Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
39.


__ADS_3

Annoying.πŸ‘ŠπŸ‘Š


Lagi-lagi Zayn harus menelan pil pahit kehidupan. Hari ini dia harus kembali terseret dalam drama mainan yang sudah di susun rapi oleh keluarganya sendiri.


Ia lelah, seharusnya Hanum sudah memikirkan masak-masak soal kelanjutan perjodohan bodoh ini.


Tapi kenapa gadis itu seolah tuli akan kisahnya yang sempat ia beberkan padanya sejak seminggu yang lalu. Jika Hanum sudah menolak, seharusnya bundanya tidak akan lagi mengadakan acara makan malam bersama dengan om Rio. Jika om Rio hadir, bukan kah Hanum juga akan hadir di sana?


Mungkinkah ini menyangkut pembahasan tentang hubungan mereka?


Zayn terus menerka-nerka segala kemungkinan yang ada.


Ia mendengus lelah mengikuti setiap permainan ini. Bahkan ia tak kuasa untuk menolak hal yang bahkan tidak ia inginkan.


Konyol dan juga *****. Ia seperti kerbau yang di cucuk hidungnya jika sudah berhadapan dengan ayu. Wanita tua itu memiliki sisi yang sama dengan yang Zayn miliki. Keras kepala dan otoriter. Berdebat dengan sang bunda bukanlah sebuah pilihan yang bagus. Alih-alih masalah selesai, yang ada masalah akan bertambah parah jika sampai penyakit ayu kambuh saat sesi perdebatan di mulai.


Ia hanya bisa bilang, "iya". Meskipun nyatanya batinnya meronta menolak untuk setuju.


Hanya itu yang bisa ia lakukan. Menjadi anak yang berbakti demi menyenangkan hati orang tua. Bodoh bukan!


Sama seperti malam minggu yang lalu. Zayn sudah tiba lagi di rumah sang ibunda.


Mood-nya mendadak jelek saat lagi-lagi ia harus di hadapkan dengan sesuatu yang tak ia suka.


Kehadiran Om Rio dan juga Hanum di sana membuat Zayn kian yakin akan hasil akhir dari pertemuan ini.


Bahkan pengakuannya tak berdampak apapun pada Hanum. Gadis itu masih bisa duduk bersanding dengan sang Ibundanya dengan begitu tenang. Dari wajahnya sama sekali tak menampakkan kegelisahan atau sebuah keberatan. Ia malah terlihat begitu tenang dengan senyum cantik yang terurai di wajahnya.


Entahlah, Zayn serasa tak mengenal Gadis di hadapannya ini . Ia tak percaya bahwa gadis yang selama tiga tahun ini menemani sesi curhatnya kini malah menjadi calon pasangannya.


Jujur, ini aneh. Dan terlalu mendadak.


Dulu memang ia sempat menaruh suka pada Hanum, namun rasa itu tak bertahan lama bertahta di singgasana hatinya. Sebelum akhirnya ia sadar bahwa cinta sesungguhnya malah di hadirkan oleh Gita. Perempuan yang sempat ia perlakukan dengan tidak layak. Gadis itu berhasil mencuri hati dan jiwanya.

__ADS_1


Bahkan sampai saat ini pun, hatinya masih tersimpan dengan nama pemilik yang sama.


Gita. Hanya Gita.


Zayn merasa jengah dengan perbincangan yang terasa membosankan ini. Mereka hanya sibuk membahas soal yang sama dan itu berlaku untuk beberapa kali.


Ia bosan dan memilih untuk pergi dari pertemuan itu.


Ia pergi tanpa pamit, dan membuat orang-orang yang ada di ruangan itu terhenyak untuk sesaat ketika melihat kepergian Zayn yang terkesan tak memiliki rasa sopan.


Ayu hanya bisa menahan sedikit kekecewaannya dalam diam, ketika melihat tingkah Zayn yang sangat tak menghargai kedatangan tamu.


Ia hendak berdiri dan membawa putranya itu untuk kembali duduk bersama membahas lebih lanjut mengenai jalinan hubungan di antara anak-anaknya.


Namun Hanum sepertinya punya inisiatif sendiri. Dengan sopan ia memegang pergelangan tangan ayu dan menahannya untuk tetap duduk . "Biar aku aja tant," ucapnya segera berdiri mengikuti Zayn ke luar rumah.


Hanum mulai mondar-mandir kesana-kemari mencari sosok Zayn yang tak terlihat di manapun. "Tapi mobilnya masih ada! Kemana sih dia?" gerutunya mulai kesal.


Sampai akhirnya ia berhenti di sebuah bangku karena rasa lelah yang mulai mendera pergelangan kakinya. Hanum mulai memijit pelan bagian betisnya yang mulai terasa kebas. Sesekali ia bergumam mempertanyakan keberadaan Zayn pada dirinya sendiri.


