Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
54.


__ADS_3

Pelepasan ,,


Gerak lambat anggota tubuh di bawah gemericiknya air mengalir di kamar mandi menjadi saksi pelepasan ribuan calon benih buangan yg terhanyut mengikuti arus air.


Zayn melenguh panjang seiring pelepasannya yang terasa memuaskan.


Ia menengadahkan kepalanya ke atas menatap langit kaca kamar mandi yang sedikit mengembun. Menikmati rasa puas yang masih


membuncah di tubuhnya.


Ia mer*mas rambutnya perlahan sebelum akhirnya jemarinya menyambar handuk putih yang tergantung di dinding.


Ia telah selesai menuntaskan inginnya, meski nyatanya ia tak menyelesaikan dengan cara semestinya.


Zayn keluar dari kamar mandi di sertai aroma segar yang ikut menguar seiring keluarnya ia dari dalam sana.


Rambutnya yang basah dengan balutan handuk yang hanya sebatas lututnya.


Menampakkan bagian perut sixpack yang terbentuk rapi dan juga kekar. Yang pastinya akan menggoda naluri kaum hawa untuk menyentuhnya ketika melihat otot-otot kekar itu terbuka tanpa sebuah kain yang menutupinya.


Zayn membuka almarinya mengambil sebuah piyama tidur untuk segera ia pakai.


Kakinya melangkah pelan, menyusuri sisi tempat tidur yang telah terbaring sebuah tubuh di atasnya.


Gita masih terlelap di sana, ia lelah setelah bibirnya puas meracau memaksakan kehendaknya kepada Zayn.


Ia tergeletak pingsan menahan lelah ketika Zayn bergeming dan bertindak layaknya pria perkasa yang bisa membuatnya melayang bebas bagai terbang ke awan.


Gadis itu masih sama seperti dulu, wajahnya yang bersemu dan juga bibirnya yang berwarna merah muda.


Bibir yang masih memiliki rasa manis yang sama seperti terakhir kali Zayn mengecupnya di tiga tahun yang lalu.


Ia rindu, bahkan sangat rindu kepada gadis itu.


Tapi keadaan sudah berbeda.


Mereka bukanlah sepasang kekasih, dan Gita bukan lagi seorang budak nafsu yang bisa melayaninya dan menuntaskan inginnya kapan pun ia mau.


Ia bukan lagi pria brengsek yang selalu memaksakan kehendaknya dengan berlaku kasar dan juga merenggut paksa.


"Cukup sekali, dan itu dengan mu git."


Zayn meletakkan gelas anggurnya ke atas meja nakas. Hawa dingin di musim gugur seakan menambah kebahagiaan para pasangan kekasih di luaran sana , berbeda dengan Zayn yang hanya bisa menikmati dinginnya kota Paris dengan hanya memandangi nyenyaknya sang pujaan hati ketika sedang terlelap.


Gadis itu masih meringkuk sembari membekap erat lututnya.


Seakan menyamarkan hawa dingin yang kian menyergap seiring waktu yang semakin larut.


Zayn meraih selimut dan menutupi sebagian tubuh Gita yang terbuka.


"Mimpi indah baby," ucap Zayn sembari memberikan kecupan kecilnya di kening Gita.


Sesaat kening gadis itu berkerut namun tak lama kemudian kembali lagi kebentuk semula dengan bibirnya yang juga ikut menyungging kan senyum.


Gadis itu terlihat damai dalam tidurnya, seakan segala beban dan kepura-puraan nya ikut terlepas dari wajahnya.

__ADS_1


•••••••••••••••


Ketika matahari mulai beranjak naik menampakkan cahaya terangnya di pukul sembilan pagi.


Gita menggeliat nyaman merentang kan ke dua tangannya ke atas.


Menikmati lekuk tubuhnya yang terasa lebih ringan dan juga bugar .


Matanya mengerjap beberapa kali, menelisik dimana keberadaan nya saat ini.


Interior yang berbeda dengan nuansa klasik yang menyiratkan kemewahan di setiap sudutnya.


"Ini dimana?" kerjapnya bingung.


Ia beranjak turun dari ranjangnya dan netra pun mendapati Zayn yang tengah berbaring di atas sofa panjang di ruangan yang sama dengan nya.


Pria itu nampak tenang terhanyut dalam buai tidurnya.


"Zayn!" ucapnya lirih. Gadis itu telah berdiri tepat di samping Zayn yang masih terlelap.


Ia duduk bersimpuh, mensejajarkan kepalanya dengan wajah Zayn.


