Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
42.


__ADS_3

Attention !! Sorry author bikin pengumumannya di atas ya 🙏 . Jadi gini readers ku sayang. Perlu di ingat ini cuma sebuah karangan fiktif yang tidak bermaksud untuk menyinggung soal kasta, agama, atau apapun ya . Author nulis novel tujuannya hanya untuk menyalurkan imajinasinya author saja. Tidak bermaksud untung menyingung atau membuat perdebatan di antara para readers aku. Terimakasih untuk para readers ku yang selalu hadir menyempatkan waktunya untuk membaca novel aku yang masih asburd ini. Maafkan kalau ada kesalahan di dalam penulisan aku ya. Happy reading ☺️☺️


Paris Perancis. Again


Di saat rasa lelah kian menyerbunya. Tubuh lunglai itu berjalan terseok menyusuri jalanan sepi menuju rumah tinggalnya. Hari ini ia pulang lebih awal dari jam biasanya.


Tubuhnya serasa lemah tak berdaya dan nyaris ambruk di tepian jalan ketika ia hendak beralih profesi dari pekerjaannya yang lain. Untunglah masih ada orang baik yang dengan suka rela bersedia mengantarnya pulang kembali ke kediaman Amber.


"Manquer !! Manquer !! (Nona) .


Seorang pria berwajah blasteran itu menepuk-nepuk area rahang gita guna membangunkan Gita yang masih pingsan di tepi jalan. Untung saja kebetulan mobil yang ia kendarai tepat melintas sesaat setelah gadis itu ambruk ke tepian jalan.


Gita menautkan ke dua alisnya. Samar-samar ia mendengar suara panik dan juga sentuhan lembut yang hadir di wajahnya. "Siapa?" ucapnya pelan sembari mencoba membuka matanya yang terasa berat.


Seorang pria berwajah mulus dengan rahang yang tegas tanpa helaian rambut yang menghiasi bagian dagunya. Usianya masih terlihat begitu muda.


Pesonanya kian menarik dengan hadirnya corak tinta yang mewarnai area lengan dan juga tubuhnya yang lain . Begitulah penglihatan samar yang di lihat Gita sebelum kesadarannya benar-benar lenyap di bawah alam sadarnya.


Amber yang sedang menyirami bunga-bunga di halaman depan nampak terkejut dengan kedatangan sebuah mobil BMW seri terbaru yang terparkir rapi di pelataran rumahnya.


Seorang pemuda turun dan memberikan salam kepadanya.


"Selamat sore bibi, maaf saya mengganggu waktu anda sejenak. Apakah benar ada seorang wanita bernama Gita yang tinggal di sini?" pemuda itu bertanya dengan begitu sopan.


"Ah, iya. Gita memang tinggal di sini. Apa ada sesuatu yang terjadi kepadanya?" Amber berseru panik .

__ADS_1


Pemuda itu tersenyum lega. "Ah tidak. Aku menemukannya dalam keadaan pingsan di tepian jalan tadi."


Amber menutup mulutnya yang masih ternganga, ia shyok mendengar Gita pingsan di jalanan. "Ha! lantas, dimana dia sekarang? Apakah di rumah sakit?"


Pemuda itu menggeleng pelan, "Dia ada di mobil ku. Sebentar aku akan membantu bibi untuk membawanya masuk kedalam untuk beristirahat."


Pemuda itu kemudian berbalik, lalu kembali dengan tubuh Gita yang sudah berada di dalam kungkungan lengannya. Dengan mata yang masih terpejam dan gurat hitam yang melapisi bagian kantung matanya.


Wajahnya terlihat begitu pucat dengan bibirnya yang juga ikut memutih.


Setelah tiba di kamar Gita pemuda itu dengan perlahan membaringkan tubuh lunglai tak berdaya gita di atas ranjang dengan sangat hati-hati. Ia lakukan selembut mungkin agar tak membuat gadis itu kembali terjaga.


Di raihnya selimut dan di taruhnya di atas tubuh Gita guna menutupi bagian bawah tubuhnya agar lebih merasa nyaman.


