Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
35.


__ADS_3

Secuil rasa.


Zayn masih memacu mobilnya tak tentu arah.


Ia kacau dan butuh tempat baginya untuk bersandar.


Mobilnya menepi ke salah satu cafe tempat yang semula tak pernah terlintas di benaknya untuk singgah di sini. Di cafe yang di kelola oleh Hanum. Seorang gadis yang sempat menggetarkan jiwanya.


Zayn melangkah masuk kedalam cafe yang masih sepi oleh kedatangan para pengunjung. Hanya ada beberapa anak-anak muda yang nampak asik bersenda gurau sembari menikmati hidangan yang tersaji di hadapan mereka. Ia melangkah lurus, menuju sudut paling belakang tempat itu guna menyembunyikan kesedihannya. Zayn merebahkan kepalanya di atas meja. Nampak wajahnya begitu sendu dan juga lelah.


" Hay kak!" Sapa seorang gadis dengan senyum tipis di bibirnya.


Zayn mendongak pelan, menaik-kan pandangan matanya menatap seseorang yang tengah berbicara dengannya. "Hmm, hai," ucapnya lirih tak bertenaga.


Ia adalah Hanum. Gadis itu menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan Zayn.


Senyumnya sirna ketika mendapati wajah pria di hadapannya ini nampak sayu dan juga kacau. "Mau minum?" Tawarnya pada Zayn.


Zayn mengagguk pelan, " Satu coffe latte. Seperti biasa." Sembari menorehkan senyum tipis di bibirnya.


Hanum mengagguk kilas, ia bergegas menuju meja bartender dan membuat kan secangkir coffe latte special buatannya sendiri untuk tamu istimewanya.


"Silahkan di nikmati!" ucapnya sembari mengangsurkan secangkir latte hangat sesuai pesanan.


Hanum kembali meraih kursi dan duduk berhadapan dengan Zayn. Pria itu menjadi lebih pendiam semenjak pertemuan terakhir mereka di grand opening cafe idol sekitar satu bulan yang lalu.


Mungkinkah ia melewatkan sesuatu?


Zayn masih terdiam. Netranya nampak tenang menatap corak bunga yang tertera di bagian atas minumannya.


Namum, diamnya Zayn membuat Hanum menjadi resah. Ia seolah kehilangan sesuatu yang menyenangkan saat bertemu dengan pria ini lagi.


Hanum mengetukkan jemarinya di atas meja. Ia bingung harus berbuat apa agar pria di hadapannya ini bisa kembali seperti dulu. Pria yang penuh dengan keceriaan dan juga tawa kecil yang selalu hadir saat bertemu dengannya. Hanum mengembuskan napasnya pelan. Ia tau ini bukan ruang lingkupnya untuk memulai pembicaraan. Tapi melihat pria ini nampak begitu menyedihkan membuat hatinya merasa iba dan tak tega jika harus meninggalkannya seorang diri di sudut sepi ini. Akhirnya ia pun memberanikan diri untuk sekedar bertanya.


" Ehm! Kakak baik-baik aja kan?" tanya Hanum dengan penuh kekhawatiran.


Zayn menggerakkan ekor matanya pelan, kemudian beralih menatap Hanum yang masih duduk di hadapannya. Ia bungkam, enggan untuk berbicara. Hanya terdengar suara helaan napas panjang yang mencerminkan suasana hatinya saat ini.


Hanum masih menunggu. Ia menopangkan dagunya di meja, pandangannya menatap lekat pada penampilan Zayn yang terlihat begitu berantakan dengan rambutnya yang acak-acakan tak tersisir rapi. "Aku bisa jadi pendengar yang baik," ucapnya lagi di sertai senyum tulus di wajahnya.


Zayn bergumam kecil seolah berpikir harus bercerita atau tetap bungkam dengan segala pemikirannya. "Ehm ... Aku hanya bingung harus memulainya dari mana," ucapnya lirih.

__ADS_1


Hanum mengagguk tipis, bibirnya menyunggingkan senyum tulusnya. "Barangkali kita bisa memulainya dari hal yang paling menyiksa dan paling berpengaruh atas perubahan yang terjadi di hidup kakak belakangan ini."


"Maksutnya?" Zayn menaikan sebelah alisnya, bingung.


Hanum terkekeh lirih, "lihat deh kak. Penampilan kakak yang begitu berantakan Menurut ku, kalau kita ada masalah sebaiknya jangan di pendam sendiri. Toh nggak ada salahnya kan kalau kita berbagi cerita sama temen kita? Ya itung-itung ngurangin galau daripada pusing di pendem sendiri?"


Zayn mengagguk mengerti. "Ehm, iya juga sih."


"Jadi? Butuh temen cerita?" tanyanya penuh harap.


"Aku ada sedikit masalah sih, Num. Ehm ... sebelum aku cerita boleh lah ya aku tanya-tanya dulu."


Hanum mengagguk kecil, "boleh kak."


"Kamu pernah jatuh cinta nggak?"


Hanum memutar bola matanya jengah, pembahasan tentang cinta membuatnya malas untuk kembali mengingat serpihan kenangan buruk yang di timbulkan oleh rasa itu.


