
Bunga masuk ke dalam ruangan bawah tanag.”Sudah lama aku tidak kesini, sejak dia pergi,”kata hati Bunga. Bunga berjalan perlahan melewati beberapa rak buku dan dan beberapa lorong ruangan untuk masuk ke dalam lagi. Sampai diujung ruangan ia masuk kedalam dan melihat meja kursi dan rak buku yang masih tetap sama. Karena tidak ada yang akan masuk kedalam tempat ini setelah kajian penyerangan waktu itu. Tempat ini menjadi ditinggalkan karena memiliki keangan yang buruk termasuk Bunga.
Bunga berjalan menuju rak buku dan mengambil satu buku terbukalah pintu rahasia dibalik rak buku. Dibalik rak buku yang rapih terdapat rak senjata yang menjadi kebanggaan Bunga. “Sudah lama tidak melihat ini lagi. Berapa lama ya?,”katanya.
Bunga tersenyum dan mengambil beberapa senjata yang berupa kipas dan pedang pendek serta pistor yang serbaguna yang bisa berubah fungsinya dan tidak lupa membawa alat penyimpanan ruang dan waktu yang ia miliki untuk menyimpan berbagi barang.
Setelah mengambil beberapa barang Bunga berjalan keluar ruangan menuju lantai atas yang sudah ditunggu oleh Izam.”Apa sudah selesai?,”kata Izam.
Bunga hanya tersenyum dan berjalan menuju ke lantai atas bersama Izam yang mengikutinya dari samping. "Apa yang kamu cari dibawah?,”kata Izam.
“Beberapa barang. Kenapa?,”kata Bunga.
“Tidak ada. Apa kamu langsung pergi menyusul mereka,”kata Izam.
“Tentu saja. TaPI nanti dululah. Aku mau pergi ke suatu tempat bersama si putih,”ucap Bunga.
“Terserah kamu saja. Aku akan pergi sekarang,”kata Izam yang berpisah arah tujuan.
Mereka berdua pergi ke tempat yang berbeda. Yang satu menuju lep dan satunya menuju ke dalam hutan bersama si putih. “Putih ayo kita pergi sekarang,”ucap Bunga yang menaiki punggung si putih.
Putih yang tahu akan pergi kemana siap untuk berlari menuju ke dalam hutan yang lebat. Sedangkan Ilham dan John bersama kawannya yang menjelajah pulau bersama Jeri dan Tero. Di tengah perjalan mereka saling mengobrol satu sama lain untuk mengisi kebosanan mereka.
Rute yang mereka lewati adalah rute aman dipulau yang sudah dijadikan akses menuju ke tempat yang lain. Sedangkan tempat yang di tujuh Bunga dan Putih melewati rute yang hutan yang belum dijadikan rute aman.
“Tero,”kata Ilham.
“Ada apa. Ada yang ingin kamu tanyakan soal pulau ini?,”ucap Tero.
“Ternyata kamu bisa baca pikiran orang ya,”kata Ilham.
“Tidak juga, hanya menebak saja,”kata Tero.
“Kamu ingin tahu pulau ini ada beberapa rute aman dan rute bahaya. Rute yang kita lewati adalah rute aman yang sering digunakan orang lain untuk pergi ketempat lain. Sedangkan untuk rute bahaya hanya bisa digunakan
saat mereka bersama hewan perliharaan seperti si putih. Kalian sudah tahukan si putih?,”kata Jeri.
“Maksud kamu harimau putih yang bersama adik saya,”kata John.
__ADS_1
“Itu benar,”kata Tero.
Beberapa jam mereka menuju tempat yang dituju, akhirnya sampai pada tempat dimana para tentara pribadi di latih. “Hai Bos,”kata salah satu penjaga gerbang.
“Siapa yang kamu bawa Tero,”kata Riku.
“Kedua orang ini adalah kakak dari adik kecil sedangkan mereka yang dibelang adalah teman dari mereka berdua,”kata Tero.
“Jadi kakaknya adik kecil. Mana adik kecil?,”kata Meri.
“Dia sedang pergi kontrol katanya,”ucap Jeri.
“Aku tidak percaya anak itu kalau sedang kontrol, aku tebak dia masuk hutan lagi menuju air terjun untuk bermain,”kata Reona.
“Apa maksud kamu masuk hutan untuk bermain,”ucap Ilham.
“Kalian tidak tahu adik kami itu selalu menyembunyikan sesuatu dari kita. Yang membuat kita semua pusing,”kata Riku.
“Bukannya kalian itu rekan dan sekaligus temannya adik kami,”kata John.
