
Gagal.
Di pagi hari yang terasa sejuk.
Suasana dingin disertai rintik hujan yang semakin deras mengguyur permukaan bumi.
Membuat Zayn terpaksa kembali menggulungkan diri ke dalam selimut tebalnya. Ia meringkukkan tubuhnya dan melipat ke dua lututnya seperti bayi guna menghangatkan suhu tubuhnya yang terasa dingin.
Baru sesaat ia kembali memejamkan ke dua matanya, namun kesadarannya kembali terusik oleh wangi khas masakan rumahan yg sering di nikmati nya dulu. Ia tau persis, pasti saat ini gadisnya itu tengah menyibukkan dirinya di dapur, membuatkan sarapan pagi untuk mereka.
•••••••••••
"Morning." Zayn menuruni anak tangga dengan senyum cerianya. Menghampiri sang gadis pujaan yang nampak sibuk dengan urusan dapurnya. "Perlu bantuan?" imbuhnya lagi seraya mendekatkan diri dan berdiri di samping Gita yang terlihat begitu serius.
"Morning juga, nggak perlu dan nggak usah. Mendingan kamu cuci muka, sikat gigi terus kita sarapan." potongnya cepat tanpa menolehkan kepalanya.
Zayn melipat kedua tangannya di depan dada, "Kamu kok jutek banget sih babe?" protesnya sembari melirik mesra ke arah Gita.
__ADS_1
"Apaan sih! enggak ah," elaknya cepat sembari memalingkan wajahnya. Di raihnya dua piring keramik putih dan disusunnya semua hidangan itu ke atas meja makan. Langkahnya ringan, serta gerak cekatan jemarinya begitu lincah menempatkan menu sarapan pagi itu dengan rapi beserta segelas susu hangat yang siap melengkapi nilai gizi menu mereka.
"Babe, sini bentar deh!" panggil Zayn melambaikan tangannya ke arah Gita. Membuat gadis itu memutar bola matanya malas. Meski begitu ia tetap memilih untuk beranjak dari duduknya dan menghampiri Zayn yang masih berada di area dapur.
"Hm, ada apa?" tanyanya bingung.
"Kamu lupa sesuatu kayaknya," ucap Zayn dengan senyum tipisnya. Pria itu memainkan triknya untuk mengelabui gadis pujaannya itu.
"Enggak kok. Semuanya udah lengkap, nggak ada yg kelupaan." Gadis itu memalingkan wajahnya lagi ke arah meja makan seraya menghitung jumlah sajian yang telah ia hidangkan di sana. "Udah lengkap semua babe," imbuhnya lagi dengan yakin.
Zayn menyunggingkan senyumnya lagi, ia sedikit terkikik ketika melihat ekspresi Gita yang nampak bingung, "Ini yang ketinggalan." Seraya menghadirkan sebuah kecup kecil di kening gadis itu.
Senyumnya kian merekah, lalu kemudian dengan kelembutan ia menyibakkan anak rambut yang menjuntai menutupi wajah gadisnya itu. Jemarinya bergerak pelan, mengusap lembut pipi Gita dan berhasil mengahdirkan gelenyar nyaman di sana. Gadis itu memejam untuk sesaat, menikmati setiap sentuh lembut yang membuatnya kian terbuai dan sulit baginya untuk mengucap suatu penolakan. Ia telah jatuh, untuk kesekian kalinya ia dikalahkan oleh gelenyar aneh yang terasa sangat nyaman menjalari tubuhnya. Rasa aneh yang selalu di hadirkan oleh pria di hadapannya ini.
Seiring menit yg berlalu, mengikis jarak di antara ke duanya. Hingga hembus napas ke duanya saling bertukar, terhirup cepat ketika jarak di antara pucuk hidung mereka hanya terpaut oleh satu ujung jari.
Masih dalam buai kabut asmara, jemari Zayn bergerak cepat mengangkat tubuh Gita dan mendudukkannya di atas meja dapur.
__ADS_1
"Zayn," ucapnya parau sedikit terkejut. Gadis itu refleks memundurkan tubuhnya, menjauhkan wajahnya beberapa centimeter ke belakang dari wajah Zayn.
Pria itu bergeming, ia terlihat sangat bergairah dengan kabut hasrat yg telah menyelimuti dirinya, hingga ia hirau akan rasa takut yg kembali hadir dan timbul di dalam hati Gita. Gadis itu menyilangkan ke dua tangannya di depan dada, ia meringkuk kan tubuhnya dengan suara Isak nya yang sedikit tertahan, "Za-zayn, please jangan begini. Ka-kau membuat ku takut," lirihnya sendu.
Isak nya terdengar begitu memilukan, membuat Zayn tak tega untuk meneruskan permainannya. Dengan gemetar ia menyentuhkan jemarinya di permukaan pipi gita, terasa basah di sana dan ia sadar bahwa ia telah membuat gadis itu kembali kacau. Dengan gerakan lembut ia memberikan pelukan hangat nya, mendekap gadis itu erat-erat dan mengucap kata maaf setulus hati nya. "Aku nggak bermaksud untuk ..." ucapan Zayn terhenti, tiada guna lagi menjelaskan. Hari ini ia telah membuat gadisnya itu terpuruk. Ia melupakan kejadian beberapa waktu yang lalu, dimana gadisnya itu merasa trauma akibat ulah Alex.
"Jangan takut babe, aku nggak akan nglakuin itu ke kamu," ucapnya lirih berusaha menenangkan.
Gadis itu mengerjap, dan secepat kilat menghapus bulir bening yang telah membasahi sebagian wajahnya. "Bodo," ucapnya datar. Wajahnya berpaling kasar , dengan bibir yang mengerucut sempurna. Sementara sesekali netranya mencuri pandang menyelidik ke arah Zayn yang terlihat begitu sendu menundukkan kepalanya.
"Aku minta maaf," ucap Zayn lirih. "Aku tadi niatnya mau adegan romance sama kamu babe, nggak taunya kamu malah nangis," tuturnya merasa bersalah.
Gadis itu bergeming, ia menghalau Zayn untuk menyingkir dari hadapannya. Tubuhnya merosot dan segera turun dari meja dapur. Ia menolehkan kepalanya kilas, "Bercanda kamu nggak lucu," ucapnya dingin sebelum akhirnya ia berjalan cepat menyusuri undakan anak tangga dan menyembunyikan dirinya di dalam kamarnya.
Sementara Zayn, pria itu masih mematung di lantai dapur. Menatap nanar kerja keras Gita yang di rasanya sia-sia. Semua sajian itu telah dingin, menguap, dan tak tersentuh.
Begitupun dengan selera makannya yang mendadak sirna bersamaan dengan perangainya yang membuat Gita terluka.
__ADS_1
Jangan lupa coment nya ya guys. Kalo ada yg kurang pas atau apa, jangan segan untuk bilang. Author selalu menunggu kritik kalian. Terima kasih 😉😉