Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
63.


__ADS_3

Kembali.


Setibanya di bandara Hang Nadim kota Batam. Zayn mengendarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Ia menghirup dalam-dalam atmosfer kota kelahirannya itu dengan rakus. Sejujurnya jauh dalam lubuk hatinya, ia juga rindu untuk kembali ke tempat ini, rindu akan suasana hangat yang akan ia dapatkan dari tempat ini, dan juga rindu akan hangatnya suasana keluarga.


Dua bulan berlalu dengan begitu singkat. Bahkan ia merasa seperti baru kemarin ia pergi dari kota ini secara diam-diam dan terbang ke Paris untuk mencari sosok gadis pujaannya di sana.


Hari ini ia telah kembali, bersama dengan seseorang yang tak lagi ia cari. Genggamannya menguat, menggandeng mesra tangan Gita dan mengapitnya lembut dalam kuncian lengannya. Langkahnya terhenti sejenak, sekilas memandangi wajah tenang Gita untuk beberapa saat.


Gadis itu memang terlihat berbeda dari sebelumnya, tepatnya beberapa tahun yang lalu. Ia yang sekarang merupakan sosok perempuan penuh keanggunan dan juga kontrol emosi yg sangat baik. Bahkan, raut wajahnya nampak tenang, tiada risau ataupun kegugupan yang terlukiskan di wajah cantiknya.


Zayn tersenyum tipis. Masih memandangi wajah sang kekasih dengan segala pesona yang berhasil menjeratnya. Ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, tepat ketika Gita juga menolehkan kepalanya ke arahnya. Gadis itu menautkan kedua alisnya sembari mencolek pelan dagu Zayn yang sepenuhnya telah berpaling dari hadapannya. "Ngapain hadap sana sih babe?" godanya lirih dengan senyum nakal di sudut bibirnya. "Hadap sini," ucapnya lagi sembari menarik pelan wajah Zayn untuk terfokus kearahnya.


Gadis itu terkekeh kecil, sementara Zayn berpura malas ketika pandangannya kembali bertemu dengan wajah sang kekasih, "Seneng ya?" ledeknya berpura kesal. Gita kian terkekeh geli ketika Zayn dengan sengaja memberengut kesal sembari memicingkan matanya, menatapnya penuh intimidasi.


"Udah ah, nggak lucu tau," ucap gadis itu sembari memberikan cubitan kecilnya pada pinggang zayn. Pria itu mengaduh pelan, sedang jemarinya refleks menggosok-gosok bagian pinggangnya yang terasa berdenyut nyeri. "Aw, sakit babe !" gerutunya lirih.


"Aku capek !" keluh gadis itu sedikit lebih manja. Kepalanya mendongak pelan, menatap zayn dengan binar bulat indahnya. Gadis itu tersenyum tipis, "Kapan kita pulang nya?"


Pria itu mengacak lembut surai indah Gadis pujaannya itu dengan sayang, senyum tipisnya mengembang sempurna seiring tibanya mobil sport mewah yang telah tiba untuk menjemputnya. "Pulang sekarang tuan putri," ucapnya sedikit membungkukkan badannya. Bak seorang pangeran yang sedang menawarkan tumpangan punggung kuda untuk seorang putri berparas jelita.

__ADS_1


Sontak gadis itu tersipu, ia menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan dengan cemas. Khawatir akan ekspresi beberapa orang yang berada di sekitarnya. Dan benar saja, ia mendapati ekspresi beberapa orang yang tengah menatap mereka dengan sedikit menahan tawa. "Ekhm ... ya-ya udah. Kita pulang sekarang aja ya babe !" ucapnya lirih seraya menarik lengan Zayn dengan sedikit kencang. Menarik pria itu untuk segera beranjak dari tempat nya dan segera menuju area penjemputan penumpang uang tak terlampau jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.


Ia menghentakkan kakinya cepat, langkahnya lebar sembari menarik Zayn yang masih tertinggal di belakang nya. Pria itu nampak malas untuk mengimbangi langkah gadisnya yang terlihat terburu oleh sesuatu. Namun, senyumnya masih samar tercetak jelas pada sudut bibirnya. Ia melangkah pelan, sesekali menahan laju kakinya untuk sesaat. Membuat gadis itu berdecih kesal, terpaksa menolehkan kepalanya kebelakang.


