Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
41.


__ADS_3

Whatever .


"Bunda kenapa sih selalu maksain keinginan bunda sama aku terus?" ucap Zayn yang baru saja tiba di kediaman sang bunda.


Hari ini sudah ia niatkan untuk meluapkan segala yang ada di dalam benaknya.


Sudah cukup baginya untuk diam, kali ini walaupun ia harus bertengkar dengan sang ibunda, Zayn akan tetap angkat suara perihal perjodohan yang telah resmi mengikatnya itu.


"Apa-apaan sih bang! Dateng-dateng bukannya ucap salam malah ngomong gitu sama bunda!" Reynand berujar pelan mengingatkan sang Abang yang di rasanya tak pantas untuk berbicara dengan nada tinggi terhadap bundanya.


"Diem kamu!" peringatnya dingin yang seketika membungkam mulut reynand yang hendak kembali berujar.


Reynand terdiam, ia masih duduk di sofa yang sama dengan sang ibunda yang juga tengah menatap teduh pada sosok Zayn yang terlihat begitu marah.


"Kak! kita bisa bicara baik-baik kan! Jangan teriak-teriak, malu di denger tetangga," ucap ayu penuh kelembutan.


Zayn menengadahkan pandangannya sejenak, napasnya masih naik turun mengiringi emosinya yang kian membuncah.


Ia marah, Ia juga lelah. Seakan dirinya adalah sebuah pion yang selalu di gerak kan sesuai keinginan sang master permainan yang berada di balik layar. Yang tak lain adalah Ibundanya sendiri.


"Kenapa bunda tiba-tiba jodohin aku sama Hanum bund? kenapa bunda nggak tanya dulu ke aku, aku-nya mau atau enggak? setuju apa enggak? sebenarnya bunda anggep aku ini apa sih?" ucap Zayn penuh rasa kecewa.


"Enggak tiba-tiba kok kak. Bunda memang sudah jodohin kamu sejak lama . Bahkan ketika kamu masih di L.A. Bunda memang sengaja nggak kasih tau ke kamu dulu. Karena bunda niatnya biar kalian berdua lebih dulu mengenal satu sama lain. Tanpa kalian tau kalau sebenarnya kalian memang sudah kami jodohkan.


Zayn tersenyum miris, beginikah caranya orang tua mengatur masa depan seorang anak? Tapi kenapa ini seolah tak adil baginya?


"Tapi kenapa harus aku bund? kenapa nggak Reynand aja. Dia kan juga anak bunda. Sama kayak aku dan keyra juga."


Ayu menggeleng pelan, "Reynand masih terlalu muda untuk sebuah pernikahan kak.


Dan lagi, usia kamu sudah cukup matang untuk menjalin sebuah rumah tangga." Tutur ayu seraya membelai lembut wajah Zayn yang mulai memerah.


"Ck. Zayn menampik pelan usapan lembut ayu dari wajahnya. Ia berpaling dari hadapan sang ibunda yang masih menatapnya sendu .


"Aku bukan anak kecil bund, yang apa-apa harus selalu di urusin sama bunda terus.


Aku berhak untuk menentukan masa depan aku sendiri tanpa campur tangan siapapun."

__ADS_1


Ayu mengagguk paham, mengerti dengan kemauan putra sulungnya itu. "Bunda paham kak. Bunda ngerti. Tapi, bunda lakuin ini demi kebaikan kamu juga.


Menurut bunda Hanum bisa kok mendampingi kamu. Lagian dia kan juga seorang model, sama seperti kamu. Kalian bisa sama-sama lanjut berkarya lagi setelah kalian menikah nanti."


"Stop bund! Berhenti ikut campur dalam urusan pribadi aku. Apa dengan bunda memaksa aku menikah dengan Hanum, bisa menjamin kebahagiaan aku bund?"


Ayu terdiam .


"Jawabannya ENGGAK! Nggak akan pernah, dan nggak akan mungkin bund.


Aku nggak mungkin menikah dengan perempuan yang nggak aku suka."


"Bukannya kalian selama ini deket? bunda lihat hubungan kalian selama ini lancar-lancar aja. Tapi kenapa sekarang kamu malah ngomong gini sama bunda kak?" Tutur ayu bertanya-tanya.


"Deket! Tapi cuma sebatas teman bund, nggak lebih."


Di situ ayu seketika terkesiap. "Teman? sedekat itu?" batinnya dalam hati.


