
Mawar yang tidak harus melakukan apa setelah menbaca dokumennya merasa frustasi. Dalam hati ia berbicara,”Apa yang harus aku lakukan untuk merebutnya?”
Mawar yang tidak bisa berkata lagi merasa semua yang ada pada diri Bunga harus dihancurkan. Tapi ia berpikir bagaimana ia harus melakukannya untuk menghancurkannya. Jika satau pepimpin saja tidak bisa mengalahkannya bagaimana denganku apa aku bisa melakukannya. Mawar yang melamun dengan rasa frustasinya tersadar kembali setetelah Temi menanggilnya. “Mawar,”ucap Temi dengan lembut.
Mawar menoleh kearah Temi dengan wajah sedihnya,”Aku baik-baik saja Temi.”
“Apa benar kamu baik-baik saja dengan wajah kamu seperti itu,”ucap Temi. “Aku banar baik-baik saja dengan apa yang aku dapatkan sekarang ini. Aku akan memikirkan jalannya dengan tenang setelah ini,”ucap Mawar.
“Bagaimana kamu akan memikirkannya setelah membaca itu terus dengan wajah gelisamu ini,”kata Temi. “Aku tahu,”ucap Mawar dengan sedih.
“Dari pada kamu memikirkan itu sebaiknya kita bersantai saja karena sudah sampai disini. Bagaimana,,”ucap Temi membujuk.
“Bersantai ya,”kata Mawar dengan nada lemas. “Aku tahu kamu masih sedih dengan apa yang kamu lihat barusan . Tapi sampai kapan kamu akan terus berlarut-larut dalam kesedihan,”ucap Temi.
“Aku akan keluar sebentar. Kamu istirahatsaja disini dulu sampai kamu tenang, dan ini aku akan membawanya,”ucap Temi sambil mengambil dokumen yang ada di atas meja dan meninggalkan Mawar sendirian.
Temi keluar dari pondok dan bejalan menuju keluar. Tidak disangka Demon ada di luar pondok menuggu Temi. Temi yang melihat tetap berjalan hingga Demon menyusulnya. “Aku igin bicara denganmu?,”kata Demon.
Temi hanya mengikuti Demon dari samping setelah mendengar apa yang diucapkan Demon kepadanya. Setelah jauh dari pondok dimana Mawar beda barulah Temi berkata,”Apa yang ingin kamu jelaskan padaku?.”
“Dia bukan lawan yang bisa kalian hadapi,”kata Demon. “Apa maksud kamu Demon,”ucap Temi.
“Kamu ingin tahu apa yang terjadi barusan setelah aku memberikan identitas wanita itu kepada kalian,”kata Demon. Temi hanya melihat dengan ekspresi tidak mengerti dengan wajah tajam Demon.
“Apa yang terjadi sampai kamu berkata seperti itu,”ucap Temi. Demon hanya menghela nafas dan memberikan ponselnya kepada Temi agar dia tahu apa yang terjadi kepada bawahanya sekarang.
“Apa yang ingin kamu lihatkan kepadaku,”ucap Temi. Demon hanya memberikan ponsel kepada Temi. Setelah melihat ke layar ponsel dia baru sadar kalau bawahannya mengalami kecelakanan yang membuat dia tambah binggung. “Inikan hanya kecelakan di masrkas tapi kenapa dia mengatakan kalau ini perbuatan Bunga,”kata hati Temi.
“Pasti kamu binggung dengan apa yang ada di markas bukan. Dengan hati yang berkata ini hanya kecelakaan biasa yang terjadi di maskas tapi kenapa aku berpikir lain begitu bukan,”kata Demon yang seperti membaca pikiran
Temi.
__ADS_1
“Apa maksud kamu ini adalah perbuatan Bunga begitu. Tapi bagaimana bisa ini berbuatan dia,”kata Temi yang tidak percaya.
“Itu yang terjadi. Kamu masih tidak tahu bagaimana dunia luar itu, tidak seperti wanita tadi dia berpengalaman untuk mengalahkan kalian yang tidak mengerti apa-apa,”kata Demon.
“Jika dia bukan wanita biasa. Tapi kenapa dia berperilaku seperti wanita biasa,”ucap Temi. “Karena dia tidak ingin membahayakan orang lain. Dia seperti tembok yang selalu menjaga orang yang berharga tanpa ada yang tahu
kelemahannya sampai sekarang,”kata Demon.
“Apa dia seperti itu. Aku tidak percaya dengan apa yang kamu katakan sebelum aku mencoba melakukakannya,”kata Temi.
“Jangan pernah kamu mencoba mencari masalah dengan dia. Dia sangat berbahya,”kata Demon yang mengkhawatirkan Temi.
“Jangan pernah melakukan yang tidak perluh,”ucap Demon sambil memengan tangan Temi.
