Hatimu Dan Hatiku

Hatimu Dan Hatiku
Musibah


__ADS_3

Setelah kejadian tempo hari mereka tetap tidak menyadari


kalau mereka akan mendapatkan musibah menimpa mereka semua. Jalan yang sepi di


siang hari dengan mobil yang berlalu lalang tapi tidak ramai pada waktu itu.


Teman Reza yang sudah menyiapkan perangkap kedua sudah dimulai saat mereka


pergi menuju lokasi.


Preman yang sudah dipersiapakn untuk memulai permainan sudah


star. Apa yang terjadi dengan teman Bunga, apa mereka akan mendapatkan luka


atau mereka akan pergi selamanya.


Mobil melaju cepat dari arah belakang dan depan, tanpa


mereka tahu hanya menikmati perjalan menuju tempat wisata yang lain untuk


melepaskan lelah dan kebinggungan yang mereka rasakan saat dua hari yang lalu.


Tiba-tiba mobil yang melaju dari belakang dan depan


berhenti, yang membuat Mei, Le dan yang lainnya berhenti melaju. Dari depan


keluar beberapa orang berpakaian hitam dan masker hitam dan dari belakang juga


muncul beberapa orang berpakaian hitam dengan membawa alat pemukul.


“Siapa mereka,”kata Le.


“Aku tidak tahu, tapi firasatku. Kalau kita dalam


bahaya,”kata Je.


Mereka semua mempersiapkan diri jika terjadi suatu hal yang


tidak enak, dengan mencoba menghubungi 112 untuk cadangan. Tapi tidak tahu


kenapa, saat mereka menghubugi 112 tidak bisa terhubung. Yang membuat Mei, Je


dan Re khawatir. “Ayo kita pergi,”ucap Re.


“Pergi kemana, kamu tidak lihat kita sudah dikepung


sekarang,”kata wakil.


“Terus bagaimana, apa yang harus kita lakukan sekarang,”kata Mei.


“Apa kalian sudah menghubungi 112?,”kata Wakil.


“Sudah tapi tidak bisa terhubung. Bagaimana dong ini,”kata


Re yang sudah gelisa.


Ro, Le dan wakil maju ke depan mencoba untuk melindungi Mei, Re dan Je. “Kalian siapa?,”kata Le.


“Itu bukan urusan kalian. Kami disini hanya akan membuat


kalian menderita,”ucap preman tersebut.


Mereka bertiga mencoba menghubungi reza, Reno dan  kawan yang lain yang sudah melaju didepan,


tapi tidak bisa terhubung.  Satu tiga


orang preman maju yang siap melakukan serangan tapi mereka bertiga berjaga


bertahan. Sampai ada disalah satu peram membuat pergerakan, tapi mereka bertiga


menghindar dengan baik. Tanpa berpikir lama dari belakang juga sudah menapatkan


serangan yang membuat tiga orang dibelakang di tangkap dan membawa tiga teman


mereka masuk kedalam mobil. TIga cowok yang depan yang masih bertahan dengan


berbagai pukulan dan hantaman mereka rasakan untuk tetap bertahan. Tapi mereka


mencoba menolong teman mereka yang tertangkap, tapi usaha mereka gagal dengan


pukulan dipunggung dengan kersa yang membuat Wakil, Le dan Ro pingsan ditempat.


“Aduh kepalaku,”ucap Le dengan melihat disekitar mereka.

__ADS_1


“Kalian sudah sadar,”kata Mei.


“Bagaimana dengan kalian, ini dimana,”kata Ro.


“Aku rasa kita sekarang, ada di markas para preman,”ucap Re yang menahan tangis.


“Dari pada kalian menangis, pikirkan bagaimana kita bisa keluar


dari sini,”kata Le yang menahan rasa sakit.


“Dimana ponsel kalian,”ucap Ro.


“Ponsel sudah disita. Bagaimana kita bisa berpikir dengan


kondisi seperti ini. Coba kamu yang pikirkan. Sukanya buka mulut saja,”kata Le


yang tidak bisa menahan emosi.


“sudah, jangan berantem lagi. Kita harus bisa kerja


sama,”kata Re.


“Apa yang kamu lakukan wakil,”kata Je.


“Diam kamu jika tidak ingin ketahuan,”kata wakil yang masih


menyembunyikan satu ponsel.


Wakil  mencoba menghubungi 112 tapi tidak terhubung, hingga akhirnya ia mencoba menghubungi


temannya dan meminta bantuan kalao mereka sekarang sedang disekap. Dengan


mengirim lokasi mereka, belum sempat mereka mengirim lokasi tiga orang preman


membawa dua teman kita keluar.


“Hai kalian mau bawa kami kemana,”ucap Re.


