Hatimu Dan Hatiku

Hatimu Dan Hatiku
Pemberitahuan


__ADS_3

“Aku tidak tahu, jika adiku yang polos bisa memiliki kenalan seorang ilmuan terkenal,”kata John.


“Anak itu banyak sekali rahasianya,”ucap Ilham.


“Apa perluh kita memberitahukan kepada ayah dan ibu soal kondisi Bunga,”kata John.


“Jangan diberi tahu dulu. Takutnya mereka akan khawatir lagi,’ucap Ilham.


“Jika tidak. Bagaimana dengan Petra,”kata John.


“Aku akan memberitahunya nanti. Sebaiknya sekarang kita menuggu saja sampai kondisi adik kita pulih kembali,”kata Ilham.


“Apa kalian akan menuggu,”kata John kepada Rena dan Jihan.


“karena urusannya dengan dokter Reona sudah terselesaikan. Kami akan kembali, beritahu kami jika terjadi apa-apa,”kata Rena yang berbalik pergi meninggalkan John dan Ilham.


Apa yang terjadi setelah Ilham memberitahukan kabar adiknya kepada Petra, akankah dia datag atau tidak. Atau sebaliknya dia yang akan datang tanpa diberitahu.


Hari itu adalah hari yang melelahkan untuk Petra yang menyelesaikan beberapa proyek baru dengan berbagai persoalan. Dari musuh yang datang silih berganti. Mau tidak mau Petra harus menyelesaikan urusannya dengan


musuh yang mengancamnya. Dengan membuat pertahanan tentara bayaran yang lebih kuat dengan intelicen yang yang langkah akan ketrampilannya. Perjalanan bisnis itulah ia tidak bisa memberikan sekucup bunga karena waktu itu.


Kembali ke waktu dimana Petra memberikan Bunga mawar merah dan putih dengan pelantaran sekertaris Jim.


“Tuan saya sudah memberikan bukert Bunganya kepada nona Bunga,”ucap Sekertaris jim yang kembali dari rumah sakit.


“Bagaimana ekspresi Bunga,”kata Petra.


“Nona Bunga sangat senang dan menyukaina. Tapi...,”kata yang tidak dilanjutkan oleh Sekertaris Jim.


“Kenapa berhenti,”ucap Petra.


“Maaf tuan, saya mendapatkan laporan bahwa tim dua sudah mendapatkan hasil dari pencarian barang yang dicari,”kata Sekertaris Jim.

__ADS_1


“Apa benar itu barangnya,”kata Petra.


“Jika itu benar ayo kita pergi.,”ucap Petra.


Petra dan Sekertaris jim keluar ruangn menuju parkiran bahwa untuk pergi kelokasi yang akan di tuju. Sampai di dalam mobil Petra bertanya kepada Sekertaris Jim. “Apa dia marah kepadaku?,”kata Petra.


“Nona Bunga tidak marah, hanya saja dia berpesan. Jika ingin memberikan Bunag tuan harus memberikannya sendiri. Jika saya yang memberikannya yang kedua kali, dia tidak akan menerimanya,”kata Sekertaris Jim yang mengemudi mobilnya.


“Apa dia benar berkata begitu,”ucap Petra yang masih membaca dokumen.


“Itu benar tuan. Tapi ada hal lain yang saya tidak mengerti,”kata sekertaris Jim yang mencari kesempatan membuat tuannya bergerak.


“Apa yang tidak kamu mengerti,”ucap Petra.


“Jika tuan menyukai Nona kenapa anda tidak datang menjenguk nona,”kata Sekertaris Jim.


“Jadi kamu ingin mencari tahu perasaan tuan kamu,”ucap Petra yang melihat ke depan.


“Maaf tuan jika saya lancang berbicara. Ini semua juga untuk Nona Bunga,”kata Sekertaris Jim.


“Tapi tuan saat saya mengantar buketnya saya melihat kondisi Nona Bunga seperti tidak biasa, seperti menahan rasa sakit yang parah. Tidak seperti biasanya. Di tambah lagi nona Bunga saat saya mengantarkan bukertnya menyakan keberadaan tuan muda,”kata Sekertaris Jim.


“Apa dia mencariku,”ucap Petra yang terkejut.


“Tidak mungkin dia mencariku, karena aku membuat banyak masalah buat dia,”kata Petra yang muali murung.


“Saya rasa nona Bunga tidak marah kepada anda tuan muda. Tapi hanya ingin mengenal anda dengan baik saja mungkin,”kata sekertaris Jim.


