Hatimu Dan Hatiku

Hatimu Dan Hatiku
Bersama Keluarga


__ADS_3

Keluarga yang saling mendukung selalu ada saay dibutuhkan


saling membantu sama lain. Bunga yang hidup di keluarga tersubut sangat senang.


Dengan kondisi dan fisik yang memulai melemah karena harus melakukan


kemoterapi. Tapi ia selalu berpikir siapa bayangan itu yang selalu


mengawasinya. Bunga tahu kalau dia diawsi tapi  bukan dari keluarganya tapi dari orang lain. Aku ingin tahu siapa dia? Aku ingin berjumpa dengan dia agar hatiku ini bisa tenang.


Setelah selesai melakukan kemoterapi untuk beberapa minggu.


Suasana Bunga merasakan bosan karena harus berada di dalam kamar terus.


“Apa mau keliling,”ucap kan Ilham.


“Apa boleh?,”kata Bunga yang berharap bisa menciup aroma


taman rumah sakit.


“Boleh. Tapi kakak yang akan menemani kamu berkeliling,”kata ilham.


“Baik kak, aku mau. Ayo berkeliling sekarang,”ucap Bunga


yang bersemangat.


“Tunggu dulu. Kak, akan mengambil kursi roda dulu. Kamu


tunggu di sini dulu ya,”ucap Ilham.


“Baik kak,”kata Bunga.


Setelah kak Ilham keluar untuk mengambil kursi roda. Kak


John datang dengan membawa makanan ringan kesukaan Bunga dan makanan buat Ibu.


“Ayo makan dulu,”ucap John.


John melihat kanan kiri. Yang membuat Bunga binggu dan


bertanya,”Siapa yang kakak cari?.”


“Dimana kak Ilham,”kata John.


“Kak ilham tadi keluar mengambil kursi roda buat Bunga,”kata


Bunga sambil mencari cemilan yang mau dimakan.


“Kursi roda,”ucap John.


“Iya. Akukan bosan, makanya mau berkeliling dengan kak


John,”kata Bunga.


“Ternyata begitu,”kata John.


Mereka berdua makan cemilan bersama sambil menuggu kak Ilham


mengambil kursi roda. Tidak lama kemudian kak Ilham masuk keruangan dengan


membawa kursi roda.


“Kamu sudah datang John,”ucap Ilham.


“iya kak, sini makan dulu,”kata John.


Ilham melangkah mmaju  menuju  John dan Bunga dan mekan


bersama. Di sela makan mereka membicaran satu sama lain hingga selesai makan.


“Ayo kak kita keliling,”ucap Bunga.


“Baiklah, ayo kita jalan sekarang,”kata Ilham.


Mereka bertiga berjalan keliling rumah sakit, sampai di


taman Bunga sangat senang bisa melihat pohon dan bunga dan rerumpuan dengan


udara yang segar.


“Apa kamu senang sekarang,”ucap John.


“Tentu saja, karena aku bosan di dalam kamar. Kapan aku bisa


balik ke rumah,”ucap Bunga.


“Jika kondisi kamu memungkinkan untuk pulang dan tubuh kamu


sudah stabil,”ucap Dokter Erik dari belang.


“Dokter,”ucap Bunga.


“Apa kalian sedang berkeliling,”kata Dokter Erik.


“Itu benar dok. Katanya bunga bosan makanya aku ajak

__ADS_1


berkeliling,”ucap Ilham.


“Baiklah kalian lanjutkan saja kelilingnya saja. Tapi jangan


lama-lama diluar kondisi adik kalian belum sepenuhnya stabil,”kata Dokter Erik.


“Baik dokter,”kata John.


Setelah dokter Erik pergi mereka bertiga lanjut berkeliling.


Di saat Bunga dan kedua kakaknya berkeliling, ternyata ada teman Bunga yang


melihat dia.


“Bukannya itu Bunga,”ucap Le.


“Itu benar Bunga. Tapi kenapa dia ada di sini,”ucap Wakil


yang melihat kearah Le.


“Mana aku tahu. Aku aja tidak tahu,”kata Le.


“Apa kita ikuti saja mereka,”kata Wakil.


“Boleh,”ucap Le.


Le dan Wakil mengikuti Bunga dan kedua laki-laki yang


bersamanya. Di perjalan mengikuti mereka bertiga Le dan Wakil saling


bertanya-tanya”Apa yang terjadi pada Bunga?.”


Hingga akhirnya Bunga dan Kedua kakaknya sampai di ruangan.


“Cepat istrihat. Sebelum dokter datang nanti marah,”kata John.


“Apa sih kaj John. Aku masih ingin makan ini lanjut yang


tadi belum kelar,”ucap Bunga.


“Kamu ini,”ucap Ilham.


Bunga hanya tersenyum, sementara Le dan Wakil yang diluar


ruangan masih binggung dengan apa yang terjadi. Karena mereka tidak tahu apa


yang terjadi Le dan Wakil bertanya kepada suster yang lewat.


“Maaf suster, saya ingin bertanya,”ucap Wakil.