Pemuda itu masih mematung di sisi tempat tidur Gita. Memandangi wajah damai seorang wanita asing yang tengah terlelap di hadapannya. Senyumnya kembali terangkat, entah apa yang menurutnya lucu dari seorang wanita yang tengah tak sadarkan diri.


Amber mulai menerka-nerka dengan berbagai asumsi di kepalanya. Mungkinkah pemuda di hadapannya ini adalah seorang pelaku kriminal yang menyembunyikan kedoknya dengan dalih menolong Gita dari pingsannya? Kenapa tak terpikirkan olehnya sejak tadi!


Amber bergerak pelan untuk meraih pemukul baseball yang ada di sisi almari. Ia ambil secara perlahan selagi fokus pemuda itu masih mengarah ke pada Gita. Di usianya yang tak lagi muda Amber sudah paham dengan berbagai modus kriminalitas seperti ini. Dengan cepat ia mengayunkan tangannya ketika mendapati bahwa pemuda itu hendak beranjak dari sana.


"Berhenti di sana nak!" Amber menudingkan pemukul yang terlihat keras itu pada pemuda di hadapannya.


Sontak pemuda itu terkesiap dan mematung seketika. Kenapa tiba-tiba ia merasa di-intimidasi di sini. pemuda ini mengangkat ke dua tangannya di atas kepala. Netranya nampak mengawasi pada tangan Amber yang sudah mulai gemetar. "Maaf bibi! Apa aku melakukan kesalahan?" tanya pemuda itu dengan bahasa yang terbilang sopan.


"Berhenti di sana! Jangan coba-coba untuk kabur!" titah Amber dengan gemetar.

__ADS_1


"Tunggu, tunggu. Kurasa anda salah paham bibi."


"Berhenti berbicara. Jangan kau pikir bisa membodohi wanita tua ini nak! Aku tau betul tentang modus kejahatan baru yang kau lakukan," ucap Amber dengan sedikit takut.


Pemuda itu sontak tertawa, sementara Amber hanya bisa mematung mengawasi tingkah pemuda yang malah terbahak di hadapannya .


"Stop!" Amber mengacungkan lagi tongkat baseball di tangannya. Memperingati pemuda itu untuk diam.


"Ekm, ekm! Pemuda itu masih berusaha menahan tawanya. Sungguh baru kali ini ia malah di tuding sebagai seorang penjahat setelah menolong seseorang.


"Tenanglah bibi, aku bukan seorang penjahat! Tuturnya lembut lalu menjelaskan rincian kejadian yang sebenarnya.


"Bibi bisa bertanya dengan supir ku, dia juga melihat bahwa gadis ini tiba-tiba ambruk di tepi jalan. Dia bisa jadi saksi jika bibi masih ragu dengan penjelasan ku. Aku hanya berbaik hati dengan menolongnya. Sungguh! Kita bisa membawanya ke rumah sakit untuk memastikan keadaan yang sesungguhnya."


Perlahan Amber menurunkan pemukul itu dari tangannya. Setelah mendengar penjelasan secara rinci, akhirnya ia paham dan meminta maaf atas asumsinya yang terlalu berlebihan terhadap pemuda di hadapannya ini.


Pemuda itu mengagguk, paham akan tingkat kewaspadaan Amber terhadap dirinya.


Ia melirik jam tangannya kilas sebelum kemudian ia berpamitan untuk undur diri karena urusan pekerjaan yang sudah menunggunya.


Sebelum pergi, pemuda itu meminta ijin untuk kembali datang esok hari guna melihat keadaan Gita. Ia juga menawarkan rawat inap di rumah sakit jika keadaan gadis itu tak kunjung jua membaik.


Amber tersenyum senang, ia memberi ijin jika pemuda itu memang berniat datang kembali untuk melihat keadaan Gita. Ia mengantarkan pemuda itu hingga kedepan rumahnya kemudian kembali masuk ketika mobil yang di kendarai pemuda itu benar-benar hilang di ujung jalan.


Sorry partnya garing banget. Ini masih kisah Gita selama 2 th di negri Paris.

__ADS_1


masih ada lanjutannya di bab berikutnya.


__ADS_2