
Bermalas-malasan di hari minggu yang cerah.
Satu keluarga kecil itu masih enggan untuk beranjak dari tempat tidur yang dirasanya begitu nyaman dan menahan mereka untuk tetap berbaring di atasnya.
Kaki mungil itu bertumpu di atas kedua kaki dewasa lainnya, yang tak lain adalah momy dan daddy-nya.
Mereka seringkali tidur bersama beberapa waktu terakhir ini, karena putra pertama mereka yaitu Asraf ingin bermanja-manja dengan kedua orangtuanya sebelum adik bayinya terlahir ke dunia.
Bocah kecil itu sangat pandai merayu kedua orangtuanya, membuat mereka tak mampu untuk berkata tidak dan selalu mengiyakan permintaan sang putra asalkan masih dalam permintaan yang wajar dan tak terlampau berlebihan.
"Mommy, jika nanti adik bayi lahir apakah Mommy dan Daddy masih mau untuk membagi tempat tidur kalian bersamaku?" tanyanya dengan nada lembut seraya bergelayut manja dalam pelukan gita.
Mendengar itu membuat Gita dan Zayn saling beradu pandang, lalu keduanya tertawa lirih.
"Tentu saja boleh. Kau dan adik bayi akan berbagi ranjang yang sama bersama Daddy dan juga Mommy," Zayn menjawabnya dengan gemas, seraya mengacak rambut putranya dengan lembut.
Gita tersenyum senang ketika melihat interaksi sehangat ini yang terjalin dalam keluarganya, ia bahagia dan berharap agar kehangatan ini tak pernah sirna termakan oleh usia.
"Bisakah kita bangun sekarang? Kau sudah menahan Mommy di sini selama satu jam, dan Mommy harus olahraga pagi sebentar sebelum pergi ke dokter untuk melihat kondisi adik bayi kita. Apakah putra tampan ku ini tidak keberatan menemani mommy jalan-jalan pagi sebentar?" tanya Gita dengan suara lembutnya.
__ADS_1
Asraf mengagguk penuh semangat, ia bergegas beranjak dari tempat tidurnya lalu kemudian mengikuti Gita dari belakang.
Kakinya menghentak kecil, mengikuti irama lagu yang di senandungkan Gita, ia selalu semangat dan setia menemani mommy-nya kemanapun wanita itu pergi.
Karena baginya bisa bersama dengan Mommy-nya adalah satu kebahagiaan yang tak akan pernah bisa di dapatkannya dari hal lain.
Senandung lirih menemani hentakan langkah kaki kecil yang teramat riang itu berkeliling sekitar halaman rumahnya.
Gita yang membungkus tubuhnya dengan jaket tebal pun terlihat bersemangat mengayunkan kakinya menapaki area halaman rumahnya yang luas dengan bulir peluh yang mulai membasahi seluruh tubuhnya.
Raut wajahnya terlihat lelah, namun senyumnya masih saja tersungging di sudut bibirnya. Menandakan ia masih kuat untuk menemani sang putra berolahraga bersama.
Diusapnya dengan kelembutan, tak tertinggal pula senyuman lugu yang selalu ditorehkan oleh putranya itu mampu membuat Gita merasa beruntung dan sangat dihargai sebagai orangtua.
"Mommy, kelak jika aku sudah dewasa dan aku mulai sibuk dengan duniaku sendiri, maka ingatkan aku bahwa Mommy pernah menemaniku bermain hingga peluhmu ini membasahi seluruh wajahmu.
Ingatkan aku bahwa kasihmu begitu luas dan jangan bosan untuk mengingatkan aku bahwa kau adalah mommy ku. Mommy yang melahirkan ku dan merawatku hingga aku tumbuh dewasa nanti," ujarnya seraya memeluk erat Gita.
Sontak hatinya pun tersentuh mendengar kalimat dari putranya, entah siapa yang mengajarinya untuk berucap seperti itu di usianya yang masih terbilang dini.
__ADS_1
Senyumnya terukir sempurna disertai dengan gurat bahagia yang memancar dari wajahnya, ia memeluk putranya dengan sayang seraya menghadirkan usapan lembut pada punggung putra kecilnya itu, "sayang, kelak jika kau sudah dewasa nanti dan mommy mu ini mulai menua di makan usia, mungkin Mommy mu ini akan seringkali membuat mu kesal dengan segala perbuatan mommy, di situ maka Mommy minta agar kamu mau memaklumi kekurangan mommy dan tidak membenci Mommy ya, sayang," jawab Gita dengan suara parau.
Nadanya bergetar seolah ucapannya itu tercurah melalui hati terdalamnya.
Ia seorang ibu, dan ia seringkali tersentuh oleh kata-kata yang di lontarkan oleh putranya. Semua begitu bermakna baginya termasuk dengan kasih sayang Asraf terhadap dirinya dan juga calon adiknya.
Gelengan kepala yang bergerak perlahan itu menjadi jawaban dari tutur kata Gita.
Asraf yang baru saja melepas rengkuhkan mommy-nya itu pun dengan segera menangkupkan jemari mungilnya ke wajah gita. Sorot matanya menunjukkan kesungguhan sedang tutur katanya terdengar meyakinkan. "Aku tidak akan pernah merasa seperti itu, apalagi terhadap mommy ku yang paling ku cintai ini.
Mommy, Asraf sayang mommy, begitupun dengan Daddy dan juga adik bayi.
Entah sampai kapanpun nanti, mommy, daddy, dan adik bayi tetap akan menjadi kesayangan Asraf.
Jadi ... mommy jangan pernah berpikir bahwa mungkin nanti Asraf akan benci terhadap mommy.
Karena Asraf tau, perjuangan mommy untuk membesarkan kami itu sangatlah berarti." Asraf kembali merengkuhkan lengannya untuk memeluk Gita. Dipeluknya dengan sayang lalu kemudian di kecupnya kening mommy-nya dengan penuh kelembutan.
"Aku menyayangimu, mommy."
__ADS_1