Zayn hanya bisa tertunduk, matanya perlahan mulai ber-air. Bersiap menumpahkan segala kecamuk perih yang membungkus hatinya.


Ayu menggeleng lemah, "Maaf kak. Tapi pernikahan tetap akan berlanjut sesuai rencana awal. Semua sudah di persiapkan oleh om Rio. Kita nggak mungkin membatalkan pernikahan secara sepihak."


Zayn menarik napasnya panjang. Relung dadanya seolah diremat kasar seiring penuturan sang ibunda kepadanya. Yang jelas-jelas hasilnya begitu mengecewakan dan sama sekali tak berpihak kepadanya.


"Aku anak bunda bukan sih?" ucap Zayn mempertanyakan jati dirinya.


Jika memang dia adalah putra kandung sang ibunda, lantas kenapa ayu selalu mengenyampingkan perasaannya?


"Abang ngomong apaan sih?" ucap reynand yg sedari tadi hanya bisa diam menyimak pertengkaran di antara bunda dan si Abang.


"Biar Rey yamg nikahin Hanum bund. Percuma juga kalau Abang ... "


Belum sempat kalimatnya terselesaikan, ayu sudah menatapnya dengan sorot mata yang begitu tajam, syarat akan intimidasi dan perlawanan.


"LANCANG!" sarkas sang bunda begitu lantang. Reynand seketika bungkam. Kepalanya menunduk menghindari tatap mata tajam ayu yang mengarah ke padanya.


"Kamu masih kecil, bisnis juga belum bener ! Jangan mikir untuk menikah! Benerin dulu hidup kamu baru mikir untuk ngurusin anak orang." ucap ayu tegas.

__ADS_1


Reynand mengangguk, paham akan peringatan keras dari sang ibunda yang tertuju padanya. Ia hanya bisa diam, menutup rapat mulutnya yang takut-takut malah menimbulkan polemik yang lebih besar nantinya.


Bukan niatnya ingin membuat ayu marah . Melainkan reynand juga merasa iba atas banyaknya beban yang bertumpu pada bahu


Abangnya.


Seumur hidupnya abangnya itu tak pernah sekalipun berkata tidak jika menyangkut perintah sang ibunda.


Namun lihatlah kali ini. Ketika abangnya menyuarakan keberatan, jelas sang ibunda tak bisa menerima keputusan yang Abang nya itu ajukan.


'Kasihan!' hanya itu yg ada di dalam benak reynand.


Ia mengalihkan pandangannya . Beralih pada sang Abang yang kelihatan begitu stress memikirkan masalah ini. "Andai aja gue bisa bantu bang!" batin reynand sedih.


Ia pun tak kuasa jika harus melihat Zayn sampai seperti ini.


"Intinya gini kak! Bunda menjodohkan kamu dengan Hanum itu demi kebaikan kamu sendiri. Hanum sudah jelas bebet dan bobotnya. Jadi bunda harap, kedepannya nggak ada lagi kata penolakan yang keluar dari mulut kamu." Titah ayu tak terbantahkan.


Zayn tersenyum, matanya menatap kosong pada sosok wanita di hadapannya ini.


Kenapa ia seakan tak lagi mengenal seseorang yang selama dua puluh-delapan tahun ini di panggilnya sebagai sebutan bunda. Dimana belas kasihnya yang selalu membuatnya merasa aman dan nyaman ketika berada di bawah naungannya? Benarkah yang di hadapannya saat ini adalah bunda ayu-nya? bunda tercintanya? "Hah!" Helanya lirih.


"Baik bund. Aku bersedia menikah dengan Hanum, seperti keinginan bunda kan?


Maaf, kalau selama ini kakak nggak pernah bisa bahagiain bunda.


Maaf juga kalau kakak nggak pernah berbakti sama bunda.


Kakak tau, tanpa bunda kakak juga pasti nggak ada di dunia ini.


Tapi, kalau aja kakak bisa memilih. Kakak lebih memilih untuk nggak pernah terlahir ke dunia ini. Percuma kakak hidup, tapi kehidupan kakak selalu di kendalikan sama bunda."


Zayn beranjak, berjalan meninggalkan rumah ibundanya. Rumah yang dulunya pernah menjadi tempat ternyaman baginya ketika ia ingin merasa lelah dan kalah.


Jangan lupa. Like, komen, bintang 5 nya ya.


Makasih untuk kalian yang sudah dukung author lewat vote poin πŸ™πŸ™. Author Sangat berterima kasih. Happy reading.

__ADS_1


__ADS_2