Sementara Zayn, ia jelas sudah tau akan kehadiran Hanum di sampingnya. Ia hanya diam dan mendengarkan semua gerutu kecil yang Hanum ucapkan.


Zayn menyandarkan kepalanya di sandaran bangku tersebut. Matanya terpejam seolah lelah dengan cerita kehidupannya yang semakin rumit.


"Kenapa kamu kesini, Num?" Zayn akhirnya membuka mulutnya setelah terdiam cukup lama.


Hanum terkejut ketika mendengar Zayn yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya. Sejak kapan pria itu berada di tempat ini? "Ehm, kakak sejak kapan di sini?" Hanum balik bertanya kepada Zayn.


"Sejak tadi, sebelum kamu duduk di sini. Kamu ngapain ke sini lagi?"


"Ehm ..." Hanum nampak gugup dan malah bergumam tak jelas menanggapi pertanyaan dari Zayn.


Zayn mendengus lirih, "kamu udah pikirin mateng -mateng soal rencana bunda sama papa kamu itu?"

__ADS_1


Hanum hanya mengangguk kilas, mengiyakan pertanyaan dari Zayn.


"Beneran kamu siap .Kamu siap nggak kalau suatu saat nanti mungkin di antara kita nggak bisa lagi senyaman saat ini?" ucap Zayn begitu tenang.


Hanum terkesiap, "mungkinkah ini suatu peringatan?" pikirnya bingung.


"Maksud kakak gimana? Kenapa kita harus merasa nggak nyaman?"


"Ya, kamu pasti tau lah! gimana rasanya berada dalam keterpaksaan. Semisal gini, kamu udah berasa kenyang, tapi ada orang yang maksa kamu untuk habisin lagi makanan yang lain. Menurut kamu gimana? Kamu pasti nggak mau makan, kan?


Atau kamu bakalan tetep telan semua makanan itu meskipun nyatanya itu menyiksa diri kamu sendiri. Kamu pilih yang mana?" tanya Zayn mencondongkan kepalanya lebih dekat dengan Hanum.


Gadis itu terdiam sejenak, ia nampak berpikir mengenai keputusannya. "A-aku bakal makan meskipun itu bakal bikin perut aku sakit kak." Jawabnya sedikit bimbang.


Zayn memundurkan kepalanya, menjauh dari wajah Hanum. Ia menggeram kesal menghadapi gadis ini.


"Aku rasa makin kesini lama-lama kamu makin nyebelin ya, Num." Ucap Zayn mulai meninggi.


"Tapi nggak masalah sih! Kamu bebas untuk memilih. Kalau kamu memang tetep kekeuh dengan keputusan lanjut, aku sih nggak apa-apa. Asalkan di belakang kamu nggak akan nyesel karena udah milih aku." terangnya santai.


"Kak! Masih ada waktu sekitar dua bulan sebelum pernikahan terjadi. Aku yakin kakak pasti bisa lupain perempuan itu."


"Cuma dua bulan? gimana kamu bisa begitu yakin dalam jangka dua bulan aku bisa lupain Gita dari hidup aku? Sementara selama tiga tahun ini dia pergi bahkan sampai sekarang pun aku nggak bisa menerima kehadiran wanita lain di hati aku, Num! Kenapa kamu bisa begitu yakin kalau aku bisa segera berpaling ke kamu hanya dalam waktu dua bulan?"


Zayn menggeleng kan kepalanya pelan, ia begitu heran dengan keyakinan yang Hanum miliki.


"Tapi ya udahlah ya. Kita jalanin aja yang ada. Toh cuma nikah," ucapnya lirih sembari menjauhkan diri dari Hanum.


Gadis itu masih bungkam seiring kepergian Zayn yang sudah semakin menjauh darinya.


Ia sedih karena mendapat perlakuan yang berbeda dari sebelumnya. Kemana Zayn yang ia kenal dulu. Yang sering kali membuatnya tertawa dan tak pernah mengeluarkan tatapan tajamnya itu untuk dirinya. Tapi kenapa sekarang setelah hubungan mereka akan segera di resmikan dalam ikatan yang lebih serius, keadaan seolah berbanding terbalik?


Zayn begitu asing dan terlihat begitu dingin kepadanya? Hanum kian bingung. Tapi ia juga memiliki rasa yang selalu tersimpan hanya untuk pria dingin itu. Pria yang sudah menghangat kan hatinya kembali setelah sekian lama ia terpuruk dalam pahitnya perpisahan.

__ADS_1


Bolehkah jika kali ini ia memilih untuk egois?


__ADS_2