“Itu benar. Tapi ada juga sebagai adik dia selalu menyembunyikan sesuatu yang berbahaya dari kami semua. Mau tidak mau kita semua harus mencari tahu apa yang dilakukan adik kecil kita untuk keselamatannya. Termasksu kejadian dia sakit,”kata Meri.
Di bawah air terjun dengan gemerjik air yang menetes membuat tarian pedang Bunga sangat terlihat indah dan menawan. Dengan indah ia mainkan beberapa gerakan pedang yang ia pelajari dengan mengikuti aluman dan suara angin dan air terjun yang berirama. Satu demi satu ia mainkan dengan indah dan anggun dengan ramput yang terhempas karena mengikuti alunan tubuh yang bergerak. Dibawah sinar matahari pagi dengan gemerjik air terjun yang membuat suanana tidak mencegam. Sampai alarem berbunyi tanda ia harus kembali untuk menyusul
kakaknya yang ada di posko pelatihan tentara pribadi.
Bunga menghela nafas dan merenggakan tubuhnya,”Akhirnya sudah selesai, waktunya kembali ke rombongan.”
“Ayo putih waktunya kita kembali,”ucap Bunga setelah membereskan barang yang ia bawa dan menaiki punggung putih.
“Kita lewat rutu yang biasa saja ya,”ucap Bunga kepada si putih.
Di tengah perjalan menuju posko Bunga menyempatkan melihat dan menikmati keindahan hutan yang belum terlewati oleh orang lain. Hutan yang dingin dan sunyi membuat orang lain akan takut. Tapi bagi Bunga yang selalu
pergi ke tempat itu karena ada tempat yang membuatnya bisa tenang dari semua bisikan yang membuat dia sakit.
Bunga yang melihat kakaknya ada didepan gerbang bersama beberapa orang yang asik berbincang-bincang. “Apa yang kalian bicarakan,”kata Bunga dari samping.
__ADS_1
“Dik, kamu dari mana kenapa dari arah sana,”kata Ilham.
“Habis dari hutan main sama si putih,”ucap Bunga dengan santai.
“Apa yang sudah aku sampaikan benarkan, dia main di hutan lagi,”kata Reona yang menghampiri Bunga.
“Kenapa kamu Reona,”kata Bunga yang turun dari si putih.
“Kenapa,”kata Reona yang terlihat marah.
“Ayolah hanya main sebentar. Kenapa kalian diluar ayo masuk kedalam,”kata Bunga yang mengalihkan suasana sambil menghindar dari Reona yang ingin memakannya.
Bunga berjalan menuju ke kak Ilham dan kak John. “Apa kamu sedang mencoba menghidar adik kecilku,”kata Reona dibelang sambile berbisik diterlinga Bunga.
Bunga menoleh ke arah Reona dan tersenyum sambil mencoba melepaskan pegangannya.”Tidak kok,”kata Bunga yang bersiap lari untuk menghindar dari Reona.
“Bunga, awas ya kalau kamu tertangkap,”kata Reona yang mengejar Bunga dari belakang.
“Sini kamu jangan lari, aku akan menghukum kamu karena masuk hutan lagi, anak nakal,”kata Reoan yang mengejar.
“Abaikan saja mereka,”kata Tero.
“Itu benar, itu selalu terjadi disini,”kata Riku.
“Katanya kalian ingin melihat latiah para tentara Pribadi. Kalau gitu ayo masuk,”kata Meri.
Ilham, John dan kawannya masuk kedalam yang sudah dilihatkan beberapa tentara yang lari pagi untuk pemanasan. Dan mereka juga melihat adiknya dan Reona yang juga berlari mengikuti yang lain. “Apa dari awal adikku bisa bertarung,”kata John yang penasaran.
“Maksudnya adik kecil. Iya,”kata Jeri.
“Apa kalian yang mengajarinya dasar-dasar bertaraung,”kata Ilham.
Mereka semua menggelengkan kepala.”Jika bukan kalian dari mana adik kami bisa bertarung dan menghindar dari tembakan sniper?,”kata John yang binggung.
“Adik kecil belajar secara pribadi,”kata Riku.
“Maksud kamu bagaimana belajar sendiri,”kata Ilham yang tambah binggung.
__ADS_1
Dari cerita rekan Bunga, Ilham dan John merasa tidak mengerti bagaimana adiknya bisa tahu dasar-dasar dari bertarung. Karena itu dia bertanya kepada kawannya untuk mengetahunya, tapi jawaban mereka membuat kami
tidak percaya.