Hatimu Dan Hatiku

Hatimu Dan Hatiku
Kembali Tersenyum


__ADS_3

Suara pintu kamar terbuka, Bunga melihat ke arah pintu dan ternyata nampak seorang wanita berbaju putih.


“Bagaimana keadaan anda?,”tanya suster.


Bunga hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Sebelum suster kembali. “Sus, apa anda tahu dimana ponsel saya berada,”ucap  Bunga dengan penuh harapkan bisa mengetahui ponselnya.


“Maaf mbak, saya tidak tahu dimana ponsel anda berada. Bagaimana jika anda tanya kepada Dokter anda saja. Mungkin saja ponselnya dia menyimpan,”kata Suster.


“Baiklah suster, terima kasih. Nanti saya akan tanyakan kepada Dokter Erik,”kata Bunga.


Setelah suster pergi meninggalkan Bunga sendirian. Bunga hanya bisa melanjutkan membaca buku sambil memakan buah yang tersedia di atas meja. Tapi Bunga selalu bertanya-tanya dari mana buah ini berasal.


“Apa aku terlalu banyak berpikir ya,”ucap Bunga dalam hati.


“Sebaiknya aku fokus untuk memulihkan kondisiku dulu,”ucapnya lagi.


Waktu terus berjalan hari yang menyakitkan selalu dirasakan Bunga saat di rumah sakit. Tapi hari itu akan berakhir karena tinggal menuggu hari saja aku bisa kembali bertemu dengan kedua orang tuaku. Tapi apa yang harus aku katakan nanti jika sudah kembali ke rumah. Karena aku sudah berapa minggu tidak kembali ke rumah.


“Sebaiknya aku pikir itu belakangan saja,”kata Bunga dengan suara kecil.


“Apa yang kamu pikirkan?,”ucap Dokter yang sedang melangkah ke arah tempat tidur Bunga.


“Kapan dokter sampai sini. Aku tidak mendengar langkah kaki dokter ataupun suara pintu,”ucap Bunga yang terkejut.


“Karena kamu sibuk sendiri, makanya tidak mendengarkan suara pintu terbuka,”kata Dokter.


Bunga hanya tersenyum malu,”Dokter... tahu ponsel saya.”


“Ponselmu?,”Dokter tidak langsung menjawab dia terdiam sesaat.


“Ada ditempatku, kenapa?,”kata Dokter.


Sambil mengulurkan tangan bunga berkata,”Mana?”


“Aku akan kembalikan setelah keadaan dan kondisi kamu membaik,”ucap Dokter.


Bunga yang mendengar jawaban dokter Erik merasa kecewa karena tidak bisa melihat pesan yang masuk.


“Apa aku boleh membaca pesan saja Cuma hari ini saja,”kata Bunga dengan penuh harapkan bisa melihat ponselnya kembali.


“Dokter Erik hanya menggelengkan kepalanya sambil memeriksa kondisi tubuh Bunga.

__ADS_1


“Sekali ini saja dok, boleh ya,”kata Bunga.


Dokter menghela nafas panjang dengan tegas ia berkata,”Tidak boleh. Pulihkan dulu kondisimu.”


Bunga yang terus membujuk dokter Erik akhirnya menyerah dan menurut keinginan dokter erik untuk tidak memegang ponsel dulu sampai kondisinya kembali baik.


“Dokter.. Apa aku boleh jalan-jalan keliling rumah sakit biar aku tidak bosan,”kata Bunga.


“Boleh. Tapi dengan satu syarat,”kata Dokter Erik.


“Apa itu?,”kata Bunga.


“Kamu harus ditemani suster jika ingin pergi jalan keluar,”ucap Dokter Erik.


Bunga pun tersenyum,”Baik dokter.”


 Malam yang gelap dan dingin ia rasakan di rumah sakit. Di malam itu ia saat tidur melihat bayangan


seorang yang menaruh buah di atas meja. Tapi karena pengaruh obat tidur ia tidak bisa melihat dengan jelas. Tapi perasaan hati Bunga merasakan kehangatan yang tidak bisa ia rasakan bersama orang itu. Kehangatan yang aku rasakan membuat hatiku nyaman. Dengan suara pelan,”Siapa kamu?.”


Tapi orang itu tidak menjawab dengan penglihatan yang kabur, ia melihat sebuah kecupan di dahi bunga yang menyentuh dia. Kecupan yang diberikan oleh bayangan itu membuat ia merasa nyaman dan kembali menutup mata sebelum ia tahu siapa bayangan itu.


Pagi yang indah Bunga selalu memikirkan bayangan orang itu yang memberikan buah setiap harinya. Tapi Bunga tidak tahu siapa dia, jika aku bertanya kepada Dokter atau suster mereka juga tidak tahu siapa orang itu.


