Hatimu Dan Hatiku

Hatimu Dan Hatiku
Kembali dan Menderita


__ADS_3

Panjang laut aku merindukan dirimu. Aku tidak tahu akan kabar dirimu. Apa kalian marah dengan ku atau kalian membenciku. Hatiku yang menderita di sini ingin kembali kepelukan kalian berdua. Aku harus menderita


terlebih dahulu di tempat ini. Tapi ada yang selalu mendukung dirimu di balik bayang-bayang. Siapa kamu?


Di tempat ini sudah dua minggu berlalu akhirnya aku bisa kembali bertemu dengan kedua orang  tuaku. “Apa kamu sudah siap,”ucap dokter Erik.


“Sudah dok,”kata Bunga.


“Apa kamu yakin ingin bilang kepada orang tua kamu,”kata Erik.


Bunga menggelengkan kepalanya, karena ia merasa belum yakin dengan keadaanya akan membuat kedua orang tuanya sedih. “Baiklah, nanti aku bantu kamu buat alasan. Biar kedua orang tua kamu tidak tahu akan kondisi kamu,”ucap Erik.


“Terima kasih dokter,”melangkah ke arah Erik.


Mereka berdua masuk kedalam mobil dan melaju dengan kecepatan normal menuju rumah Bunga. Di perjalan Erik memberikan Ponselnya. “Ini Ponsel kamu,”kata Erik.


“Baik. Terima kasih,”ucap Bunga.


Bunga tidak langsung mengaktifkan ponselnya tapi ia masukkan kedalam tas. Krena ia tahu apa yang akan muncul saat dia mengaktifkan ponselnya. “Kenapa tidak mengatifkannya,”kata Erik.


“Tidak, dokter. Mungkin aja yang muncul adalah pesan dari teman satu unit yang mencaci maki aku,”ucap Bunga.


“Kenapa kamu bisa berkata begitu,”kata Erik.


“Hanya firasat saja,”kata Bunga.


Erik hanya menghela nafas dengan hati yang berbicara,”Ternyata anak ini tahu kalau temannya mengatakan yang tidak baik di chatnya.”


“Jika aku tidak memeriksa pesannya mungkin saja aku tidak tahu. Kalau temannya marah kepadanya. Jika dia membaca pesannya aku takut dia akan terluka lagi,”ucap hati Erik yang khawatir akan kondisi Bunga.


Di perjalan pulang Bunga hanya melihat keluar jendela tanpa berkata apa kepada dokter Erik. Tapi kadang-kadang ia membaca buku untuk mengisi waktunya. Sore menjelang malam datang, Bunga sampai di depan rumah. Ia


keluar rumah dan membawa barangnya dan masuk ke dalam rumah. Sementara Erik menjelaskan kondisi Bunga dengan rekayasa palsu untuk menyembunyikan konsisi Bunga yang tidak stabil. Setelah Erik menjelaskan kondisinya Bunga,”Maaf ayah ibu aku tidak bilang kalau dua minggu ini aku di rumah sakit.”


Orang tuanya tidak mengatakan apa-apa dan suasana rumah sunyi. Hingga Kakak pertamanya,” Tidak apa-apa. Tapi lain kali kamu harus beritahu rumah ya Bunga.”

__ADS_1


Kedua orang tuanya hanya memeluk bunga dengan rasa khawatir yang di rasakan kepada anaknya. “Lain kali bilang rumah. Biar ada yang jaga, kamu rumah sakit. Kalau ada apa-apa bagaimana,”ucap ibunya sambil memeluk


Bunga sambil menangis.


“Iya ibu akau meminta maaf, aku tidak akan mengulangi lagi,”ucap Bunga.


“Sudah-sudah, sekarangkan sudah pada kumpul semua. Biarkan Bunga istirahat dulu,”kata Ayahnya.


Setelah pembicaraan selesai Bunga masuk kedalam kamar dan mengambil ponsel. Tapi ia merasa ragu untuk membuka ponselnya.”Aku ingin mencari angin dulu,”ucap Bunga dengan suara pelan keluar rumah naik ke atas


teras yang ada di atas rumah.


Di teras ataslah Bunga mengaktifkan ponselnya. Ponsel berbunyi terus karena banyak pesan masuk, Bunga tidak langsung membaca pesannya tapi ia meyakinkan hatinya dulu. Karena dokter tadi berpesan pada saya untuk


menyakinkan hatiku agar aku tetap stabil hatinya.


Setelah kondisi hatiku sudah yakin dan teguh apa yang aku baca nanti. Aku memegang ponselnya dan membaca satu persatu termasuk chat dari grup unit aku melihat dan membaca hingga aku meneteskan air mata.


“Apa itu salahku. Jika aku marah kepada kalian,”ucap hati Bunga yang menangis dalam diam malamnya.


