
Pertra yang masih menuggu bersama kedua kakak bunga. Hari
menjelang pagi sekertaris jim datang dan membawa makanan.
“Tuan muda ini pesanan anda,”kata sekertaris Jim.
“Terima kasih. Bagaimana kamu sudah makan,”ucap Petra.
“Sudah tuan tadi sampi menuggu pesanan,”ucap sekertaris JIM.
“Ini,”ucap petra sambil mengulurkan makan.
Kakak Bunga hanya melihat dan mengambil makanan yang
diberikan Petra,”Terima kasih.”
Petra hanya tersenyum, sambil makan mereka saling berbincang
untuk mengenal satu sama dengan yang lain. Penantian yang panjang dan
melelahkan mereka lalu menuggu kehadiran Bunga kembali.
Hari demi hari mereka lalu menuggu Bunga. Pintu kamar Bunga
ia buku untuk melihat kondisi Bunga yang asih berbaring. Di dalam hati ia
berkata sambil memegang tangan Bunga yang masih ada rasa dingin,”Aku selalu mengkhawatirkan kamu,
bangunlah bidadariku. Aku disni menuggu kamu kembali tersenyum ceria seperti
biasa.”
“Sebaiknya anda istrirah saja dulu nak,”ucap Ibu Bunga.
“Tidak bu, saya akan disini menuggu Bunga siuman,”ucap Petra.
“Apa kamu sudah siap untuk menampilkan dirimu dihadap
Bunga,”kata Dokter Erik dari belakang.
Petra menoleh,”Tidak aku akan melihat dia dari jauh dulu.
Bagaimana kondisinya?.”
“Kita tunggu hingga nanti siang, jika dia belum bangaun aku
akan melakukan operasi,”kata Dokter Erik.
Bunga yang selalu ceria aku selalu menatap kamu dari jauh,
kapan kamu akan bisa dipelukan diriku. Aku sellau melihat kamu dalam
penderitaan. Aku ingin sekali melindungi Bungaku itu, hingga dia mekar menjadi
Bunga yang cantik dan wangi. Agar semua orang tidak melukainya lagi. Petra yang
masih menuggu dia di dalam kamar, selalu merawat dia dengan penuh cinta. Hingga
keluarga Bunga melihat kalau Petra sangat menyukai Bunga dengan tulus. Tapi
kedaan yang tidak di inginkan akan muncul jika Bunga tahu sekarang.
Waktu berlalu hari berganti Petra yang sellau menjaga Bunga
disampingnya dan tidak lupa menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit sambil
melihat kondisi Bunga. Hingga hari itu tiba, ada kabar kalau musuhnya mulai datang
kembali dan mengharuskan meniggalkan Bunga bersama keluarganya.
“Tuan, mereka sudah kembali,”kata Sekertaris Jim.
“Aku tahu. Akan melihat Bunga untuk terakhir kalinya,”kata Petra.
Petra mencium kening Bunga yang masih belum sadarkan diri.
Tapi hainya berbicara kalau dia kan segera bangun setelah aku menutup Pintu.
“Apa kamu yakin dengan pilihanmu,”ucap Erik.
Petra hanya tersenyum,”Hingga waktu itu tiba aku akan datang menjemputnya.”
__ADS_1
Semua orang yang ada disana mendengarkan apa yang dikatakan
petra termasuk keluarga Bunga. Sedangkan Dokker Petra setelah mendengarkannya
masuk kedalam melihat kondisi Bunga.
Bunga yang sudah membuka mata, meneteskan air matanya.
Karena apa yang di rasakany awaktu bangun adalah dia akan pergi.
“Kamu sudah siuman. Bagaimana kondisi tubuhmu,”ucap Dokter
Erik, yang terkejut melihat Bunga yang menangis.
“Apa yang terjadi, apa ada yang sakit,”kata Dokter Erik.
“Bunga hanya menggelengkan kepala,”Aku tidak apa-apa.”
“Aku akan memeriksa kondisi mu sekarang. Tapi sebelum itu
dokter ingin bertanya. Apa yang terjadi sebelu kamu pinsan, apa yang kamu
rasakan saat itu?,”kata Dokter Erik.
Bunga meikirkan apa yang sudah lalu tapi ia tidak mengingat
apa-apa,”Aku tidak tahu. Apa yang terjadi padaku waktu itu. Yang aku rasakan
waktu itu, kepalaku pusing dan melihat cahaya setelah itu tubuhku lemas aku
melihat semuanya berputas-putar. Jika aku ingat.”
“Apa hanya itu saja, tidak ada yang lain,”ucap Dokter Erik.
“Emm... aku mendengarkan temanku yang mencaci aku
hatiku langsung sakit. Tapi beda saat pertama kali aku pinsan,”kata Bunga.
