
Rasa yg terhempas.
Hari mulai beranjak gelap. Sementara di depan pintu apartemen yang masih tertutup rapat, seorang pria tampan dengan seikat bunga dalam genggamannya nampak tenang mengetukkan jemarinya pelan pada badan pintu. Menanti dengan sabar seseorang yang akan segera membukakan pintu untuknya.
Senyumnya merekah perlahan, seiring munculnya sosok gadis pujaan yang memasang wajah datar dengan gurat senyum tipis di bibirnya. "Maaf," ucap Zayn seraya mengangsurkan sebuah buket bunga kepada gadis pujaan hatinya itu. Senyumnya tertahan sesaat, menanti dengan cemas akan keraguan yang terbesit dalam pikirnya.
Dengan perlahan gadis itu mengulur kan jemarinya guna meraih buket bunga indah nan wangi dari tangan Zayn. Senyumnya mengembang perlahan, terlihat kian sempurna dengan hadirnya lesung pipi indah yang berhias di wajahnya. Gadis itu bergumam lirih, sementara hidungnya masih sibuk mengirup aroma wangi menenangkan yang menguar dari bunga-bunga indah yg di persembahkan untuknya. "Kok udah pulang?" tanyanya lirih seraya melangkah masuk ke dalam ruang tamu, di ikuti oleh Zayn yang mengekor di belakangnya. Pria itu terlihat tenang, mendudukkan dirinya dengan santai di sofa tamu keluarga.
"Bunda pengen ketemu kamu katanya babe. Gih, siap-siap."
Gadis itu termangu untuk sesaat, wajahnya nampak ragu akan hal yang mungkin saja akan membuatnya kembali di hadapkan dengan rasa kecewa. "Ekhm, bunda kamu bilang apa lagi?"
Zayn tersenyum lembut, sementara jemarinya bergerak pelan menghadirkan usapan lembut di pipi gadisnya itu, "Bunda dan yang lain cuma pengen kenalan sama kamu babe, nggak usah takut dan nggak perlu khawatir. Mereka sudah membuka hati dan menerima hubungan kita."
Sontak gadis itu terperangah, bibirnya sedikit bergetar sebelum akhirnya senyum sumringah dengan rona kelegaan tersirat di wajahnya, "Ka-kamu serius babe ?" tanyanya sekali lagi guna memastikan bahwa apa yang ia dengar bukanlah suatu kebohongan.
Zayn hanya menganggukan kepalanya perlahan, mengiyakan setiap jawaban darinya yg sempat di ragukan oleh Gadis kesayangannya itu.
"Bersiap-siap lah, dan kita akan segera pergi menemui mereka," titah Zayn penuh kelembutan.
•••••••••••
Cafe and resto idol.
__ADS_1
Zayn dan Gita baru saja sampai di cafe yang tengah ramai oleh pengunjung itu. Mereka berjalan beriringan dengan tangan yang saling melingkar di tempatnya masing-masing. Gita nampak anggun dengan dress warna hitam yang membalut tubuh indahnya. Riasan yg natural dengan rambut berwarna hitam legam yg menjadi ciri kepribadiannya yg baru. Mereka nampak serasi dengan Zayn yang menggunakan jas warna senada.
Di ujung sudut bagian kanan di dalam cafe. Sebuah meja persegi panjang dengan beberapa hidangan kelas atas telah tersaji dengan rapi di sana. Beberapa kursi juga telah terisi, masih tersisa dua kursi kosong yang belum terisi oleh anggota keluarga Malik Ahmad itu.
"Assalamualaikum." Seucap salam terucap dengan santun dari bibir ke dua pasangan muda itu. Senyum tipis ke duanya saling bertukar seiring sambutan salam hangat dan juga peluk sayang dari sang ibunda. Wanita paruh baya itu segera berdiri dan merangkul putra dan juga calon menantunya dengan penuh kasih. "Waalaikumsalam," ucap ayu seraya tersenyum lembut.
Kedatangan keduanya di sambut hangat oleh semua keluarga, termasuk keyra dan juga reynand. Kedua saudaranya itu ikut bahagia, terkait keputusan yang di ambil oleh sang ibunda mengenai restu yang telah ia berikan kepada sang abang.
