Hatimu Dan Hatiku

Hatimu Dan Hatiku
Perpisahan


__ADS_3

Setelah apa yang didengar oleh Bunga dalam kondisi tubuh yang lemah. Ia sadar kalau dirinya tidak berguna dan membuat dirinya tidak membuka mata untuk waktu yang tidak diketahui sampai hatinya bisa kembali.


Temannya Reona yang tahu kondisi Bunga mengali penurunan suhu tubuh membawa dia ke pualau untuk melakukan perawatan lebih lanjut. Tapi Petra yang tidak ingin berpisah dengan Bunga terus menghalangi rekan Reona. Sampai dia tahu kemana Bunga akan dibawa agar dia bisa melihatnya. Tapi Reona dan rekannya tidak ingin ada yang tahu kemana Bunga akan dirawat.


“Kemana kalian akan membawa Bunga,”kata Petra.


“Itu bukan urusan kamu. Jika kamu belum bisa menyelesaikan wanita yang mengejar kamu,”kata Taro yang masih ditempat.


“Kamu pergilah dulu nanti aku akan menyusul dengan Tira,”kata Reona.


“Aku akan pergi dulu,”ucap Tero.


Tero pergi meninggalkan Reona sendirian di lorong bersama dengan beberapa orang yang masih ada di tempat.


“Apa kamu bisa jelaskan Reona,”kata John.


“Aku akan memberi tahukan kalau adik kamu akan melakukan perawatan lebih lanjut ditempat lain,”kata Reona.


“Kenapa tidak disini. Apa terjadi sesuatu pada kondisi Bunga,”ucap Dokter Erik.


“Seperti yang kamu lihat. Tempat ini tidak memungkinkan untuk pemulihan Bunga. Apa lagi luka lama sudah terbuka. Aku juga tidak tahu kapan dia akan bisa terbangun. Setelah dia mendengar kalau orang yang ia percayai bersama dengan orang lain,”kata Reona dengan tajam.


“Apa maksud kamu orang yang ia percayai bersama orang lain,”kata Ilham.


“Apa kamu tahu kalau adik kamu sakit kangker Hati tahap awal. Dimana dia tidak boleh mendapatkan tekanan batin yang berlebihan untuk kondisi dia sendiri,”kata Reona.


“Aku tahu itu. Jadi maksud kamu adik saya mengalami peluapan emosi yang membuat dia koma. Apa begitu maksud kamu,”kata John.


“Seperti yang kalian ketahu,”ucap Reona.


“Aku akan pergi sekarang, jika tidak ada yang dibicarakan,”kata Reona.


Dokter Erik yang memahami akan kondisi Bunga menyadari kalau tubuh Bunga mungkin saja tidak akan bisa bertahan lama. “Reona, apa itu buruk kondisinya,”kata Dokter Erik yang sudah paham akan kondisi Bunga.


Reona hanya tersenyum,”Kita lihat saja dia ingin bangun apa tidak. Itu terserah anak itu saja. Tapi untuk sekarang lebih baik dia menenagkan diri dengan pergi jauh dari bisikan yang tidak enak untuk ia dengarkan.”


“Kalian tidak usah khawatir akan orang tua kalian. Aku sudah menyuruh rekanku untuk mejelaskan kondisi Bunga,”kata Reona.

__ADS_1


Reona berjalan pergi tapi dihadang oleh Petra yang masih belum bisa terima kalau dia harud berpisah dengan Kekasih yang ia sukai. “Dimana kamu akan membawanya?,”kata Petra dengan tatapan tajam.


“Kamu ingin tahu,”ucap Reona.


“Itu mudah bayarlah dengan satu nyawa,”kata Reona yang menuju ke arah Karin.


Petra yang melihat arah tujukan mengarah kearah Karin. “Tidak mungkin dia teman kecilku aku tidak bisa membunuh dia. Jika yang lain aku bisa, asalkan kamu memberitahukan dimana lokasinya dia akan dirawat,”kata


Petra dengan dingin.


Reona hanya tersenyum licik,”Tidak bisa. Berati tidak akan bisa bertemu dengan dia selamanya.”


Reona pergi dengan mendorong Petra dan berjalan keluar gedung. Tapi sebelum ia pergi dia akan menemuai seseorang. “Hai Reona,”dari arah pintu gedung.


“Hai Tira. Bagaimana apa kamu sudah memberitahu orang tua Bunga,”ucap Reona.


“Tentu saja ayo kita pergi. Sebelum orang yang dibelang kamu mengejar kamu,”Kata Teri yang memiliki pandangan yang lebih sensitif dari orang biasa.


“Ayo,”ucap Reona yang mulai masuk kedalam Mobil.


Mobil sudah melaju kencang tapi Petra yang sudah diluar sudah membaca Plat Mobilnya. “Cari tahu kemana mobil itu akan pergi,”kata Petra dengan tajam.