“Itu gejala wala dari kemotera[pi. Dokterkan sudah bilang jangan buka pesan. Jika ingin buka pesan kamu harus siapkan mental kamukan. Dokterkan sudah bilangkan,”kata Doktre Erik.
“Iya dokter sudah bilang. Waktu itu Bunga sudah
mempersiapkan mental Bunga. Tapi tidak tahu kenapa bisa seperti itu,”ucap Bunga
“Tambah lagi kamu membaca pesan di ruang terbuka lagi.
Bagaimana jika kamu tidak ditemukan waktu itu. Kamu bisa saja sudah pergi,”ucap
Dokter Erik.
“Kamu ingin keluargamu khawatir karena kamu yang keras
kepala,”kata Dokter Erik.
“Maaf dokter. Aku tidak akan mengulangi lagi, jangan
marah,”ucap Bunga.
Dokter Erik hanya terdiam sambil melihat Bunga. “Dok, apa
keluargaku sudah tahu?,”ucap Bunga.
“Dokter Erik menghela nafas,”Sudah, aku tidak bisa
menyembunyikannya lagi. Apa kamu ingin bertemu dengan keluarga kamu,mereka ada
di luar.”
Bunga hanya menganggukan kepalanya tanpa berkata apa-apa.
Dokter Erik keluar dan memanggil keluarga Bunga. Bunga menanti keluarganya
masuk,”Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada mereka, karena aku
sudah menyembunyikan penyakt ini. Kenapa waktu itu aku pinsan, Bodohnya aku.”
Suara pintu terbuka ibu Bunga masuk dengan v=cepat dan
memeluk Bunga, dan dilanjutkan ayah dan kedua kakaknya masuk kedalam. Di
pelukan ibunya Bunga,”Maaf ibu, ayah, kakak aku sudah menyembunyikan
__ADS_1
penyakitku. Aku punya alasan tidak mengatkan kepada kalian semua. Aku tidak
ingin kalian khawatir karena penyakitku.”
“Kamu itu anak nakal,”ucap Ibunya sambil memengang kedua
wajah Bunga.
Bunga yang menatap Ibunya meneteskan air mata,”Maaf...
maafkan Bunga Ibu.”
“semua orang tua akan khawatri kalau anaknya sakit,”ucap
Ibunya yang kembali memeluk putrinya.
Di pelukan Ibunya Bunga melihat ayahnya dan kedua kakaknya.
“Syukurlah, jika kamu sudah bangun,”ucap Ayahnya.
“Jangan sembunyikan lagi dari kita berdua. Jika terjadi
apa-apa kamu buat kami sedih adik kecil,”kata kakak pertama.
Bunga pun kembali tersenyum di hadapan keluarganya. Dan
Bunga mengatakan semuanya apa yang terjadi termasuk masalah dia dan temannya.
Biar hati Bunga bisa sedikit membaik, tapi tidak untuk kedua kakaknya yang tahu
apa yang terjadi. Kakakku marah dan ingin melabrak mereka tapi Bunga
melarangnya karena mereka juga tidak tahu akan penyakit yang aku derita.
“Ohh.. iya Ibu. Bunga ingin bertanya,”kata Bunga.
“Ada apa?,”ucap Ibunya.
“Siapa yang membawa aku ke rumah sakit. Aku samar-samar saat
pinsan mendengar suara laki-laki waktu itu memanggil namaku,”kata Bunga.
Ibunya tidak menjawbab dan menatap ayahnya.”Itu aku yang
berterik memanggil nama kamu karena aku khawatir,”ucap kakak kedua.
“Apa itu benar ayah iBu. Itu kakak John,”kata Bunga.
“Iya,”ucap Ayahnya.
Bunga tersenyum di hadapan kakaknya,”Terima kasih kakak
sudah mengkhawatirkanku.”
“Tentu saja. kamu kan adikku. Cepeta sembuh ya,”kata John.
“Iya jika ada apa-apa kamu panggi kami saja, kakakada
diluar,”kata Ilham.
“Baik kak,”kata Bunga yang mulai berbaring karena harsu
istrirahat.
Di dalam hati Bunga selalu bertanya,”Apa benar itu kak John.
Tapi kenapa suaranya berbeda dan perasaan itu juga beda.”
“Sebaiknya kamu segera istirahat biar kembali pulih,”kata
Dokter Erik yang sudah masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa kondisi Bunga.
“Baik dokter,”ucap Bunga.
Di malam yang sunyi dan melegakan kalau kedua orang tuanya
tidak marah tapi menyemangati Bunga untuk tetep tegar dimanapun aku berada
dalam keadaan apapun. Itu membuat hati Bunga yang hancur kembali terisi dengan
semangat dan dukungan oleh keluarga yang mencintainya. Aku bangga lahir di
__ADS_1
keluarga ini.