Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
07.


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Zayn sudah memacu kendaraannya untuk segera kembali ke apartemen miliknya.


Pasalnya semalam ia harus menginap di kediaman sang papa atas permintaan sang ibunda yg tak bisa ia tolak.


Beruntung ia sempat mengisi penuh stok makanan dalam lemari pendingin. Jika tidak mungkin saja saat ini gita yang tinggal di apartemennya itu bisa pingsan karena kelaparan.


"Wah ... wah ... wah...


Bangun lu!" Sentak Zayn yang barusaja sampai di apartemennya.


Terlihat jelas ketidak sukaan hadir di sorot matanya saat melihat Gita yang masih meringkuk di atas sofa tamu ruangan tersebut.


"Bangun lu, males banget sih!" Bentak Zayn lantang.


Membuat Gita seketika terjaga dari tidurnya.


Ia menunduk takut saat Zayn kini sudah berada di hadapannya.


Sejak semalam dia menunggu pria ini kembali. Dan setelah ia kembali rasa takutnya kembali bergelayut di sekujur tubuhnya.


"Ngapain bengong? Buruan masak kek, beresin rumah. Diem aja!" Bentak Zayn lagi.


"I -iya," jawab Gita yang segera beranjak dari hadapan Zayn.


Zayn melangkah santai menuju ruang kerja miliknya. Tempat biasa ia sibuk dengan segala urusan pekerjaannya yang tertunda.


Jemarinya terlihat sibuk mengerjakan sesuatu di dalam laptopnya hingga ketukan kecil di pintu membuat ekor matanya melirik pada Gita yang tengah mematung di depan sana.


"Eng ... kopi!" ucap Gita lirih.


"Taruh di meja!" Titah Zayn kembali fokus pada pekerjaannya.


Gita bergerak pelan, meletakkan secangkir kopi itu di meja.


Sesekali ia melirik pada pria angkuh yang tengah fokus pada layar yang sedang menyala itu.


Penampilannya yang segar serta kacamata yang bertengger di hidungnya, membuat Gita sejenak terhanyut oleh pesona pria yang di sebutnya sebagai psikopat itu.


"Bikinin gue sarapan, abis itu lo siap-siap pergi ke kantor." Titah Zayn yang membuat Gita mengerjap kaget


"I-iya," jawabnya cepat bergegas ke dapur.


Sementara Zayn kembali berkutat dengan laptop miliknya.


Wangi aroma nasi goreng mulai menguar ke udara.


Membuat Zayn menelan ludah hanya karena mencium wangi makanan yang belum ia lihat.

__ADS_1


Ia segera beranjak keluar dari ruangan itu setelah urusan pekerjaannya di pastikan rampung.


Matanya berbinar saat melihat sepiring nasi goreng yang masih mengepul tersaji di atas meja ruang makannya.


Wanginya yang menggoda mendadak membuat Zayn menjadi lapar.


Dan tanpa basa-basi segera menyantap hidangan tersebut.


Gita mematung di sudut dapur, melihat Zayn yang tengah menyantap makanan yang barusaja ia hidangkan dengan begitu lahap . Membuat perutnya tiba-tiba terasa kenyang hanya dengan melihat majikannya itu menikmati makanan.


Ia mengambil segelas air putih lalu kembali menaruhnya di dekat Zayn yang masih asik mengunyah.


"Apa?" Tanya Zayn yang merasa tak nyaman dengan pandangan Gita yang seolah mengawasinya.


"Emh, enak ya?" Tanya Gita balik.


"Nggak, biasa aja. Gue makan karena gue laper. Bukan karna enak." Jawabnya ketus sembari masukkan lagi sesuap makanan ke dalam mulutnya.


Gita tersenyum kecut mendengar Jawaban yang tak mengenakan untuk ia dengar.


Zayn mengelap sudut bibirnya setelah ia selesai meneguk segelas air yang sudah Gita siapkan.


"Inget baik-baik.


Elu udah gue beli, gue nggak mau melihara barang yang nggak berguna di rumah gue.


Lu masak, nyuci, ngepel, semuanya.