“Tanya apa ya,”kata suster.


sakit apa?,”kata Le yang langsung ke intinya.


“Maaf saya tidak bisa mengatakannya. Karena ini perintah atas


untuk tidak mengatakan kepada orang lain,”ucap Suster.


“Saya mohon suster, beri tahu kami,”ucap Le.


“Siapa anda untuk pasien ini,”kata Suster.


“Kami temannya tapi beda Jurusan,”ucap Wakil.


“Temannya, jika anda temannya kenapa anda tidak masuk dan


menayakannya saja. Maaf saya tinggal dulu, saya harus memeriksa pasien yang


lain,”ucap Suster yang meninggalkan kedua pemuda tersebut.


“Bagaimana ini?,”kata Le.


“Apa kita masuk saja,”ucap Wakil.


“Bagaimana bisa kita masuk, kamu tahukan kita sudah marah


kepada Bunga. Kita tidak tahu Bunga akan menerima kita apa tidak,”kata Le.


“Benar juga... Terus bagaimana,”kata Wakil.


“Aku tidak tahu, kita pergi dulu. Dan kabari teman yang


lain. Bagaimana?,”kata Le.


“Boleh juga, Ayo kalau gitu kita pergi,”ucap Wakil.


Dan mereka berdua pergi meninggalkan ruangan. Tapi di balik


mereka bertanya dengan suster John melihat dan mendengar percakapan mereka


berdua,tapi ia tidak keluar ruangan. “Ada apa kak,”ucap Bunga sambil melihat ke


arah Kak John.


“Tidak ada. Kakak akan keluar dulu mencari minuman. Kamu mau

__ADS_1


pesan apa?,”kata kak John.


“Aku mau Jus ya kak,”kata Bunga.


“Aku sama saja,”kata Ilham.


“Baiklah, aku pergi dulu,”ucap John.


“Ahati-hati ya kak,”ucap Bunga.


John hanya tersenyum dan kelur ruangan. Setelah meniggalkan


runagn agak jauh, Ilham memberi pesan kepada Petra sambil menujukan foto yang


ia ambil tadi.


“Petra, apa ini teman Bunga,”katanya dalan pesan.Petra yang


kebetulan dengan rapat tidak membaca pesan dari kakak Bunga. Sedangkan John


menuggu sambil pergi membeli minuman. Atpi ini keberuntungan atau takdir, John


pertemu lagi dengan dua laki-laki yang ada didepan pintu kamar Bunga tadi. Tapi


mereka tidak berdua lagi, mereka bersama teman yang lain.


Di sela menuggu pesan John mendengarkan percakapan mereka


dan merekam apa yang mereka katakan.


“Kenapa kita kumpul disini,”ucap Mei.


“Kalian tahu tidak kalau bunga sakit,”ucap Wakil.


“Sakit,”ucap teman yang lain Je.


Semua orang menggelengkan kepala. “Kamu tahu dari mana kalau


Bunga sakit,”ucap Mei.


“Tadi aku dan Le, pergi ke rumah sakit untuk jengung teman


kami. Yang kebetulan kami berdua melihat Bunga bersama dua orang


laki-laki,”ucap Wakil.


“Apa kamu serius itu Bunga. Mungkin orang lain,”kata Re.


“Kami yakin itu bunga di dorong menggunakan kursi roda oleh


salah satu laki-laki yang menemaninya,”kata Le.


Mereka semua terdiam, untuk beberapa menit. Hingga ada


ucapan yang mengatakan,”Mungkin saja dia hamil?.”


“Apa maksud kamu,”ucap Le.


“Kamu jangan mengambil kesimpulan yang sembarang. Apa  kamu masih marah dan dendan dengan Bunga,”ucap


Le.


“Kalau iya kenapa. Apa aku salah,”kata Ro.


“Itukan sudah berlalu, sampai kapan kalian terus mengatakan


kata itu kepada Bunga,”ucap Wakil.


“Sebenarnya aku juga masih marah sih dengan sikapnya yang


acuh tak acuh di tambah lagi soal kita minta maaf. Diakan mengabaikan kita


semua,”kata Mei.


“Mungkin aja ada alasannya kenapa dia mematikan


Ponselnya,”kata Re.


“Jika ada kenapa dia tidak bilang saat  malam itu di telepon, dia hanya diam saja


tanpa suara,”kata Je.


“Aku juga tidak tahu kalau yang itu,”ucap Wakil.


“Udahlah jangan bahas Bunga lagi, dia sakit, hamil, pelakor,


atau apapun itu. Itu bukan urusan kita lagi,”kata Ro.


Hingga akhirnya mereka semua terdiam tidak membahas Bunga


yang ada di ruamh sakit dan di ganti membahas mau jalan-jalan kemana untuk mengubah


topik pembicaraan. Sedangkan John yang mendengarkan ingin marah tapi ia tahan,


hingga pesanan datang.” Maaf mas ini pesanan anda,”kata pegawai toko.

__ADS_1


“Terima kasih,”ucap John sambil berdiri meniggalkan tempat


tersebut.Sementara di tempat lain Petra membaca pesannya.


__ADS_2