Hatimu Dan Hatiku

Hatimu Dan Hatiku
Keliling Pulau


__ADS_3

Bunga mengantar Kak Ilham dan kak John serta temanya ke kamar mereka. Setelah menganta Bunga kembali ke tempat si putih.


“Dik,”kata John.


Bunga menoleh ke arah kak John,”Ada apa kak?.”


“Apa kakak bisa bicara dengan kamu?,”kata John.


Bunga menganggukan kepalanya dan masuk ke dalam bersama kak John dan Kak Ilham.


“Apa yang ingin kakak bicarakan denganku,”kata Bunga yang hendak duduk di sofa.


Kak ilham dan kak John hanya memandang satu sama lain yang membuat Bunga binggung. “Kenapa diam saja,”kata Bunga.


“Apa kamu dari awal sudah tahu pekerjaan kakak kamu ini,”ucap John.


“Jadi kakak Cuma mau tanya itu. Kenapa dianggap serius. Buat Bunga binggung saja,”kata Bunga.


“Iya Bunga sudah tahu semuanya. Tapi Bunga pura-pura tidak tahu, karena Bunga tahu kalau kakak menyembunyikan ini  dari ayah dan Ibu bukan,”kata Bunga.


“Jika kamu tahu kenapa kamu tidak mengatakannya,”kata kak Ilham.


“Karena itu rahasia kakak, aku tidak berhak tahu apa yang kakak lakukan. Karena aku juga sama menyembunyikan rahasia ini kepada ayah dan Ibu,”kata Bunga.


“Sudah berapa lama kamu memiliki ini semua,”kata Ilham.


“Kalau tidak salam sudah 10 kalaiu tidak 15 tahun. Kenapa


kak?,”kata Bunga.


“Selama itukah kamu memiliki semua ini. Tapi dari mana semua


uang yang kamu dapatkan,”kata Ilham.


“DarI sebuah undangan hitam,”ucap Bunga.


“Undangan Hitam!,”ucap John.


John melihat ke arah Kak Ilham dengan maksud artian tolong jelaskan apa itu undangan Hitam. Kak Ilham menghela nafas dan menundukan kepala sebelum menjelaskan kepada John.


“Undangan Hitam adalah udangan suatu pelelangan langkah yang dijual berbagai barang langkah modern, klasik dan barang baru. Tapi tidak semua orang bisa mendapatkan undangan itu karena sangat mahal dan junlah yang tidak banyak,”kata Ilham menjelaskan.


“Tapi bagaimana kamu bisa mendapatkan Undangan Hitam itu,


dik.,”kata John.


“Aku tidak tahu,”kata Bunga.


“Tidak tahu bagaimana maksud kamu,”kata Ilham.


“Aku Cuma mendapatkannya dari sebuah e-mail masuk saja. Dari siapa itu aku tidak tahu. Awalnya aku kira itu iseng aja, karena aku penasaran aku datang ke lokasi itu. Sampai di lokasi ada penjaga aku menujukan bukti itu


lewat email yang dikirim. Lalu aku dibawa masuk di suatu pintu yang menuju ke lantai bahwa.Untuk lanjutannya pasti kakak sudah tahu apa yang terjadi,”kata Bunga menjelaskan.


Kak Ilham dan kak John terdiam mencernak penjelasan dari adiknya yang mendapatkan Undangan Hitam. “Jika tidak ada lagi, aku ingin kembali ke kamarku kak,”kata Bunga.

__ADS_1


“Kak harus istirahat malam ini besok aku akan ajak kakak jalan-jalan keliling pulau,”ucap Bunga yang keluar kamar kedua kakaknya.


Malam di pulau Bunga kembali menuju ke tempat si putih. Dingin dan hangat bersama si putih Bunga tertidur lelepa, melepaskan lelah. Izam yang berjalan menuju ruangan Bunga dan si putih. “Kamu sudah tidur,”ucap


Izam yang mendekatkan diri di telinga Bunga.


Karena mendengar suara Bunga terbangun dan membuka


matanya,”Ada apa memanggilku?.”


“Aku ingin melihat keadaan tubuh kamu. Apa benar sudah pulih


total apa belum,”ucap Izam.


Bunga hanya menganggukan kepalanya. Di tengah pemeriksaan


Izam berkata,”Bagaimana apa kamu sudah senang bisa bertemu dengan kedua kakak


kamu?.”


Bunga hanya tersenyum kepada Izam tanpa mengatakan


apa-apa.”Apa kamu ingin kembali ke keluarga kamu?,”kata Izam lagi.


“Aku tidak ingin kembali dulu. Aku ingin masih menyendiri,


untuk beberapa bulan,”kata Bunga.