Di tengah perjalan Petra kembali mersakan rasa yang tidak nyaman jika akan terjadi sesuatu yang bahaya akan datang. Tapi dia tidak tahu firasat apa ini. Hatinya merasa gelisa saat di perjalanan bisnisnya, hingga mereka berdua sampai di lokasi pertemuan.


Dua jam sudah berlalu rapat yang panjang dan melelahkan dengan suasana dingin dan mencekam untuk semua karyawan. Kini sudah berakhir dengan keputusan Proyek baru akan di laksanakan bulan depan dengan berbagai perimbangan dan diskusi yang panjang dan lebar.


Di saat rapat telah selesai Petra kembali ke kamar yang sudah di pesan sebelum dia datang ke tempat. Di dalam kamar ia terus memantau ponsel berharap ada kabar dari Erik atau dari kedua kakak Bunga untuk kondisi Bunga. Karena saat itu firasat Petra tentang Bunga akan terjadi sesuatu. Dia ingin menelepon dari ketiga orang tersebut, tapi di tengah ia mendapatkan kabar kalau tempat lokasi yang akan di jadiakan proyek mengalami masalah. Pemilik

__ADS_1


tanah tidak ingin menjual tanahnya.


“Apa yang terjadi, bukannya pemilik tanah sudah setuju dengan harganya?,”kata Petra.


“Sekertaris Jim, cari tahu apa yang terjadi. Sekarang,”ucap Petra.


Sekertaris keluar kamar dan mencari tahu apa yang terjadi. Setelah menuggu beberapa jam akhirnya sekertaris Jim datang dengan hasil yang memuaskan. “Tuan dari info yang saya dapatkan kalau pemilik tanah dihasut oleh orang asing. Untuk tidak menjual tanahnya kepada anda. Tapi gagal karena kesepakatan kontrak yang sudah ditanda tanggani oleh pemilik tanah. Jadi beliau tetap akan menjual tanahnya kepada kita,”kata Sekertaris Jim panjang lebar.


“Bagus jika pemilik tanah setuju, jika tidak setuju yang akan rugi adalah pihak sana sendiri,”ucap Petra.


Tidak lama setelah urusan pemilik tanah sekertaris Jim keluar kamar. Sedangkan Petra mencoba menghubungi Erik yang merawat Bunga, tapi tidak ada jawaban. Hingga akhirnya ia mencoba menghubungi kakaknya Ilham untuk menayakan keadaan adiknya.


Bunyi ponsel berdering Ilham merahi ponselnya yang ada dalam kantong celana. Dan melihat ke layar nama Petra ia angkat teleponnya.


“Sangat kebetulan sekali kamu menelepon,”kata Ilham di telepon.


“Apa terjadi sesuatu pada Bunga,”kata Petra.


“Aku akan memberitahu kamu kalau Bunga dalam keadaan tidak baik sekarang. Dia dalam kondisi tidak sadarkan diri...,”kata Ilham yang belum selesai berbicara karena Petra mematikan teleponnya.


“Ada apa kak,”kata John yang ada disampingnya.


“Petra mematikan telepon saat aku mau menjelaskan,”ucap Ilham.


“Jangan khawatir kak, nanti juga akan datang dengan sendirinya,”kata John.


Petra yang tahu akan perasaan dan firasat yang ia dapatkan karena kondisi Bunga. Merasa khawatir setelah mendengar jawaban kalau kondisi Bunga tidak sadarkan diri. Tanpa berpikir panjang Petra keluar ruangan  dan menuju ke mobil. Sekertaris Jim yang ingin menemui tuannya melihat dia yang sedang terburu-buru keluar. Karena


sekertaris jim bawahannya tuan muda Petra, datang menghampirinya. “Tuan mau kemana, terburu-buru,”kata Sekertaris Jim.


“Kamu ingin tahu, bawa mobilnya dan menuju ke rumah sakit sekarang,”kata Petra dengan gellisa.


Di perjalan menuju rumah sakit Petra merasa gelisa kalau dia tidak akan bisa melihat senyum pujaan hatinya.” Cepat,”ucap Petra.

__ADS_1


“Baik tuan,”kata Sekertaris Jim. Yang masih binggung melihat kondisi tuannya yang gelisa seperti tidak biasanya. Sampai di tengah jalan mobil Petra di hdapang oleh beberapa orang, yang membuat Petra marah.” Siapa orang itu, mengganggu saja,”kata Petra yang marah.


Sekertaris Jim keluar untuk melihat siapa yang menghalangi mobilnya, hingga akhirnya keluarlah beberapa orang membawa senjata. Karena Petra memiliki firasat kalau dia akan datang terlambat karena orang yang di depan adalah musuhnya.


__ADS_2