
pertentangan π₯π₯π₯
Mobil mulai bergerak perlahan dan segera merapat masuk ke dalam garasi rumah orangtuanya.
"Assalamualaikum," ia ucapkan setelah kakinya menapaki lantai rumah tinggalnya dulu.
"Waalaikumsalam," jawab anggota keluarga lain yang tengah berkumpul di ruang tamu.
Binar kebahagiaan yang terpancar di wajah reynand dan keyra seketika lenyap saat mendapati hadirnya seseorang di belakang Zayn.
Rambut pink itu masih menyisakan ingatan buruk di benak keyra.
"Ngapain dia ke sini?" ucap keyra lantang menuding Gita dengan keras.
"Adek!" suara sang ibunda memperingati.
Keyra terdiam, ia lebih memilih untuk memainkan ponselnya daripada harus beradu pandang dengan wanita pembawa bencana ini. Dalam hatinya mengucap sumpah serapah penuh kebencian terhadap sosok Gita yang nampak anggun.
"bunda, papa," panggil Zayn hendak memulai pernyataannya.
Ayu tersenyum lembut sembari mengusap puncak kepala Zayn.
Gita ikut mendekat, jemarinya bergerak pelan menyalami ayu dan Raka sopan.
Kemudian ia kembali duduk berhadapan dengan pasangan senior yang tengah serius menyimak percakapan ini.
"Ini Gita bund yang kemarin sempet ke sini."
Ayu mengagguk kepalanya perlahan, "iya bunda tau, terus kak?"
"Ehm ... gini bund. Kalau bunda ijinkan, kakak punya niat untuk nikahin Gita bund," ucap Zayn sedikit pelan.
"What?! Abang gila ya?" sahut keyra lantang.
Jelas wanita seumur Zayn ini menolak keras niatan sang Abang untuk memasukkan wanita ular ini ke dalam lingkup keluarganya.
"Abang lupa kemarin dia udah bikin aku bonyok begitu," tegas keyra lagi.
Keyra bukanlah seorang gadis pemarah, melainkan ia adalah seorang gadis lemah lembut yang memiliki sisi brutalnya tersendiri.
Seperti saat ini jelas ini adalah perlawanan yang nyata menolak keras kehadiran Gita di samping sang Abang. Juga merupakan upaya pertahanan diri untuk melindungi keselamatan sang ibunda.
"Dek, ini ca salah faham," ucap Zayn pelan.
"Halah bullshit! udah tau bunda sampe kaya begitu keadaannya .
Kalau emang salah faham kenapa dia nggak dateng ke sini buat minta maaf sama bunda, sama aku? muna' banget jadi cewek," cibir keyra bersungut-sungut.
__ADS_1
Zayn mengusap wajahnya kasar. Nampak bulir keringat mulai membasahi keningnya.
Pertikaian ini merupakan satu dari banyaknya jumlah penolakan yang mungkin saja akan di suarakan oleh anggota keluarganya yang lain.
Gita menunduk pilu. Bibirnya bergetar hebat tak bisa berkata apapun.
"Maafin saya tant, itu murni bukan keinginan saya untuk melukai Tante dan mbak keyra,"
ucapnya penuh kesungguhan.
"Halah! udah telat mbak-nya.
Situ nggak liat saya sama bunda saya udah baik-baik aja," potong keyra lagi.
"Kak! lu bisa diem nggak sih. Bising lu ah," cibir reynand yang merasa terganggu.
"Elo yang diem." Tunjuk keyra geram pada mulut reynand yang sering kali berucap tidak pada tempatnya.
"Denger Rey! Lo nggak usah motong pembicaraan gue.
Lo nggak kasian sama bunda, Lo nggak inget pas bunda nggak bisa bangun selama tiga hari gara-gara ulah cewek sadis ini sama nyokap-nya?
