
Setelah kejadian tempo hari mereka tetap tidak menyadari
kalau mereka akan mendapatkan musibah menimpa mereka semua. Jalan yang sepi di
siang hari dengan mobil yang berlalu lalang tapi tidak ramai pada waktu itu.
Teman Reza yang sudah menyiapkan perangkap kedua sudah dimulai saat mereka
pergi menuju lokasi.
Preman yang sudah dipersiapakn untuk memulai permainan sudah
star. Apa yang terjadi dengan teman Bunga, apa mereka akan mendapatkan luka
atau mereka akan pergi selamanya.
Mobil melaju cepat dari arah belakang dan depan, tanpa
mereka tahu hanya menikmati perjalan menuju tempat wisata yang lain untuk
melepaskan lelah dan kebinggungan yang mereka rasakan saat dua hari yang lalu.
Tiba-tiba mobil yang melaju dari belakang dan depan
berhenti, yang membuat Mei, Le dan yang lainnya berhenti melaju. Dari depan
keluar beberapa orang berpakaian hitam dan masker hitam dan dari belakang juga
muncul beberapa orang berpakaian hitam dengan membawa alat pemukul.
“Siapa mereka,”kata Le.
“Aku tidak tahu, tapi firasatku. Kalau kita dalam
bahaya,”kata Je.
Mereka semua mempersiapkan diri jika terjadi suatu hal yang
tidak enak, dengan mencoba menghubungi 112 untuk cadangan. Tapi tidak tahu
kenapa, saat mereka menghubugi 112 tidak bisa terhubung. Yang membuat Mei, Je
dan Re khawatir. “Ayo kita pergi,”ucap Re.
“Pergi kemana, kamu tidak lihat kita sudah dikepung
sekarang,”kata wakil.
“Terus bagaimana, apa yang harus kita lakukan sekarang,”kata Mei.
“Apa kalian sudah menghubungi 112?,”kata Wakil.
“Sudah tapi tidak bisa terhubung. Bagaimana dong ini,”kata
Re yang sudah gelisa.
Ro, Le dan wakil maju ke depan mencoba untuk melindungi Mei, Re dan Je. “Kalian siapa?,”kata Le.
“Itu bukan urusan kalian. Kami disini hanya akan membuat
kalian menderita,”ucap preman tersebut.
Mereka bertiga mencoba menghubungi reza, Reno dan kawan yang lain yang sudah melaju didepan,
tapi tidak bisa terhubung. Satu tiga
orang preman maju yang siap melakukan serangan tapi mereka bertiga berjaga
bertahan. Sampai ada disalah satu peram membuat pergerakan, tapi mereka bertiga
menghindar dengan baik. Tanpa berpikir lama dari belakang juga sudah menapatkan
serangan yang membuat tiga orang dibelakang di tangkap dan membawa tiga teman
mereka masuk kedalam mobil. TIga cowok yang depan yang masih bertahan dengan
berbagai pukulan dan hantaman mereka rasakan untuk tetap bertahan. Tapi mereka
mencoba menolong teman mereka yang tertangkap, tapi usaha mereka gagal dengan
pukulan dipunggung dengan kersa yang membuat Wakil, Le dan Ro pingsan ditempat.
“Aduh kepalaku,”ucap Le dengan melihat disekitar mereka.
__ADS_1
“Kalian sudah sadar,”kata Mei.
“Bagaimana dengan kalian, ini dimana,”kata Ro.
“Aku rasa kita sekarang, ada di markas para preman,”ucap Re yang menahan tangis.
“Dari pada kalian menangis, pikirkan bagaimana kita bisa keluar
dari sini,”kata Le yang menahan rasa sakit.
“Dimana ponsel kalian,”ucap Ro.
“Ponsel sudah disita. Bagaimana kita bisa berpikir dengan
kondisi seperti ini. Coba kamu yang pikirkan. Sukanya buka mulut saja,”kata Le
yang tidak bisa menahan emosi.
“sudah, jangan berantem lagi. Kita harus bisa kerja
sama,”kata Re.
“Apa yang kamu lakukan wakil,”kata Je.
“Diam kamu jika tidak ingin ketahuan,”kata wakil yang masih
menyembunyikan satu ponsel.
Wakil mencoba menghubungi 112 tapi tidak terhubung, hingga akhirnya ia mencoba menghubungi
temannya dan meminta bantuan kalao mereka sekarang sedang disekap. Dengan
mengirim lokasi mereka, belum sempat mereka mengirim lokasi tiga orang preman
membawa dua teman kita keluar.
“Hai kalian mau bawa kami kemana,”ucap Re.
“Diam kamu, jika kamu tidak ingin kamu terluka,”kata Preman.
