
Saat Bunga pinsan semua orang khawatir, keluarganya tidak tahu kalau putrinya sakit parah. Yang mereka tahu hanya sakit bisa karena tugas kuliah. Apa yang akan terjadi akankah semua rahasia Bunga akan terbongkar
setelah dokter Erik menjelaskan kepada keluarganya.
Dan apa yang terjadi dengan teman-teman bunga akan tahu rasa saikt yang akan di rasakan oleh Bunga.
“Itu karena permintaan outri anda untuk tidak mengatakan apa yang terjadi pada puntri anda,”kata Dokter Erik.
“Kenapa anda harus menyembunyikannya, kami adalah keluarganya. Harusnya anda sebagai dokter mengatakan sebenarnya, bukan menyembunyikannya,”kata kakak pertama.
“saya tidak bisa karena ini adalah pemintaan putri anda dia adalah pasien saya. Saya hanya melaksanakan tugas saya sebagai dokter tidak lebih,”kata dokTER Erik.
“Sudah, sekarang kondisi anak kami begaimana? Apa bisa sembuh?,”ucap Ayah Bunga.
Dokter Erik tidak langsung berkata, dia menoleh ke arah Petra.
“Kenapa kamu melihatku. Yang dokter itu kamu bukan aku,”kata Petra.
“Aku tahu. Untuk sekarang bisa, asalkan putri anda tidak terlalu tertekan atau syok,”ucap Dokter Erik.
“Tapi selama ini adik saya tidak apa-apa. Kenapa bisa seperti ini,”kata kakak kedua.
“Itu benar dia baik-baik saja dihadapan keluarganya. Tapi dibalik itu Bunga menderita,”kata Petra dengan acuh.
“Apa maksud anda?,”kata kakak kedua.
Petra hanya terdiam hanya melihat dibalik jendela pintu kamar kondisi Bunga. Hingga sekertarisnya menyerahkan beberapa rekaman panggilan terakhir.
“Kenapa anda diam saja,”ucap kakak kedua.
“Sudah lah dik.,”kata kakak pertama.
“Tapi kak, aku ingin tahu apa yang terjadi kepada adik aku sendiri,”kata kakak kedua.
“Apa kalian ingin tahu. Dengarkan ini dan baca pesan yang ada di ponsel adik anda sendiri,”ucap Petra sambil menyerahkan datanya.
“Apa kamu serius,”ucap Erik.
Petra hanya melihat saja dengan senyum licik.
“Aku tidak tahu jalan pikiran kamu petra,”kata Erik.
“Aku akan masuk ke dalam untuk meriksa kondisi Bunga sebagina kalian semua istirahat saja. Jika ada apa-apa pihak rumah sakit akan mengabari,”kata dokter Erik.
Setelah Dokter Erik masuk kedalam ruangan sedangkan keua orang tua Bunga masih duduk menatikan kabar selanjutnya dari dokter Erik. Untuk kedua kakaknya yang masih memaca pesan dan rekaman merasa marah akan perilaku teman-teman Bunga yang idak tahu keadaan Bunga sekarang.
__ADS_1
“Aku labrak aja anak ini. Biar tahu rasa,”ucap Kakak kedua.
“Tenangkan dirimu dulu. Kita harus tahu dulu dari mulut adikmu dulu biar pasti. Ini kan masalah adik kamu jika kamu ikut campur. Jangan buat lebih rumit,”kata kakak pertama.
“Apa yang di katakan kakak kamu itu benar. Lebih baik tunggu adik kalian sadar baru cari tahu kebenarannya,”ucap Petra seperti menyindir kedua kakak Bunga.
“Apa kamu tahu semua ini?,”kata kakak pertama.
“Aku,”ucap Petra sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Tentu saja aku tahu. Kalau Bunga menderita karena aku memperhaikan adik kalian dengan baik. Tapi aku tidak bisa muncul dihadapanya,”ucap Petra dengan nada memelas.
“Jika kamu tahu kenapa kamu tidak membantu adikku,”ucap kakak kedua.
“Aku ingin membantunya. Tapi bagaimana, dia belum mengenalku,”uacap Petra dengan tegas.
“Apa maksud kamu belum mengenalnya. Bukannya kamu teman Bunga,”ucap ayah Bunga.
“Maaf jika aku berbohong kepada anda. Karena aku mengkhawatirkan putri anada jadi saya bertinda tidak sopan dan membohongi saya,”kata Petra.
Ayah Bunga hanya menghela nafas dengan melihat Petra. Ayah Bunga tahu kalau Petra bukan orang biasa dia tidak ingin kalau putrinya dalam bahaya makanya dia menyembunyikan keberadaanny, hanya melihat dari kejauhan.