“Kamu tidak khawatir adik kamu dibawa oleh wanita tadi,”kata Karin yang pura-pura bersimpati.


“Untuk apa khawatir. Adik kami akan baik-baik saja,”ucap Ilham.


“Kenapa kamu sebagai kakaknya tidak memperdulikan dimana dia akan dirawat. Apa kamu tahu dimana dia dibawa,”kata Petra yang marah.


“Kami hanya mendapatkan pesan dari ayah kami kalau adik kami akan dirawat di luar negeri bersama Reona. Jadi untuk apa kami khawatir,”kata John.


“Ditambah lagi kalau Reona adalah dokter pribadinya jadi kami tidak khawatir,”ucap Ilham.


Mereka berdua masuk untuk membereskan barang Bunga yang masih ada untuk dibawa pulang. Sedangkan Erik hanya menatap ke arah Petra yang masih tidak ingin melepaskan Bunga dari pandangannya.


“Untuk apa kamu mencari dia. Sementara dia tidak menginginkanmu,”ucap Karin.


“Diam kamu,”ucap Petra dengan dingin.

__ADS_1


Karin terdiam karena melihat wajah Petra yang dingin yang membuat ia merasa terancam. Sementara pintu kamar terbuka. “Apa kalian tidak ingin mengikuti adik kalian,”ucap Dokter Erik.


“Jika kami ikut akan memburuk keadaan adik kami, lebih baik biarkan adik kami sendiri dulu untuk pemulihannya,”kata Ilham.


“Kamu sebaiknya selesaikan saja urusan kamu tentang musuh kamu biarkan. Jika sudah waktunya Bunga akan kembali jika sudah aman,”kata John.


“Itu juga untuk kebaikan kalian berdua. Sama halnya dengan wanita yang ada disamping kamu,”sindir John.


Petra yang tahu kalau dirinya yang membuat Bunga kembali koma. Dia juga tahu kalau dia harus bisa menyelesaikan semua urusannya. Tanpa berpikir panjang Petra menari tangan Karin membawa dia kembali ke negaranya.


“Petra lepas, tanganku sakit,”ucap Karin. Tapi Petra tidak menghiraukannya, sampai di depan mobil ia memaksa Karin masuk kedalam mobil.”Bawa wanita ini pergi dari hadapanku sekarang,”ucap Petra kepada Dera.


Mobil yang membawa Karin sudah melaju kencang menuju bandara. Sednagkan Petra bersama sekertaris Jim pergi ke perusahan untuk beberapa pertemuan yang tertunda dengan wajah marah dan suasana dingin.


“Orang itu sudah pergi, bisakah dokter Erik jelaskan apa penyakit adik kami,”kata Ilham yang masih dirumah sakit bersama John karena masih membereskan beberapa barang yang ketinggalan.


Dokter Erik tersenyum sambil meledek,”Kata siapa tadi yang tidak mengkhawatirkan adiknya ya.”


“Cepat jelaskan,”ucap Ilham sambil melihatkan isi pesan dari Reona.


“Jadi dia menyuruhku untuk memberitahu kamu soal kondisi Bunga,”ucap Dokter Erik.


“Jika sudah membaca. Beritahu kami apa yang terjadi dengan adik kami,”kata John.


“Aku harus mulai dari mana ya. Karena aku juga binggung dari mana aku berikan ini saja,”kata Dokter Erik yang memberikan beberapa dokumen yang sudah diberikan sebelumnya.


“Apa ini kata,”Ilham.


“Jika kalian ingin tahu apa penyakit yang adik kalian derita. Semua ada dilembaran dan buku harian yang kalian pegang,”kata Dokter Erik.


John membaca satu persatu lembaran dan buku harian yang ia pegang. Setelah membaca barulah dia tahu kalau penyakit adiknya memang parah. “Apa isinya,”kata Ilham.


John menatap kak Ilham dengan tatapan serius dengan wajah sedih.”Apa isinya,”katanya lagi.


“Adik sakit...,”ucapan yang belum selesai Ilham merebur lembaran dan buku hariannya dan membacanya sendiri. Sampai di tengah dia duduk dikasur dan menundukan kepalanya. “Aku kakak yang tidak berguna,”ucap Ilham yang


berlinang air mata karena sakit yang diderita oleh adik tercinanya.

__ADS_1


“Hanya itu yang bisa aku berikan, untuk kondisi Bunga sendiri. Saat Reona membawanya pergi dengan gelisa kalau keadaan Bunga tidak membaik. Apa lagi saat dia mengatakan dia tidak tahu akan bangun apa tidur selamanya. Saat itulah aku baru sadar jika Bunga sudah sampai dimana tubhnya tidak bisa bertahan,”kata Doker Erik yang menjelaskan kondisi Bunga yang tidak baik.


__ADS_2