Mereka yang tertangkap hanya tediam melihat teman mereka
dibawa dengan paksa.”Apa yang mereka inginkan,”kata Mei yang takut.
“Bagaimana?,”kata Le kepada Wakil.
Di sela kegelisaan yang membuat mereka takut, khawatir.”
Sebenernya kalian punya musuh dengan siapa kita selalu sial,”kata Le.
Semuanya hanya menatap Le dan tidak berkata.”Aku rasa ini
karman karena kita jahat kepada Bunga,”ucap Le.
“Karman. Itu tidak mungkin karena Bunga. Pasti ada disalah
satu dari kita yang memiliki masalah dengan beberapa orang yang ingin balas
dendan dengan kita,”kata Wakil.
“Aku tidak tahu. Aku tidak bisa berpikir lagi sekarang,”kata Mei.
Tidak lama mereka berbicara Je dan Re dibawa kembali dengan
penuh luka.”Apa yang terjadi Re je,”kata Ro.
Mereka berdua tidak mengatakan apa-apa, hanya terdiam.
Dengan menahan rasa sakit yang mereka dapatkan. Re dan Je hanya duduk bersandar
dengan luka yang mereka peroleh.
Waktu berlalu dengan rasa sakit dan penderitaan, hingga
penantian itu datang teman wakil datang membawa polisi. Tapi disana tidak ada
satupun preman, hanya melihat kami berenam dengan penuh luka.
“Kalian tidak apa-apa,”ucap teman wakil.
“Dengan kondisi seperti ini, bagaimana menurut kamu,”ucap
wakil kepada temannya.
__ADS_1
Ambulan membawa mereka ke rumah sakit terdekat untuk
melakukan pemeriksan. Disela-sela pemeriksaan mereka di introgasi oleh polisi
apa yang sedang terjadi. Setelah pemeriksaan selesai mereka semua di rawat di
pindahkan di rumah sakit yang lokasinya tidak jauh dengan tempat mereka
tinggal.
“Apa yang membuat kita semua mendapatkan musibah ini,”kata
Le sambil melihat jendela rumah sakit. Mereka semua tidak pada satu rumah sakit
yang sama karena orang tua mereka memindahkan putri dan putra mereka agar bisa
merawatnya.
“Apa yang kamupikirkan,”kata Ayah Le.
“Tidak yah. Hanya binggung saja, kenapa aku bisa seperti
ini,”kata Le.
“Namanya juga musibah, terima dengan iklas mungkin ada
sesuatu dibalik musibah itu,”kata Ibunya.
Karena Le bosan ia berjalan keluar ruangan. Tanpa disadari
ia bertemu dengan Bunga dan keluarga bunga. Yang membuat Le bingggung,”kenapa
Bunga bisa di rumah sakit?.”
Le mengikuti Bunga dari belakang, hingga akhirnya ayahnya
melihat Le mengikuti. “Ada keperluan apa ya nak. Kenapa kamu mengikuti
kami,”kata ayah Bunga. Semua orang yang
mendengarkan ayah berbicara berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. “Le,
sedang apa kamu disini,”kata Bunga.
“Hai Bunga, kita bertemu lagi,”ucap Le yang malu karena penampilannya.
“Apa yang terjadi dengan mu,”ucap Bunga yang khawatir
melihat kondisi Le.
“Tidak, ini hanya terjatuh dari montor,”ucap Le yang berbohong.
“Lain kali hati-hati kalau naik montor,”kata Bunga.
“Kamu sendiri sedang apa disini,”kata Le yang penasaran.
“Untuk apa kamu ingin tahu keadaan Bunga,”kata ilham.
“Aku hanya penasaran saja, karena beberapa minggu lalu aku
melihat kamu berbaring di kasur rumah sakit. sekarang aku melihat kamu disini
bersama keluarga kamu. Apa kamu sakit,”ucap Le.
Bunga hanya tersenyum hingga bunga dipanggil oleh dokter
Eri.”Bunga sudah waktunya,”kata Dokter Erik dari jauh.
Bunga langsung meninggalkan Le pergi menuju dokter Erik
bersama keluarganya. Le yang masih berdiri masih bertanya-tanya,”Apa benar
Bunga sakit ya,”kata Le.
“Tapi ia sakit apa,”ucapnya lagi.
“Apa yang kamu lakukan disini Le,”kata temannya yang
merupakan dokter di rumah sakit ia di rawat.
“Tenyata kamu,”ucap Le.
“Dia sakit kanker hati,”kata temannya.
__ADS_1
“Apa kanker hati,”ucap Le yang syok mendengarnya.
“Aku tidak tahu kalau Bunga sakit,”kata Le lagi.