“Lepas,”ucap Temi dengan tajam. “Aku tahu kalau kamu ingin membantu teman kamu. Tapi jangan melawan wanita ini karena...,”kata Demon yang belum selesai karena mendapat panggilan dari markas.
Demon mengangkat teleponnya dan mendapatkan kabar kalau setengah dari bawahannya sudah tewas dibantai oleh anak buah Bunga. Suasana menjadi tegang setelah dia mendengar suara yang tidak asing. “Hai Demon, lama tidak mendengar suara kamu,”ucap Surya.
“Kamu... apa yang kamu lakukan dengan anak buahku,”ucap
“Apa yang aku lakukan, bukanya kamu yang sudah melanggar janji,”ucap Surya.
Dalam hati dia berkata,”Tidak mungkin dia tahu kalau aku memberikan identitas Bunga kepada orang lain.”
“Apa kamu tidak ingin mengatakannya apa yang terjadi,”kata Surya. “Bagaimana kamu tahu semuanya,”kat Demon.
“Bagaimana aku bisa tahu itu tidak pentinhg. Tapi kenpa tidak ada perkembangan dari anak buah kamu termasuk Rembon,”ucap Surya.
“Apa yang kamu lakukan dengan Rembon,”kata Demon dengan keras. “Jika kamu melukainya kamu akan tahu akibatnya,”kata Demon lagi.
“Apa yang bisa kamu lakukan tingga beberapa orang lagi semua anak buah kamu sudha tewas,”ucap Surya.
__ADS_1
“Sial..,”ucap Demon sambil melempar ponselnya ke tanah. Temi yang melihat ekspresi Demon merasa kalau ada sesuatu yang membuat dia marah.
“Apa yang terjadi, kenapa kamu marah seperti itu,”kata Temi. “Apa kamu melihat aku marah seperti ini,”ucap Demon dengan suasana marah.
“Itu karena kalian aku kehilangan bawahanku sekarang,”ucap Demon yang meninggalkan Temi.
“Apa maksud kamu Demon...tunggu dulu,”kata Temi yang mengerjar Demon tapi tidak tekejar. Temi yang tidak pernah melihat Demon marah merasa akan terjadi sesuatu. Yang membuat dia kepikiran. “Aku harus mengejar dia tapi bagaimana dengan Mawar,”ucap Temi..
Temi yang bimbang denga hatinya antara Demon atau Mawar. Yang harus membuat keputusan yang sangat sulit disela dia berpikir dia membca satu lebar demi lebar identitas Bunga. Hingga dia dihampiri satu pemuda yang
duduk disampingnya. “Hai gadis canti sedang apa kamu sendirian disini,”kata Pemuda itu.
Temi hanya tersenyum,”Apa kamu tidak melihat kalau aku sedang bersantai disini. Dimana mata kamu.”
“Ayolah jangan marah aku hanya ingin disamping kamu,”ucap pemuda tersebut dengan merahi wajahnya. Temi yang tidak suka langsung menghindar tangan dari pemuda yang ada didepannya dan pergi dari hadapannya.
Tapi pemuada itu memenggang tangannya yang membuat Temi tidak bisa pergi dari pandangan pemuda itu.
“Kenapa mau pergi,”kata Pemuada yang merangkul Temi. Dari belakang terdengar suara Demon yang tadi sudah pergi tapi kembali lagi. “Lepaskan dia surya,”ucap Demon yang menahan orang yang merangkul Temi.
“Apa dia kekasih kamu sampai kamu kembali kesini,”ucap Surya.
Demon yang sudah menahan amarah langsung mengambil tindakan pertama dengan menarik tangan Temi. “Apa kamu mengenal dia,”ucap Temi.
“Sebaiknya kamu tetap dibelangku apa kamu mengerti,”kata Demon dengan tajam seperti akan memangsa pemuda yang ada didepan dia.
“Kenapa kamu marah,”kata Surya. “Kenapa kamu bisa ada disini,”ucap Demon.
“Kenapa?,”kata Surya. “Bukannya untuk mencari kamu,”ucap Surya yang menhampiri Demon dengan tatapan tajam.
“Dimana dokumen itu sekarang,”ucap Surya dengan melihat kearah Temi yang membawa dokumen yang dicari. Demon dengan cepata melihat kebelakang dan mengambil dokumen itu. Temi yang melihat respon Demon yang tidak biasa berkata,”Kenapa kamu mengambilnya,”kata Temi.”DIAM KAMU,”ucap keras Demon.
__ADS_1
“Kamu menginginkan ini,”kata Demon yang melempar lembaran dokumen tersebut diwajah Surya. Dengan tenang Surya mengambil lembaran itu di tanah setelah semua terkumpul dia membakar semua dokumen di depan mata Demon dan Temi.
“Apa yang kamu lakukan,”ucap Temi yang melihat dokumen itu dibakar didepan matanya.