“Saya maafkan,”ucap ayah Bunga.
“Apa yang dikatakan Petra itu benra ayah Ibu. Bair kami bertiga saja yang menjaga Bunga. Ayah dan Ibu pulang saja,”kata kakak pertama. Sedangkan kakak kedua menganggukan kepala saja.
“Bair sekertaris saya yang akan mengantarkan kalian berdua pulang. Jika tidak keberatan,”kata Petra.
“Baiklah. Ayah dan Ibu akan kembali ke rumah jika ada apa-apa kabar kami,”ucap ayah yang berdiri sambil memapah Ibu yang sedih.
“Sekertaris Jim, tolong antar kedua orang tua bunga pulang ke rumah,”kata Petar.
“Baik, tuan muda,”kata sekertaris Jim.
Sekertaris jim dan kedua orang tua berjalan keluar ruangan menuju mobil, sampai di dalam mobil. Ayah Bunga bertanya kepada sekertaris Jim,”Tuan Jim, sebenarnya siapa bos anda?.”
“Tuan muda Petra,”kata sekertaris Jim dengan singkat.
“Petra. Siapa dia sebenarnya?,”kata ayah Bunga.
“Beliau adalah Direktur Grup Yb putra dari Grup ML dan desainer Marita,”kata sekertaris Jim sambil mengulurkan tada pengenal perusahan.
“Jadi beliau adalah putra Grup ML. Dan juga direktur,”kata ayah Bunga yang tidak terkejut dengan jawabannya.
“Sepertinya anda tidak terkejut dengan latar belakang tuan muda,Tuan,”kata sekertaris Jim.
__ADS_1
“Tidak. Sudah terlihat dari perkataannya dan menyembunyikan identitasnya,”ucap Ayah Bunga.
Diperjalan mereka selalu bertanya dan mencari informasi satu sama lain. Hingga sampai di depan rumah.
“Terima kasih, sudah mengantarkan saya dan istri saya,”ucap ayah Bunga.
Sekertaris jim hanya tersenyum dan melangkah menuju Mobil yang terparkir dan seminggalkan kedua pasangan tua Bunga. Di perjalan menuju ke rumah sakit lagi sekertaris mendapatkan pesan daru tuan muda untuk membeli
makan untuk tiga orang.
“Kenapa kamu tidak berkenalan dengan adik saya,”ucap Kakak kedua untuk memecahkan suasana sunyi.
“Jika aku mengatakannya adik anda dalam bahaya,”ucap petra yang masih menatap pintu kamar Bunga.
“Apa maksud kamu?,”ucap kakak pertama.
“Karena aku banyak musuh. Hingga waktunya tiba aku harus sembunyi-sembunyi dari bunga, agar dia tetep aman,”ucap Petra.
“Siapa kamu sebenarnya?,”kata kakak kedua.
Petra melihat kedua kakak Bunga dan menghela nafas dan memberikan kartu namanya. Kakak kedua yang didekatnya mengambilnya dan membaca tanda pengenalnya. Dan mereka berdua kerkejut,”Pantas saja tidak bisa kenalan.”
“Terus sampai kapan kamu akan menyembunyikannya,”kata kakak pertama.
“Mungkin kita berdua bisa membantu kamu untuk lebih dekat lagi untuk adik kami. Jika dilihat dari Ekspresi kamu membawa adik kami ke rumah sakit dengan gelisa,”ucap kakak kedua.
“Terima kasih untuk tawarannya,”ucap Petra.
Sementara di dalam ruangan Dokter Erik yang masih menstabilkan kondisi tubuh bunga. Dan berkata dalam hati,”Kamu keras kepala Bunga, dengan kondisi seperti ini kamu tidak ingin melakukan operasi. Apa yang
kamu takutkan.”
“Dokter, keadaan pasien sudah mulai stabil, kenapa kita tidak melakukan operasi sekarang,”ucap suster.
“Aku juga ingin melakukannya. Tapi pasien tidak ingin melakukan operasi. Bagaimana lagi?,”kata Dokter Erik.
“Kenapa tidak mau, inikan untuk kebaikan si pasien,”kata suster.
“Anak ini keras kepala. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sampai besok, jika keadaanya tidak membaik kita lakukan operasi. Kita tunggu sampai besok,”ucap dokter Erik.
“Baik dokter,”ucap suster.
Setelah memeriksa kondisi tubuh bunga yang mulai stabil, dokter Erik keluar bersama suster. Dan mereka berdua di sambut oleh tiga orang salah satunya Petra. Petra yang mengetahu kalau Erik keluar berdiri dan menatap
Erik tanpa berkata.
__ADS_1