"Pernah sih, tapi itu dulu," ucapnya lirih.


"Kenapa emang? Kakak jatuh cinta?" Tanya Hanum balik.


"Kamu pernah patah hati nggak, Num?"


Hanum mendengus lirih, jujur saat ini ia benar-benar tak siap untuk membahas kisah cinta kelamnya. "Ya pernah lah, kak."


"Sakit nggak?" tanya Zayn lagi, yang justru membuat Hanum kian mendengus kesal.


"Ya sakit lah, kak! Namanya juga patah hati," ucapnya kesal.


Zayn terkikik lirih, melihat Hanum yang begitu kesal dengan pertanyaan konyol yang barusaja ia lontarkan padanya. "Jangan sewot, tadi di suruh cerita. Gimana sih kamu."


"Kan Kakak yang punya masalah, kenapa jadi aku yang di interogasi. Aneh!" cibirnya kesal.


Zayn mengacak rambut Hanum pelan. "Aku seneng loh liat kamu kesel, Num."


"Ish, yaudah deh aku pergi aja," ucapnya segera beranjak dari kursinya.


"Ehh! Iya maaf." Tutur Zayn sembari menggenggam jemari Hanum. Menahannya untuk tetap tinggal dan mendengarkan keluh kesahnya yang sedikit demi sedikit telah lenyap seiring candaan mereka tadi.


Hanum kembali mendudukan bokongnya di tempat semula, "buruan cerita, mumpung gratis ini. Coba kalo kakak ke psikolog, abis duit berapa juta coba? cuma buat konseling."

__ADS_1


Zayn menghela napasnya tenang, bersiap untuk memulai ceritanya yang mungkin akan banyak menyita waktu gadis itu sebagai pendengar pertamanya. " Aku baru aja jatuh cinta, Num. Tapi sayangnya cinta aku datang terlambat. Di awal dia udah terlalu banyak berkorban buat aku. Dia juga udah nyatain perasaannya ke aku. Tapi, emang akunya aja yang batu dan milih buat nggak anggap serius soal perasaannya dia."


Zayn berhenti sejenak, bibirnya bungkam sementara matanya kembali memerah menahan sendu.


Hanum mengusap lembut bahu Zayn, "terus!" tuturnya ingin tahu.


"Dia pergi. Dan aku nggak tahu perginya kemana."


"kakak udah coba nyari?" tanya Hanum di tengah cerita yang di tuturkan Zayn padanya.


Zayn menggeleng pelan. " Belum! Dan mungkin nggak--akan."


"Kenapa?" tanya Hanum lagi.


"Aku masih inget dia pernah bilang gini ke aku. Sebaiknya kita begini aja dulu, jalanin sendiri-sendiri . Dari situ aku paham, Num. Mungkin dia capek sama aku. Dia lelah berjuang untuk dapetin cinta aku. Karena dari awal memang aku yang terlalu banyak bikin dia sakit hati. Ngeremehin perasaannya dia, dan nggak bisa memenuhi permintaan dia.


Makanya, sekarang Tuhan lagi kasih aku hukuman kayak begini."


Hanum mengusap lembut bahu bidang Zayn yang nampak bergetar. "Kak. Emang sakit rasanya kehilangan seseorang yang penting di hidup kita. Sakit banget sampe aku nyaris bunuh diri waktu itu." Tuturnya mengingat serpihan kenangan lamanya.


Zayn menautkan kedua alisnya Ia ganti menyimak yang dituturkan oleh Hanum.


"Cinta itu emang buta kak. Saking butanya kita bisa lakuin apa aja kalau itu sudah berhubungan dengan orang yang lagi bikin kita kesemsem.


Kayak aku dulu. Pacaran dua tahun dan berakhir kandas. Bisa bayangin kan, segimana- gilanya aku waktu itu. Padahal kami udah sempet tunangan waktu itu."


"Terus!" ucap Zayn penasaran.


"Ya aku setres lah kak. Tiap hari cuma keingetan dia terus. Tapi akhirnya aku sadar kalau nggak bagus juga aku menyiksa diri dengan hanya merenung meratapi kisah hidup yang udah berlalu.


Aku mencoba untuk move on. Ya, nggak mudah sih awalnya. Tapi lama-lama juga terbiasa dan kita bisa hidup seperti sebelumnya. Sebelum kenal yang namanya cinta dan sakit hati."


Zayn mengagguk mengerti, ia beranjak dari duduknya sembari tersenyum lega. Nampak raut wajahnya terlihat lebih bahagia daripada sebelumnya yang terlihat begitu menyedihkan.


"Thank, udah jadi pendengar yang baik buat aku, Num." Tuturnya sembari mengeluarkan selembar uang untuk membayar coffe pesanannya.


Hanum tersenyum senang, "sama-sama."


Zayn melangkah cepat meninggalkan cafe Hanum. Ia bergegas mengarahkan kemudinya kembali ke apartemen miliknya.


Hatinya serasa lega mendengar penuturan dari Hanum. Mungkin benar ini saat baginya untuk move on dan melupakan kenangannya bersama Gita.

__ADS_1


__ADS_2