Hatimu Dan Hatiku

Hatimu Dan Hatiku
Dingin Bagaikan Es


__ADS_3

Semua rasa gelisa dirasakan dalam satu rumah, mencari keberadaan Bunga yang tidaka da dikamar.


“Mungkin saja Bunga main diluar,”ucap kakak pertama.


“Jika main harusnya bilangkan,”kata ibunya yang gelisa.


“Sudah dari pada ribut, kita semua cari dimana Bunga berada,”ucap Ayahnya.


Sementara Petra yang mengetahui kalau Bunga tidak ada di Kamar mencari keseluk beluk rumah tanpa minta ijin


kepada pemilik rumah mencari keberadaan Bunga. Krena Petra tahu kalau kondisi  Bunga tidak baik setelah pulang dari rumah sakit.


Disetiap ruangan ia masukin tanpa meminta ijin, hingga terlintas cahaya yang menuntun Petra ke atas teras yang


ada di balik tangga.


Tanpa berpikir panjang Petra pergi di balik tangga dan terdapat pintu yang menuju ke atas atap teras. Ia melangkah maju menaiki anak tangga yang sudah ada menuju atas. Hingga cahaya yang menuntun dia menghilang dan melihat Bunga terbaring di tas lantai di malam hari.


Petra berterika menyebut namanya dan berlari ke arahnya,”Bunga.”


Kakak kedua yang kebetulan mencari Bunga tidak jauh dari tangga teras berlari dan berteriak memanggil semua penghuni rumah,”Bunga ada di atas teras.”


Petra yang melihat langsung memeluk Bunga yang tubuhnya sudah dinggi banagikan Es. Tanpa berpikir panjang


Petra menggendong Bunga menuju mobil.


“Apa yang terjadi dengan putri saya,”ucap ibunya yang melihat khawatir kepada putrinya.


“Apa yang terjadi kenapa adik saya dingin sekali,”uacap kakak pertama.


Petra yang menggendong Bunga terus berjalan tanpa mengucapkan satu kata apa pun menuju ke mobil. Sampai di


atas mobil Petra meminta sekertarisnya untuk menuju rumah sakit yang di ikuti oleh ibu dan ayahnya yang ikut naik satu mobil dengan Petra. Sedangkan kakaknya masuk ke rumah mengeluarkan motor dan mengikuti mobil Petra dari belakang.


“Aku mohon bertahanlah Bunga,”ucap Petra yang masih memeluk Bunga dengan Erat.


Sampai di ruamh sakit dokter Erik sudah didepan. Petra langsung menaruk Bunga di atas kasur dorong menuju ruangan pasien.


“Apa yang terjadi, kenapa tubung Bunga dingin,”ucap dokter Erik sambil mendorong kasurnya menuju ruangan.


“Dia sudah tergeletak di atas teras tanpa penghangat tubuh,”ucap Petra.


“Apa...,”kata Dokter Erik yang terkejut dan melepaskan kasur dorngnya dan berhenti di tengah jalan. Tapi kasur


dorong masih berjalan menuju ruangan bersama susuter untuk melakukan penanganan.


“Itu yang terjadi saat aku pergi ke rumah Bunga,”ucap Petra.

__ADS_1


“Aku tidak tahu, apa yang terjadi dengan bunga. Yang aku tahu di sampaingnya ada ponselnya,”ucap Petra dengan


suara sedih kerena tidak bisa menjaga Bunga.


Erik yang mendengarkan melangkah menuju ruangan Bunga untuk memeriksa keadaannya bunga yang tidak sadarkan diri. Di tempat itu sudah ada keluarga bunga yang mengkhawatirkan bunga.


Hingga suster berkata,”Tolong untuk keluarga pasien untuk keluar agar dokter Erik bisa memeriksa kondisi


pasien.”


Semua yang ada di ruangan keluar termasuk Petra yang masih melihat ke arah Bunga dengan keadaan berbaring lemas di atas kasur.


“Nak Petra,”ucap ayah bunga yang menepuk punggung petra.


Petra menoleh ke arah ayah bunga.” Ada apa paman,”ucap Petra kepada ayah bunga.


 “Terima kasih sudah mengkhawatirkan putri saya,”ucap ayahnya.


Petra hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. “Anda tidak perluh khawatir keadaan bunga dia akan baik-baik


saja,”ucap ayahnya.


“Baik-baik saja,”ucap Petra yang tidak bisa menahan rasa gelisa dan marahnya.


“Iya,”kata ayahnya.


“Bagaimana anda sebagai ayahnya tidak khawatir akan kondisi putri anda sendiri,”ucap Petra.


“Jika anda tahu putri anda sekarang...,”kata yang terputus karena suara pintu kamar terbuka petra


melangkah meninggalkan ayah bunga menuju ke arah pintu.