Namun, di sisi lain. Ada satu pasang mata yang tiada terpancar kebahagiaan yang tersirat di dalamnya. Gadis itu menatap penuh benci dengan sosok gita yang tengah duduk di samping pria yang begitu ia cintai. Napasnya kian tersengal, menahan buncahan amarah yg serasa membakar hatinya.
Harusnya aku yang di sana, Zayn. Harusnya aku!
Hanum berusaha tegar, menahan kecamuk benci sekaligus cemburu yang mengoyak relung jiwanya. Ia tak terima melihat gadis di hadapannya itu nampak tersenyum penuh kepongahan, mendapat kan segala kasih yang seharusnya menjadi miliknya. Ia iri, jika bukan karena gadis itu, mungkin seharusnya saat ini ia tengah berbahagia menyemai kasih dengan sang suami idaman pilihannya.
Sementara Hanum, ia harus menahan segala sesak yang hadir dalam hidup nya. Ia hanya bisa menatap penuh ironi, menatap penuh benci pada sosok reynand yang duduk tenang di sampingnya. Pria itu sama sekali tak bisa menghadirkan cinta untuknya, hatinya sama sekali tak bisa tergerak dan tersentuh oleh segala hal yang telah di lakukan reynand terhadapnya. Ia telah buta, hatinya sepenuhnya telah terkunci untuk Zayn seorang.
Hanum mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, binar di matanya tak lagi dapat untuk ia sembunyikan. Sesak terasa amat menyiksa batinnya. Hatinya serasa hancur berkeping-keping tatkala mendengar pembahasan mengenai sebuah pernikahan yang akan segera berlangsung di kediaman keluarga Malik di waktu dekat ini.
Ia beranjak dari duduknya, senyumnya merekah sempurna, bagai sebuah topeng yang menjadi pelindung di wajahnya. Menutupi segala sakit dan kehancuran yang terasa meleburkan seluruh jiwanya. Ia beranjak, meninggalkan anggota keluarga lain yang masih menikmati bincang hangat seputaran karir Gita di kancah model Eropa.
Hanum melangkah gontai. Kakinya berpijak pelan menapaki tangga menuju area panggung. Lampu telah sepenuhnya di padamkan. Hanya satu lampu sorot yang mengarah tepat di bagian panggung. Menyoroti seorang wanita dengan wajah sendu yang berdiri di atas sana. Petik senar gitar klasik, mengalunkan suara indah nan mendayu menyayat hati. Jelas lagu yang akan di bawakan nya ialah lagu berirama sendu.
Gadis itu memejamkan matanya rapat, merasakan setiap rasa sakit guna menghayati syair lagu yg akan ia bawakan.
__ADS_1
*Sering kali ku pandang, tenang raut wajahmu
Terasa seluruh raga larut dalam getar
Nyatanya hatiku musnah menahan perasaan.
Entah berapa lama harus memendam rasa
Bimbang keinginan hati, hanya sisa mimpi
Mampukah yang kuinginkan jadi kenyataan* ...
Ku insan tak sempurna, yang inginkan kasihmu
Tapi dapatkan kau terima, aku berbanding dia
Andai kau menolak cintaku
Biarlah aku simpan, perasaan ini darimu
Kemas di dalam hatiku ... Sendiri.
Pedih cinta hadir tanpa diduga
__ADS_1
Akan ku arungi kesedihan ini ...
Binar mata itu kian memerah, Hanum tak kuasa menahan segala sesak yang merayapi hatinya. Gadis itu menutup mulutnya rapat, menahan Isaknya agar tak sampai lolos dari mulutnya. Sementara air matanya telah berjatuhan, berderai membasahi wajah cantiknya. Sebuah lagu yang sangat mengena dalam hidupnya, kisah cintanya yg seolah tak bersambut, seolah tercurah dalam setiap bait nada dari lagu yang baru saja ia bawakan. Hanum hanya bisa melengkung kan bibirnya penuh keterpaksaan, gadis itu telah sepenuhnya kalah, tak lagi memiliki sebuah kesempatan untuk memiliki pria yang ia cintai.