Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
69.


__ADS_3

Konfirmasi.


Di wilayah paling pelosok, jauh dari lingkup kehidupan yang bisa di sebut dengan kata layak. Sebuah gubuk reyot dengan tumpukan kayu bakar kering di bagian depan rumah.


Rumah liar, kebanyakan orang menyebutnya seperti itu.


Seorang wanita nampak terengah dengan peluh berderai membasahi wajahnya. Wajahnya kusam dengan pakaian compang-camping tak layak pakai yang menutupi anggota tubuhnya. Terlihat jelas, wanita tua itu amat lelah menyandarkan tubuhnya di badan pintu yang masih tertutup. Wajahnya menengadah menatap langit berwarna keabuan, berharap hujan tak lagi turun dan kembali mengguyur bumi.


Jemarinya bergetar mengusap area perutnya yang terasa melilit sejak pagi. Mengingat bahwa seharian ini belum ada sesuap makanan apapun yang masuk dalam pencernaannya.


Ia adalah Indah. Wanita yang dulunya masyhur, digadang-gadang kecantikan dan juga kemolekan tubuhnya. Kini parasnya telah menua, seiring raganya yang tak lagi gemulai seperti dulu. Semua hartanya telah raib tak bersisa, hilang di bawa lari oleh kekasih mudanya. Tepat dua bulan yang lalu, dimana ia telah dinyatakan bebas dan kembali bisa mengirup aroma segar dunia luar. Tiga tahun menghabiskan waktunya dalam dinding penjara membuat ia kembali lupa diri. Ia dengan kepongahannya kembali menerjunkan diri dalam bingar kehidupan malam. Menikmati segarnya rasa anggur dan juga minuman berkelas lainnya yang serasa tak mampu menuntaskan rasa dahaganya.


Kilaunya perlahan mulai meredup, pun pundi-pundinya yang juga mulai menyusut. Seorang pria muda berkebangsaan Belanda mampu menggoyahkan hatinya. Membuat indah lemah dan tak kuasa menahan gejolak asmara. Namun sayang seribu sayang, alih-alih mendapatkan cinta kasih dari sang kekasih, indah malah di campakkan tanpa sepeser harta yang pernah ia punya. Semuanya raib, beralih nama. Sedangkan ia, saat ini tengah merana, menerima nasip menjadi tuna wisma dengan wajah menua. Tanpa belas kasih dari orang-orang terdahulu yang sempat di kenalnya.


Lengkung bibir berwarna merah muda itu terlipat kedalam. Binar matanya memancarkan kepedihan mendalam tatkala melihat sosok maminya yang terkulai tak berdaya. Mungkinkah ini suatu karma?


Usapan lembut hadir di wajahnya, menghapus bulir bening yang nyaris saja terjatuh di pipinya, "Jangan menangis. Bersyukurlah bahwa mami mu masih di beri nikmat kesehatan sampai saat ini," Zayn berucap lembut berupaya menenangkan sang kekasih.


Sudah satu jam berselang, sedang keduanya masih betah berdiam diri di dalam mobil. Bersembunyi di antara rimbunnya pohon pisang dan menyamarkan kehadiran mereka di tempat ini. Masih dari kejauhan, Gita menatap sendu sosok sang mami yang dulunya sangat ia cintai. Namun, perangainya yang terbilang keji membuatnya enggan untuk turun dan menghadirkan peluk rindu untuk wanita tua itu. Hanya dari kejauhan, Gita hanya bisa mengamati sesekali menangisi nasip naas yang telah menimpa sang mami.

__ADS_1


Jarum jam terus berputar cepat, bersamaan dengan perubahan warna langit yang kian gelap. Suara guruh menyambar, menggelegar bersiap menumpahkan segala kandungan air yang akan membasahi permukaan bumi. Gita masih mematung di tempatnya, memandangi sang mami yang mulai kepayahan mengemasi barang-barangnya agar tak terkena tetes air hujan. Raut wajah itu begitu tersiksa, lengkap dengan guratan keriput yang jelas terlihat. Wanita itu telah sepenuhnya berubah, jauh terlihat tua dari sang calon mertua.