Belom jadi apa-apa udah brutal begitu, lhah gimana nanti kalau udah jadi istrinya Abang? keselamatan bunda yang jadi ancaman." cerocos keyra panjang lebar
"Yaudah sih kak! Lo mending diem dulu dengerin Abang ngomong. Dengerin jawaban bunda.
Ini jeleknya keyra, wanita ini bukanlah sosok yang suka di bantah. Satu kesalahan yang menyinggung keluarganya maka butuh waktu lama untuk menghapus kejelekan itu dari matanya.
Raka hanya bersidakap menyaksikan adu mulut antara putra putrinya menyangkut niat yang di utarakan oleh Zayn anak sulungnya.
"Keyra, shut up! " bentak Raka seraya menaruh telunjuknya di depan bibirnya. Yang seketika membungkam mulut gadis itu untuk tak lagi bertutur kata. Nyalinya ciut bila sudah berhadapan dengan si pawang, yaitu tak lain adalah papanya.
Ayu memijit pelipisnya pelan. "Kita ke atas aja ya kak, biar enak ngobrolnya."
Zayn mengangguk pelan lalu kemudian mengikuti langkah sang ibunda menuju lantai atas rumahnya.
Ayu terduduk di atas kursi ayun, "kakak, sini!" panggilannya dengan sayang.
Zayn mendekati sang ibunda dan duduk tenang di samping ayu.
"Kak. Pernikahan itu bukanlah sebuah permainan. Apa kakak serius dengan niatan kakak tadi?" tanya ayu meyakinkan hati sang putra.
Zayn terhenyak, ia diam seribu bahasa tak lagi bisa mencerna ucapan dadi sang ibunda.
'Serius? belom ada di pikiran kesana gue mah," batinnya.
"Kak. Kakak suka sama Gita?"
__ADS_1
Zayn masih diam lalu kemudian gelengan kecil hadir di kepalanya. Memberi jawaban pada sang ibunda bahwa tiada rasa cinta yang tertanam di hatinya.
"Kakak sayang sama dia?"
Lagi, hanya gelengan kecil yang nampak di wajahnya.
"Haih ... Lalu apa yang bikin kakak kepikiran untuk nikah?"
"Dia yang minta bund, jujur kakak juga belum siap."
"Kak, Demi Allah! bunda sangat keberatan kalau kamu mengambil keputusan tanpa berpikir panjang dulu.
Bunda dukung kamu menikah, tapi ..."
"Kenapa bund?"
"Bunda nggak ridho kalau kamu menikah dengan anaknya indah," ucapnya bergetar.
"Demi Allah kak bunda benar-benar nggak setuju . Boleh dengan siapapun tapi jangan dengan anak perempuan itu. Bunda mohon," ucap ayu dengan sendu.
Zayn mengagguk pelan.
"Carilah perempuan baik-baik yang bisa membawa kamu ke jalan yang benar, carilah asal-usul keluarganya.
Sehingga jika kelak kamu memperistrinya maka lahirlah keturunan dari orang yang baik pula.
Tanpa harus bunda jelasin kakak pasti tau orang tua Gita seperti apa. Bukan berarti bunda benci melainkan hati bunda belum bisa ikhlas melihat kamu bersanding dengan perempuan itu. Ngerti ya kak!" tutur ayu penuh kasih.
Zayn tersenyum tipis, "kakak ngerti bund.
Karena bagi aku nggak ada yang lebih penting selain ridho dan keikhlasan dari bunda .
Kalau bunda ridho, insyaallah Allah juga akan meridhoi setiap langkah yang kakak ambil bund."
Ayu mengecup lembut kening sang putra.
"Terimakasih karna kakak masih mau dengerin nasihat bunda."
"Selalu bund karna bunda yang paling berharga buat kakak."
"Kita turun yuk, pasti temen kamu masih nunggu kita di bawah," ajaknya pada sang putra untuk segera bergegas kembali ke ruang keluarga.
Mbak Gita banyak hatersnya . Authornya kabur dulu . π€£π€£
Takut di lempar sendal sama pendukungnya Hanum ππ
__ADS_1