“Dokter Erik keluar dengan wajah pucat denagn ekspresi tidak bahagia.


“Bagaimana keadaan bunga,”ucap petra yang menuggu kabar baik dari Erik.


Dokter Erik hanya terdiam untuk sesaat dan menarik nafas perlahan,”Kondisi bunga saat ini tidak kurang baik.


Karena kondisinya cukup lemah apa lagi dia belum lama menjalani kemo terapi.”


“kemo terapi,”keluarga bunga terkejut dengan kata yang diucapkan oleh doker Erik. Sementara Petra hanya


terdiam untuk beberapa menit.


“Kamu harus bisa membuat dia sembuh Erik,”ucap tegas Petra.


“Aku tidak perduli bagaimana kamu harus menyembeuhkannya, aku ingin melihat dia bisa tersenyum kembali. Untuk biaya itu mudah asalkan bunga bisa kembali sembuh,”ucap Petra yang menatap Erik dengan tajam. Setelah berkata seperti itu petra masuk kedalam ruangan melihat bunga yang berbaring sedangkan keluarganya masih syok dan terkejut dengan kata kemo terapi.

__ADS_1


“Dokter, Apa maksud?,”ucap kakak pertama.


Dokter Erik menarik nafas sebelum ia mengatakan penyakit Bunga yang sebenarnya.


“Dokter.. tolong jelaskan apa yang dimaksdu adik saya kemo terapi. Adik saya sakit apa sebenarnya,”kata kakak


kedua.


Sedangkan kedua orang tuanya yang duduk lemas dikursi mendengar kata kemotrapi dari dokter Erik. Kedua orang tua Bunga yang tidak tahu apa-apa merasakan rasa gelisa dan khawatir yang tidak bisa dijelaskan akan kondisi Bunga yang tidak tahu keadaannya sekarang.


“Baik saya akan bicara,”kata Dokter Erik.


Semua keluarga bunga terdiam menuggu penjelasan dari Dokter Erik. “Sebenarnya putri anda Bunga menderita


kangker Hati tahap awal. Satu hari yang lalu Bunga baru saja menjalankan kemoterapi tahap pertama. Tapi melihat keadaan yang sekarang saya merasa...,”ucap Dokter Erik yang berhenti karena mendengar Petra dan suster yang didalam memanggil.


Terdengan suara pintu dari belang dokter Erik.”Dokter keadaan pasien mengalami penurunan,”kata suster yang


berjaga.


Dokter Erik masuk ke dalam ruangan dan melihat kondisi Bunga yang mulai tidak stabil dan mengharuskan


harus menjalankan operasi. Tapi di tengah persiapan Bunga membuka mata yang kebetulan di dalam ruangan hanya ada dokter Erik.”Dok,tolong jangan lakukan operasi. Tunggu aku akan baik-baik saja hanya syok,”ucap Bunga denagn suara pelan memohon dokter Erik.


“Kamu keras kepala. Ini tidak bisa ditunda lagi,”ucap Dokter Erik.


Bunga hanya menggelengkan kepalanya. Sedangkan Dokter Erik tidak bisa memaksa pasien, dengan


terpaksa  Dokter Erik hanya melakukan tindakan penjegahan tahap awal. Dokter Erik keluar dengan ekspresi tidak senang.


“Bagaimana dengan keadaan Bunga,”kata Petra.


“Kekasih tercintamu buat aku pusing,”ucap Erik kepada Petra.


“Apa maksud kamu Erik,”kata Petra.


“Baru saja Bunga siuman, dia meminta jangan lakukan operasi dia akan membaik untuk beberapa hari,”ucap Erik.


“Apa Bunga siuman. Apa kami boleh masuk,”kata ibu Bunga.


“Maaf untuk sekarang tidak bisa. Apa yang aku katakan itu benar Bunga siuman hanya untuk mengatakan tidak ingin operasi. Tapi dia kembali pinsan lagi,”kata Erik.


“Jadi maksud dokter. Bunga bangun hanya untuk mengatakan tidak operasi dan kembali tidur lagi. Begitu maksudnya,”kata kakak pertama. Dokter Erik hanya menganggukan kepala.


“Baik tapi bagaimana keadaaanya dokter tadi belum selesai menjelaskan. Sebenarnya adik saya sakit apa,”kata


kakak kedua.

__ADS_1


“Baik saya akan lanjutkan. Sebenarnya Bunga sudah menderita kanker Hati selama 3 bulan,”kata Dokter Erik.


“Tapi kenapa dokter tidak bilang waktu itu, kalau putri kami sakit kangker hati,”kata ayah bunga.


__ADS_2