Wajahnya kian masam, tertekuk sempurna dengan senyumnya yang ikut lenyap pula dari raut mukanya. Gadis itu melepas kan rengkuhan tangannya kasar dari pergelangan tangan Zayn. "Kamu sengaja ya?" ucapnya dengan nada kesal.


Zayn memejamkan matanya sejenak, ia sedikit menekuk lututnya dan mensejajarkan tinggi badannya dengan sang gadis pujaannya itu. "Kamu marah?" tanya nya lirih dengan wajahnya yang kian merapat dekat dengan wajah sang kekasih. Hembus napasnya yang terasa segar, menguar lembut menusuk Indra penciumannya, membuatnya sedikit memundurkan kepalanya dan menahan sipu malu yang kembali hadir merambah di pipinya.


"Apaan si babe, nggak lucu ah!"


"Aku nggak lagi ngelucu babe," ucap Zayn sembari mencubit pucuk hidung Gita. "Udah ah, jangan ngambek gitu! jadi pulang nggak ini?" ucapnya sembari menegakkan tubuhnya kembali. Dengan lembut ia menarik pelan pergelangan tangan Gita dan membawanya dalam dekap hangatnya untuk sesaat. Membiarkan gadis itu tenang dalam dekap eratnya yang penuh dengan limpahan kasih sayang. Gadis itu kembali tersipu. Menyandarkan kepalanya lebih dalam dan tenggelam dalam dekap dada bidang Zayn yang di rasanya nyaman untuknya bersandar.


••••••••••


Mobil melaju kian lambat, seiring tibanya ia di depan gedung apartemen lamanya. Ia memilih untuk singgah di sini terlebih dahulu sembari melepaskan rasa penat yang masih menggayuti tubuhnya untuk sesaat, sebelum akhirnya nanti berkunjung ke rumah sang ibundanya untuk melepas rasa rindu.


"Tuan, kita sudah sampai," tutur seorang supir bernada lembut penuh hormat.


Zayn bergumam lirih. Kemudian di lihatnya ke arah samping tempat sang kekasih tengah terduduk dengan mata yang telah terpejam. Ia nampak lelah seiring terdengarnya suara dengkur lirih yang keluar dari saluran pernapasannya.

__ADS_1


"Pak, bisa minta tolong bawakan barang-barang saya sekalian?"


Sang supir hening untuk sesaat, lalu kemudian ia menganggukkan kepalanya patuh, seraya sigap membuka pintu bagasi dan menurunkan beberapa barang bawaan yang tak terlampau banyak.


"Lantai 25 ya pak," ucapnya sembari mengangsurkan Card acces bertuliskan nomor angka pintu apartemen miliknya.


Sang supir mengangguk kan kepalanya kilas, bergegas pergi meninggalkan keduanya.


Zayn menggulung lengan kemejanya ke atas, menyingsingkannya hingga batas siku. Tangannya merenggang ke atas, menarik otot-ototnya dengan keras. Ia mengatur naspasnya panjang, sebelum akhirnya ia kembali membopong gadis itu dalam gendongannya. Menggendongnya dengan sepenuh hati hingga kakinya tepat terhenti di depan pintu lift yang akan membawa mereka menuju lantai tempat mereka tinggal.


Wajahnya yang nampak sayu di sertai gurat lelah yang tersirat di wajahnya, membuat Zayn tak tega untuk membangunkan kekasihnya itu. Ia terus membopongnya dengan ke dua tangannya, hingga denting lift kembali berbunyi tepat di bagian lorong yang menghubungkan dengan deretan pintu menuju apartemennya. Sesekali ia tersenyum tipis ketika ia tak sengaja berpapasan dengan beberapa orang yang melintas di sampingnya.


"Mari," ucapnya ramah sembari beranjak dari pintu lift yang telah terbuka. Meninggalkan kerumunan orang yang tengah menatapnya dengan tatapan mata penuh selidik.


Namun ia tetap acuh, kakinya terus melenggang santai hingga kemudian ia berbelok, masuk kedalam pintu apartemennya.


😭😭😭😭 Maaf, up nya lama. Ngaret.


padahal sudah di tulis dari kemarin-kemarin. Tapi, karna halangan sinyal jadi susah bgt mau up nya.

__ADS_1


__ADS_2