Kalau udah beres, baru lu boleh pergi." Jelas Zayn tegas.


Gita mengagguk patuh mendengar rentetan tugas yang akan ia emban selama berada di tempat itu.


"Kamar lu di bawah, buruan siap-siap.


Gue nggak mau punya karyawan yang lelet dan suka telat,"


ucap Zayn seraya beranjak dari duduknya.


Dengan cepat Gita membereskan bekas piring yang ada di meja, memcucunya bersih lalu meletakkannya di tatakan piring. Setelah dipastikan beres, ia bergegas masuk ke dalam kamar yang di tunjukkan oleh Zayn tadi.


Ada sebuah bingkisan yang tergantung rapi di gagang pintu depan kamarnya.


Jemarinya mulai tergerak untuk meraih bingkisan itu dan membawanya ke dalam.


Senyumnya kembali terukir saat ia mendapati setelan kemeja putih beserta blazer hitam dan sebuah rok yang ada di dalamnya.


"Tumben waras," gumam Gita lirih.

__ADS_1


Ia segera mengenakan pakaian tersebut setelah ia selesai menyegarkan diri. Kemudian seperti biasa ia akan mengepang rambut panjangnya agar terlihat lebih rapi. Namun, ada yg kurang di penampilannya kali ini.


"Apa ya?" Pikirnya berulang. "Ah ... iya, kacamata. Gue taruh mana ya?" tanyanya pada dirinya sendiri sambil mengobrak -abrik isi tasnya.


Gita mendengus lirih saat benda yang ia cari tak kunjung ia temukan.


Matanya membulat sempurna saat ia tak sengaja melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi.


Membuatnya kalang kabut dan tergesa-gesa mengenakan sepatunya.


Gita sedikit lega saat melihat Zayn masih santai selonjoran kaki di ruang tamu.


Ia perlahan menghampiri Zayn dan duduk perlahan di sebelahnya. Dengan sabar menunggu bosnya itu mengajaknya untuk berangkat.


"Lhah! ngapain masih di sini?" Tanya Zayn yang fokus dengan ponsel di tangannya.


"Nungguin bos," jawabnya jujur.


"Elu berangkat sendiri, ngapain nungguin gue!"


"Tapi kita kan searah bos," ucapnya Gita dengan wajah muram.


"Kerjaan gue udah beres, ya ... lu berangkat sendiri lah.


Kan punya kaki, masih bisa buat jalan kan?" sarkasnya meninggi.


Gita menunduk malu. Kenapa tak terlintas di benaknya bahwa pria yang ada di hadapannya ini adalah pria psikopat yang memiliki mulut pedas.


"Ya udah bos, saya permisi berangkat dulu."


Pamit Gita pada Zayn yg masih terfokus dengan ponselnya.


"Hn, sekalian tuh, lu bawa card acces yang ada di meja," titah Zayn seraya beranjak dari tempatnya.


Gita mengagguk, lalu kemudian ia menyimpan card acces itu dalam dompetnya.


Sementara itu Zayn sudah bersiap dengan penampilan maskulinnya. Ia bersiap untuk bertemu dengan Keyra di salah satu butik tempat usahanya untuk membahas beberapa persiapan pemotretan di hari minggu besok.


Mobil Ferrari gold itu bergerak pelan keluar dari parkiran apartemen.


Kemudian kian melaju meninggalkan pelataran tempat itu, melewati sosok Gita yang tengah berdiri di pinggir jalan.


Gita menggeram kesal saat melihat tingkah bosnya yqng benar-benar menyebalkan.


Pasalnya , sudah 15 menit berlalu sejak ia berdiri di depan gedung apartemen ini untuk menunggu taksi yang lewat. Namun satu pun dari mereka tak ada yang berhenti ketika ia melambai mencari tumpangan.


Bahkan bos sialannya itu juga tak berniat untuk memberinya tumpangan .

__ADS_1


"Haish ... Bos sialan!" umpatnya seraya menyusuri jalanan yang ada. Hingga akhirnya ia menemukan tumpangan yang bisa mengantarnya sampai ke perusahaan tempat ia bekerja.


__ADS_2