“Biarkan sajalah. Tapi aku merasakan perasaan yang tidak biasa, dengan bayangan itu,”ucap hati Bunga.


“Aku bingung,”ucap Bunga. Hingga pintu kamarnya terbuka suster masuk kedalam,”Jadi mau jalan-jalan keluar tidak.”


Bunga yang sudah siap untuk berkeliling mengatakan dengan semangat,”Tentu saja aku sudah siap, suster.”


Suster membawakan kursi roda, bunga duduk diatasnya. Keluar kamar ditemani suster melihat cahaya matahari dan pohon yang hijau.  Hati Bunga yang merasakan terkurung dalam kamar bisa menghirup udara segar di luar kamar di pagi hari yang sejuk. Di taman rumah sakit ia melihat banyak tamu dan pasien yang sedang menikmati


indahnya alam untuk melupakan rasa sakit yang diderita pasien, termasuk aku.


Tanpa disadari Bunga pangeran bayangan yang sudah mengawasinya dari keluar kamar hingga ke taman selalu melihat Bunga tersenyum. “Jika kamu ingin melihatnya datangi langsung saja,”suara Erik dari belakang Petra.


“Tidak. Belum saatnya aku muncul dihadapannya,”kata Petra.


“Sampai kapan kamu terus sembunyi dari bayang-bayang ini,”ucap Erik.


“Jika sudah waktunya, aku akan menampakan diriku untuk Bunga yang selalu aku nantikan,”kata Petra.

__ADS_1


“Kamu tahu tidak, beberapa hari yang lalu dia menayakan ponselnya,’kata Erik.


“Apa kamu memberi tahu dia,”ucap Petra sambil melihat Erik dengan tatapan tajam.


“Tentu saja tidak. Aku membohonginya,”ucap Erik.


“Terima kasih, jangan beritahu dia. Sampai dia pulih keadaannya aku akan kembalikan ponselnya,”ucap Petra.


“Tapi kenapa dia menayakan ponselnya,”kata Petra lagi.


“Dia ingin melihat pesan masuk katanya. Jika tidak dia ingin mengetahui kabar orang tuanya,”kata Erik.


“Kalau untuk oang tuanya sudah aku tangani, jadi tidak usah khawatir. Tapi untuk temannya itu...,”Petra berhenti berkata.


“Ada apa dengan temannya?,”ucap Erik.


Erik yang melihat ke arah Petra merasakan aura negatif yang membuat Erik sesak nafas. Sehingga dia tidak melanjutkan untuk bertanya selanjutnya. Tapi ia mengalihkan pertanyakan ke hal yang lain.


“Aku rasa dia udah penasaran dengan bayangan yang ia lihat,”ucap Erik mengubah suasana tempat iya berada.


“Apa dia sudah tahu aku,”kata Petra yang merasa tegang.


“Kurasa belum. Tapi dia selalu bertanya apa ada yang masuk ke kamarnya setiap malam dan menaruh buah,”kata Erik.


“Apa kamu sudah mencium dia,”Erik dengan tatapan tajam menatap Petra.


Petra yang mengalihkan pandangan tidak menjawab pertanyaan Erik dan pergi meninggalkan Erik.


Karena Erik tahu apa yang di pikirkan Petra dengan suara pelan,”Jika suka bilang aja. Jangan mengambil kesempatan dari orang yang tidak berdaya.”


Petra yang tadi ingin pergi tidak jadi pergi dan berbalik,”Siapa yang mengambil kesempatan.”


Erik hanya tersenyum, hingga suster mencarinya kalau ada pasien yang harus ditangani. “Aku pergi dulu,”ucap Erik yang berjalan meninggalkan Petra.


Petra yang masih terdiam melihat Bunga yang tersenyum.”Aku tahu kamu wajah kamu sekarang. Seperti terlepas dari beben yang mengikat dirimu. Tunggulah aku di hatimu,”ucap Patra dengan suara pelan.


“Tuan muda, kita harus pergi sekarang,”ucap sekertarisnya. Petra yang mendengar berjalan pergi menjauh dari padangan Bunga.


Tapi Bunga yang merasakan kalau ada suara yang berkata,”Tunggulah aku.”


Dia menoleh ke arah suara itu tapi ia tidak melihat apa-apa hanya bayangan seorang laki-laki yang pergi menjauh dari kejauhan. Bunga yang merasakan itu merasakan bahagia yang tidak bisa di jelaskan oleh kata-kata. Hingga suster berkata,”Kita masuk sekarang ya.”

__ADS_1


Suster mendorong kursi rodanya hingga kamar. Di saat itulah Bunga melihat bunga mawar merah dan putih yang ada dimeja di samping tempat tidur.”Siapa yang memberikan bunga mawar ini,”kata Bunga yang melihat suster.


“Saya juga tidak tahu,”ucap suster yang bingung.


__ADS_2