“Kenapa tidak ingin kembali,”ucap Izam.


Izam berdiri,”Jika itu yang kamu mau kami disini akan mendukung kamu. Sebaiknya kamu sekarang tidur, bukannya besok kamu ingin mengajak kakak kamu jalan-jalan keliling pulau.”


Bunga tertidur, Izam keluar ruangan. Angin berhembus lembut suara burung berkicau dengan merdu. Cahaya sinar pagi menyinari Bunga yang tertidur lelap. Hingga Si putih membangunkannya dengan menjilat wajah Bunga.


Ia terbangun dari mimpi indahnya dan melihat si putih


bersamanya yang sudah terbangun. “Pagi Putih,”ucap Bunga.


Bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk memberishkan diri. Air yag mengalir dari atas ke bawah dengan dingin membasahi tubuh Bunga. Melihat dirinya yang berbeda setelah menghilangkan racun dan


penyakitnya yang sudah sembuh. Membuat penampilan Bunga berbeda dari yang dulu dengan wajah yang berseri dengan ramput putih yang bagaikan kristal panjang bergelombang. Di hatinya ia berpkir,”Apa bisa kembali seperti dulu penamilannya.”


Itu yang dipikirkan Bunga saat itu tapi ia sadar kalau dia tidak akan bisa kembali seperti dulu penampilanya karena tanda yang ada ditubuhnya yang menunjukan tanda tiga segitika di belakang leher. “Aku rasa aku harus mengubah penampilanku agar orang lain tidak tahu jika ini akau. Dia berpikir untuk mengubah penampilan palsu untuk mengejoh orang lain.”


Selesai ia membersihkan diri, ia keluar kamar dan menuju ruang makan bersama kakaknya yang sudah ada diluar kamar menuggu Bunga. “Sudah dari tadi kak menuggunya?,”kata Bunga menutup pintu kamar.


“Tidak baru saja kami menuggu,”ucap Ilham.


“Ayo kita makan dulu, sebelum kita keliling pulau,”kata Bunga yang menarik kedua kakaknya menuju tempat makan dan tidak lupa mengajak teman kakak yang ada disampingnya.


Bersama-sama mereka menuju tempat makan yang sudah ada banyak orang ditempat itu untuk sarapan pagi. “Pagi semua,”kata sapaan untuk semua orang yang ada.


“Pagi, kak,”kata mereka.


Bersama mereka menikmati sarapan paginya. “Kalian ingin mau

__ADS_1


kemana untuk pagi ini,”kata Tero dari belakang.


“Jika di ijinkan kami ingin melihat pulau  keamanan kalian,”kata Ilham meliaht ke


belakang.


“Ok. Nanti aku akan menjadi penunjuk kalian, dari pada adik


kalian yang mengajak kalian keliling,”kata Jeri.


“Kenapa bukan adikku yang mengantarkan,”kata John.


“Aku tidak bisa kalau pagi. Ada jadwal kontrol bersama


Izam,”kata Bunga.


“Nanti jika sudah selesai aku akan menyusul kakak,”ucap


Bunga.


“Baiklah,”kata Ilham mengelus kepala adiknya.


Selesai makan kedua kakak Bunga berserta teman kakaknya berkeliling pulau bersama Tero dan Jeri. Sedangkan Bunga harus pergi kontrol bersama dengan Izam yang sudah menuggu di dekat pintu masuk ruang makan. “Apa


sudah selesai?,”kata Izam yang menuggu.


“Sudah,”kata Bunga.


“Kalau gitu ayo kita pergi sekarang sebelum kamu pingsan lagi seperti kemarin,”kata Izam.


Bunga tersenyum dan pergi meninggalkan kakaknya bersama temannya untuk berkeliling. Di tengah jalan Izam berkata,”Kenapa kamu berbohong kepada kakakmu?.”


“Aku tidak maksud untuk berbohong, aku hanya ingin ke lantai bawah,”kata Bunga.


Izam yang mendengar terkejut,”Untuk apa kamu ke lantai


bawah, tidak seperti biasanya.”


Bunga hanya tersenyum,”Ada hal yang ingin aku lakukan


dibawah sana. Apa kamu mau ikut?.”


Izam tidak langsung menjawab hingga mereka sampai di lantai


bawah. “Bagaimana?,”ucap Bunga yang menuggu jawaban.


“Aku akan menuggu disini saja,”kata Izam yang masih ragu


untuk masuk kedalam ruangan bawah.


“Baiklah jika itu yang kamu mau. Aku akan masuk


kedalam,”kata Bunga yang menuruni tangga dan membuka pintu dilantai bawah yang


selalu dikunci oleh Bunga setiap hari.

__ADS_1


__ADS_2