"Bukankah kita sudah cukup lama berdiam diri? harusnya sejak tadi, kita sudah turun menemuinya, dan meminta kejelasan akan sesuatu!" tutur Zayn lemah lembut berupaya tak menggores luka di hati sang kekasih.


Gadis itu bergeming, menatap kosong pada kaca jendela yang telah basah akibat guyur air hujan.


"Mungkinkah ia masih mau mengakuiku? setelah ... setelah aku acuh dan membiarkannya hingga sampai seperti saat ini?" Gita menolehkan pandangannya, menatap lurus pada sosok Zayn yang masih memandanginya dengan tatap mata teduh.


"Kita harus mencoba, baru kemudian kita tahu bagaimana hasilnya. Kita tak akan pernah tau bagaimana reaksi mami mu, jika sampai besok kita masih berdiam diri di dalam mobil." Zayn mengeratkan genggamannya, "Turunlah, dan katakan padanya bahwa putri tercantiknya ini kini telah dewasa dan siap untuk melepaskan masa lajangnya."


Gadis itu hanya mengangguk kan kepalanya, jemarinya bergerak cepat menghapus jejak air mata yang sempat menetes di wajahnya. "Maukah, kau menemaniku, menemuinya bersama?" Gita berucap lirih. Sedang Zayn hanya menyimpulkan senyum tipisnya.


Tangannya gemetar, antara iya dan tidak untuk menghadirkan ketukan di badan pintu yang masih tertutup itu. Hingga ucap salam lebih dulu mendahului ketukan dari jemarinya.


"Assalamualaikum," ucap Zayn berulang.


Badan pintu itu kemudian terbuka, dengan sosok wanita mengenakan kain putih lusuh yang menutupi seluruh tubuhnya. Netra yang redup nampak sayu dan terlihat sedih.


Semuanya termangu, diam saling pandang. Hingga akhirnya tanpa aba-aba, wanita itu merangkul Gita dengan paksa.

__ADS_1


Isaknya menggema, memohon ampun atas segala kekacauan yang telah ia lakukan terhadap anak semata wayangnya.


"Benarkah, ini kamu Gita, Gita anak mami?" pertanyaan itu dua kali terucap dengan suara parau dan juga getar yang mengiris hati.


Gita hanya tersenyum pasi, ia mengagguk kecil mengiyakan pertanyaan dari sang mami.


"Mi, bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Hm, tanyakan apa yang ingin kau ketahui nak," tutur indah seraya menghapus air matanya.


"Dimana keberadaan ayahku?"


Pertanyaan itu menggema di telinganya, membuat indah lunglai tak berdaya dan seketika ambruk tak kuasa menopang tubuhnya. "Un-untuk apa menanyakan keberadaannya? bukankah selama ini kita tak pernah membutuhkan nya?"


Gita menundukkan kepalanya, tatap matanya nanar menahan kepedihan, "Katakan mi, untuk sekali ini. Kalau pun dia masih hidup, saat ini aku sedang membutuhkan bantuannya." gadis itu menahan kembali ucapnya, " Aku akan menikah, aku butuh seorang ayah untuk menjadi wali."


Indah mengatupkan bibirnya rapat-rapat, wajahnya berpaling serasa menahan sesak. "Menikahlah nak, walau tanpa ayah pun pernikahan mu akan tetap sah di mata negara dan juga agama. Karena, kau memang terlahir tanpa seorang ayah. Dia meninggal tepat setelah tiga bulan mami mengandung mu.


Ini kebenarannya, maafkan mami yang sering berkata bohong mengenai ayahmu. Sekarang, berbahagialah, arungi kehidupan mu dengan suami pilihan mu. Mami dan ayahmu memberikan restu kepadamu."

__ADS_1


__ADS_2