yang terurai menutupi bagian wajahnya. Kepalanya sedikit miring, kemudian ia menyentuh kan jemarinya dengan sangat lembut di permukaan kulit wajah gita yang sedikit membiru itu. Ada cap lima jari yang masih tertinggal di sana, belum dengan lebam lain yang ada di area rahangnya.
Gadis ini pasti mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan pria bejat itu.
Hingga akhirnya ia tersudut oleh sebuah pilihan. Antara melawan atau menerima kekalahan.
••••••••••••••
Zayn mengangkat tangannya perlahan, memberikan titahnya untuk tak berbicara karna gadisnya itu masih tertidur nyenyak dalam dekapan nya.
Seorang perawat hanya bisa mengangguk ramah. Ia mengecilkan suaranya hingga terdengar sangat lirih namun masih bisa terdengar oleh Zayn. "Anda di tunggu di ruangan dokter tuan," ucap perawat itu dengan penuh kata santun.
Zayn mengagguk paham, ia mengayunkan tangannya pelan menyuruh perawat itu untuk segera pergi dari hadapannya.
Sementara Gita, ia membopong gadis itu ke ruang perawatan umum berkelas VIP. Dengan perlahan ia membaringkan tubuh gadis itu ke ranjang pasien, meluruskan kakinya dan menyelimuti tubuh gadis itu dengan penuh sayang. Kecupan kecil ia hadirkan kembali di kening gadis itu, sebelum akhirnya ia keluar dari sana untuk menemui dokter yang barusaja menangani operasi Alex.
Suasana masih hening setelah Zayn masuk ke dalam ruang bernuansa putih itu. Sang dokter masih belum buka suara mengenai perkembangan operasi Alex. Entah berhasil atau tidaknya ia pun belum tau kejelasannya. Tepatnya saat ini ia sedang menanti kabar baik dari kelancaran proses operasi yang barusaja di jalani oleh alex. Ia berharap pria itu baik-baik saja dan masih bernyawa tentunya.
"Operasi berjalan lancar, dan semuanya aman terkendali tuan. Hanya luka sedalam tujuh centi meter bukanlah luka yang dapat menghilangkan nyawa seseorang, kecuali jika ia terkena luka tusuk di bagian yang berbeda. Mungkin jika pisau itu menghunus jantung pasien, maka kejadiannya akan berbeda saat ini," tutur sang dokter dengan senyum tipis yang terurai di wajahnya.
__ADS_1
Zayn mengagguk kan kepalanya perlahan, ia mengetuk kan jemarinya risau, sebelum akhirnya kembali menyuarakan rasa penasarannya yg lain. "Kapan ia akan sadar?"
"Mungkin dua sampai tiga jam lagi tuan, setelah itu anda bisa menjenguk pasien dan berbincang ringan dengan nya." Penjelasan ringkas itu akhirnya selesai.
"Saya mohon diri, dan terimakasih atas bantuan anda dokter. Sebagai imbalan nya, donasi untuk rumah sakit bulan ini akan saya naikkan tiga kali lipat," ucap Zayn seraya beranjak dari duduk nya. Pria itu beranjak pergi dengan langkah tenang menyusuri ruang perawatan tempat dimana gadisnya berada.
Dokter itu membungkuk penuh hormat, memberi salam perpisahan sembari mengucapkan terimakasih yang tiada henti dari celah bibirnya. Ia menatap punggung Zayn yang kian mengecil dari pandangannya. Senyumnya terurai tipis syarat akan kekaguman akan sifat dermawan yang dimiliki pria muda itu.
••••••••••••
Gita mengeryit ketika rasa perih kembali menyengat area wajahnya. Netranya yang terpejam perlahan mulai terbuka ketika sentuhan yang semula hadir di area wajahnya tidak lagi terasa. Ia membuka kelopak matanya dan mendapati dirinya tengah terbaring di atas kasur rumah sakit yang di sekelilingnya hanya ada corak putih dengan bau desinfektan menusuk hidungnya.
"Zayn," kata itu yang pertama kali terucap oleh bibir Gita. Gadis itu mendapati senyum mengembang di wajah Zayn yang di penuhi binar bahagia ketika melihatnya telah terbangun dari alam mimpinya.
"Apa kau memimpikan ku di sana?" ucapnya penuh goda seraya menyentuh kepala gita.
Gadis itu hanya tersenyum tipis menanggapi godaan dari Zayn, pria itu selalu saja menenangangkan gundahnya.
"Bagaimana? apa dia baik-baik saja?"
Zayn memutar bola matanya malas, "Baru juga bangun, yang di tanyain malah orang lain." Rajuknya berpura kesal.
Gita terkekeh kecil sembari mencubit kecil pinggang kekasihnya itu. Wajahnya yang tertekuk itu terlihat lebih begitu menggemaskan ketika dibandingkan dengan wajahnya ketika ia serius, "Aku hanya khawatir kalau dia tidak akan selamat. Hanya itu dan bukan khawatir akan hal lain." jelasnya lirih seraya mengusapkan jemari lembutnya di wajah sang kekasih.
Zayn tersenyum tipis, pria itu terlihat merona ketika gadis itu jelas tau bahwa ia hanya sedang berpura untuk mencari perhatiannya.
Tangan nya terulur pelan, menjangkau bagian belakang tengkuk gadis itu. Merabanya sesaat di sana, hingga membuat gadis itu meremang memejamkan matanya. "Jangan khawatirkan orang lain, ketika ada aku di samping mu. Cukup aku yang ada di pikiran mu dan bukan orang lain," bisik nya lirih di samping telinga sang kekasih.
__ADS_1
Gita menelan salivanya yang mendadak terasa kering , hembus nafas hangat itu seolah menghipnotisnya untuk luluh dan tak memberikan sebuah penolakan. Ia hanya bisa mengagguk lemah, mengiyakan setiap tutur kata Zayn dengan patuh dan tunduk.