“Diam kamu, jika kamu tidak ingin kamu terluka,”kata Preman.


Mereka yang tertangkap hanya tediam melihat teman mereka


dibawa dengan paksa.”Apa yang mereka inginkan,”kata Mei yang takut.


“Bagaimana?,”kata Le kepada Wakil.


Di sela kegelisaan yang membuat mereka takut, khawatir.”


Sebenernya kalian punya musuh dengan siapa kita selalu sial,”kata Le.


Semuanya hanya menatap Le dan tidak berkata.”Aku rasa ini


karman karena kita jahat kepada Bunga,”ucap Le.


“Karman. Itu tidak mungkin karena Bunga. Pasti ada disalah


satu dari kita yang memiliki masalah dengan beberapa orang yang ingin balas


dendan dengan kita,”kata Wakil.


“Aku tidak tahu. Aku tidak bisa berpikir lagi sekarang,”kata Mei.


Tidak lama mereka berbicara Je dan Re dibawa kembali dengan


penuh luka.”Apa yang terjadi Re je,”kata Ro.


Mereka berdua tidak mengatakan apa-apa, hanya terdiam.


Dengan menahan rasa sakit yang mereka dapatkan. Re dan Je hanya duduk bersandar


dengan luka yang mereka peroleh.


Waktu berlalu dengan rasa sakit dan penderitaan, hingga


penantian itu datang teman wakil datang membawa polisi. Tapi disana tidak ada


satupun preman, hanya melihat kami berenam dengan penuh luka.


“Kalian tidak apa-apa,”ucap teman wakil.


“Dengan kondisi seperti ini, bagaimana menurut kamu,”ucap


wakil kepada temannya.

__ADS_1


Ambulan membawa mereka ke rumah sakit terdekat untuk


melakukan pemeriksan. Disela-sela pemeriksaan mereka di introgasi oleh polisi


apa yang sedang terjadi. Setelah pemeriksaan selesai mereka semua di rawat di


pindahkan di rumah sakit yang lokasinya tidak jauh dengan tempat mereka


tinggal.


“Apa yang membuat kita semua mendapatkan musibah ini,”kata


Le sambil melihat jendela rumah sakit. Mereka semua tidak pada satu rumah sakit


yang sama karena orang tua mereka memindahkan putri dan putra mereka agar bisa


merawatnya.


“Apa yang kamupikirkan,”kata Ayah Le.


“Tidak yah. Hanya binggung saja, kenapa aku bisa seperti


ini,”kata Le.


“Namanya juga musibah, terima dengan iklas mungkin ada


sesuatu dibalik musibah itu,”kata Ibunya.


Karena Le bosan ia berjalan keluar ruangan. Tanpa disadari


ia bertemu dengan Bunga dan keluarga bunga. Yang membuat Le bingggung,”kenapa


Bunga bisa di rumah sakit?.”


Le mengikuti Bunga dari belakang, hingga akhirnya ayahnya


melihat Le mengikuti. “Ada keperluan apa ya nak. Kenapa kamu mengikuti


kami,”kata ayah Bunga.  Semua orang yang


mendengarkan ayah berbicara berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. “Le,


sedang apa kamu disini,”kata Bunga.


“Hai Bunga, kita bertemu lagi,”ucap Le yang malu karena penampilannya.


“Apa yang terjadi dengan mu,”ucap Bunga yang khawatir


melihat kondisi Le.


“Tidak, ini hanya terjatuh dari montor,”ucap Le yang berbohong.


“Lain kali hati-hati kalau naik montor,”kata Bunga.


“Kamu sendiri sedang apa disini,”kata Le yang penasaran.


“Untuk apa kamu ingin tahu keadaan Bunga,”kata ilham.


“Aku hanya penasaran saja, karena beberapa minggu lalu aku


melihat kamu berbaring di kasur rumah sakit. sekarang aku melihat kamu disini


bersama keluarga kamu. Apa kamu sakit,”ucap Le.


Bunga hanya tersenyum hingga bunga dipanggil oleh dokter


Eri.”Bunga sudah waktunya,”kata Dokter Erik dari jauh.


Bunga langsung meninggalkan Le pergi menuju dokter Erik


bersama keluarganya. Le yang masih berdiri masih bertanya-tanya,”Apa benar


Bunga sakit ya,”kata Le.


“Tapi ia sakit apa,”ucapnya lagi.


“Apa yang kamu lakukan disini Le,”kata temannya yang


merupakan dokter di rumah sakit ia di rawat.


“Tenyata kamu,”ucap Le.


“Dia sakit kanker hati,”kata temannya.

__ADS_1


“Apa kanker hati,”ucap Le yang syok mendengarnya.


“Aku tidak tahu kalau Bunga sakit,”kata Le lagi.


__ADS_2