Setelah ia selesai membaca semua chat, ia baru sadar kalau temannya yang satu unit marah dan benci kepada ia karena aku tidak membaca pesannya.. Awalnya mereka ingin bertemu denganku tapi pada akhirnya aku tidak


Malam yang penuh bintang dan dingin hari itulah Bunga merasakan rasa yang tidak bisa iya bayangkan jika penyakitnya kambuh lagi. Dia mencoba menahan rasa sakit ini. Hingga ponselnya berdering panggilan dari grup.


Ia membuka siapa saja yang mengangkat dan ternyata semua anggota mengangkatnya. Karena terus berdering Bunga mengangkat telepon grupnya.


“Halo, semuanya bagaimana kabar kalian,”ucap Bunga yang menyembunyikan rasa sakitnya.


“Akhirnya kamu mengangkat telpon dan membaca pesannya Bunga,”ucap Le.


“Maaf aku baru saja aku mengaktifkan ponselku karena  sibuk d rumah,”ucap Bunga yang berbohong.


“Sibuk ya. Aku kira kamu memang mengabaikan pesan dan telepon kita semua,”kata Mai.


“Untuk apa aku mengabaikan pesan dan telpon kalian,”ucap Bunga.

__ADS_1


“Kamu tidak usah basa-basi lagi. Bunga aku tahu kamu tidak suka dengan kita semuakan,”ucap teman 1.


“Kenapa aku marah. Apa masalah di cafe itu,”kata Bunga.


Mereka semua tertawa seperti sindiran, satu persatu mereka membuka wajah palsu mereka dengan banyak sindiran dan kata buruk yang muncul dimulut mereka. Bunga yang mendengar hanya terdiam sambil meneteskan air mata tanpa bersuara. Hingga akhirnya bunga melihat dari kejauhan cahaya yang indah


menghampiri dia.


Dengan suara pelan ia berkata,”Maaf jika aku membuat kalian tidak suka denganku.”


Pada saat itulah ia merasakan dirinya seperti jiwanya melayang mengikuti cahaya yang menghampirinya. Tapi di dalam pikiran Bunga ia selalu bertanya ,”Apa mereka mendengarkan kata maaf yang aku ucapkan.”


 Hingga ponsel yang aku pegang jatuh kedalam lantai dan ibu pingsan yang ketiga kalinya.


Tanpa ada yang tahu aku pingsan di atas terasa, hingga malam yang dingin Bunga seperti jatuh kedalam kegelapan. Tepat di tengah malam, pintu rumah berbunyi yang membuat ke dua orang tuaku bangun.


“Maaf mengganggu malam-malam. Apa Bunga ada?,”ucap pemuda tersebut yang bernama Petra.


“Anda siapa ya,”kata ayahnya.


“Saya Petra,”ucap Petra.


“Bunga sedang tidur di kamar. Ada keperluan apa hingga mencari Bunga malam-malam begini,”kata ayahnya.


“Saya khawatir dengan kondisi Bunga. Karena dari tadi saya menelepon tidak di angkat,”kata Petra yang berbohong.


“Saya akan lihat Bunga dulu,”ucap Ayahnya. Belum sempat ia berjalan Ibunya datang,”Biar aku saja memanggilnya.”


Ibunya Bunga berjalan menuju kamar Bunga sampai di depan kamar Bunga Ibunya mengetuk pintunya tapi tidak ada jawaban dari dalam. Ia memegang ganggang pintu kamar perlahan ia menarik gagang pintunya. Setelah pintu


terbuka lebar, Ibunya tidak nampak atau melihat Bunga yang tertidur. Karena hati ibunya resah tidak ada Bunga di tempat tidur ia masuk kedalam dan memanggil Bunga. Tapi tidak ada jawaban dari bunga. Ibunya bergegas berjalan memanggil,”Ayah... ayah..” Hingga Ibunya sampai di depan mata ayahnya.


“Ada apa manggil keras-keras. Mana bunga,”kata ayahnya. Melihat ibunya Bunga yang khawatiR, petra dengan lancang masuk kedalam rumah dan menuju kamar Bunga. Tapi ia tidak nampak Bunga di kamar. Ahri petra semakin resah akan kondisi Bunga saat itu.  Dia kembali ke depan,”Maag Bu, di mana Bunga?.”


Ayahnya yang juga melihat merasa khawatir keberadaan Bunga. Karena mendengar suara bising kakaknya dan adiknya terbangun,” Ada apa bising-bising.”

__ADS_1


“Bunga tidak ada di kamara. Ibu sudah mencarinya di dalam kamar tidak ada,”ucap Ibunya.


Serentak semua yang mendengar terkejut,”Apa maksud kamu Bunga tidak ada di kamar. Dimana Bunga sekarang?.”


__ADS_2