Mengamati setiap keindahan yang di anugrah kan Tuhan kepada mahluk lawan jenis yang tengah terbaring di hadapannya ini.


Wajahnya kian mendekat, mengikis inci demi inci yg tersisa di antara mereka.


Hembusan nafpas halus Zayn menerpa pucuk hidungnya. Gita memejamkan matanya sejenak menikmati aroma mint yang menguar dan mengisi rongga hidungnya.


Cup.


Ia refleks memundurkan tubuhnya hingga ia terjerembab ke belakang.


"Ka-kau!" tunjuk Gita pada Zayn yang sudah menguraikan senyum lebarnya.


"Hmm, ciuman selamat pagi."


"Dasar penipu!" ucap Gita ketus memalingkan wajahnya.


Zayn beranjak dan mengulurkan tangannya, menarik pergelangan tangan gadis itu untuk di ajaknya berdiri.


Gita masih memalingkan wajahnya. Entah karena malu atau kesal karena merasa di permainkan oleh Zayn.


Tapi yg pasti senyum samarnya kembali tertoreh di sudut bibirnya.


Apapun itu, jika sudah berhubungan dengan Zayn hatinya serasa luluh dan tak berdaya.


Ia selalu kalah melawan bentuk usaha penolakan yang akan ia hadirkan ketika di hadapkan dengan pria killer ini.


Namun apa daya cinta sudah terlanjur berada di tempatnya.


Hatinya sudah terlanjur terkunci dan terlanjur di isi oleh sosok Zayn.


Pria killer nan keji yang selalu membuatnya tersiksa oleh rasa rindu yang selalu membelenggunya.


Ke duanya masih terhanyut dalam suasana.

__ADS_1


Netra ke duanya masih terkunci seolah memikat dan saling terpikat.


Zayn menautkan jemarinya bersatu dengan jemari lentik Gita yang kini sudah berada dalam genggaman nya.


Dahi mereka saling bertemu, sementara napas mereka kembali berpacu.


Ke duanya saling memejamkan matanya, menikmati setiap detik yanh berlalu penuh keheningan.


"Katakan lagi," ucap Zayn lirih


"Apa?"


"Segalanya, seperti yang kau ucapkan malam tadi."


"Ekm, itu .. " mendadak Gita menjadi gugup.


Ia memalingkan wajahnya dan melepaskan tautan jemari mereka.


"Jangan lagi git. Cukup sekali kau membohongi perasaan mu, jangan lagi menabur dusta dan membuat perasaan kita saling terluka."


"Nggak Zayn!" Gita menggeleng kan kepalanya dan beranjak menjauh dari Zayn.


Langkahnya terhenti di depan sebuah jendela besar di hadapannya.


"Kau tau, aku telah merelakan mu Zayn.


Jauh sebelum kau datang ke tempat ini, aku sudah mengubur dalam-dalam kenangan kita."


"Bukankah kau juga merindukan ku? Bukankah kau masih mencintai ku, dan bukankah kau juga tersiksa setiap kali rasa rindu kembali mencekik relung hati mu?" Zayn menatap penuh harap kepada gadis itu, "Bukankah itu yang kau katakan semalam? apa kau mau berbohong lagi?"


Zayn mencekal pergelangan tangan Gita sedikit kuat, membuat gadis itu meringis ngilu memegangi lengannya.


"Isshh, sakiit ..." rintihnya lirih.


"Sakit? hati ku juga sakit. Perasaan ku juga tersiksa, sama seperti mu git. Sama seperti mu!


Aku masih menyimpan namamu dan kenangan kita. Aku memilihmu Git,dan bukannya wanita lain," ucapnya sendu.


Matanya menyiratkan kekecewaan yang mendalam. Netra coklat itu perlahan mulai berair melepaskan belenggu sesak yang terasa kian mengikatnya.


Napasnya tak beraturan seiring cekalan tangannya yang terlepas dengan kasar.


"A-aku, kita ..." Gita tergagap.


Suaranya kembali bergetar seiring tangisnya yang sudah berada di ujung matanya.


Zayn menggeleng pelan, "Jangan katakan, kalau itu hanya sebuah penolakan.


Cukup kali ini kau menabur serpihan kaca di antara kita git.


Kau dengan segala kebohongan mu membuat harap ku hancur.


Kau membuat keyakinan ku lenyap.


Kalau memang seperti ini keinginan mu, maka baiklah.

__ADS_1


Aku tidak akan menghalangi jalan mu. Pergilah!"


__ADS_2