Hatimu Dan Hatiku

Hatimu Dan Hatiku
Pengakuan


__ADS_3

Hari itu Bunga tersadar dari pinsanya, ia melihat Le ada disampingnya. Bunga yang melihat sekeliling,”Le dimana kakakku?.”


“Kak kamu ada diluar, mau aku panggilkan,”kata Le yang beranjak dari tempat tidur menuju pintu ruangan.


Saat membuka Pintu Le mamanggil sekalian memberi tahukan dokter Erik kalau Bunga sudah siuman.


“Dok, Bunga sudah siuman. Kak John kak Ilham kamu di cari Bunga di dalam,”kata Le.


Dokter erik berjalan ke arah Le dan masuk ke dalam sedangka kedua kakak Bunga masih berbicara dengan Petra. “Nanti aku akan masuk,”kata John.


“Baillah kak, aku masuk dulu,”ucap Le yang sudah berbalik menuju ruangan Bunga.


Di dalam ruanagn yang ada Dokter Erik dan Le. Dokter Erik yang memeriksa Bunga dengan teliti setelah pemeriksaan barulah ia berkata,”Apa yang kamu rasakan?.”


“Pusing, sakit kepala dan tidak enak badan,”ucap Bunga yang masih lemas tubuhnya.


“Baiklah, sebaiknya kmau istirahat dulu. Beeesssok baru dokter akan memeriksa kamu lagi,”kata Dokter Erik yang berjalan keluar. Di depan pintu ia berpapasan dengan John dan ilham yang ingin masuk ke dalam. Sebelum masuk mereka bertanya kepada Erik. “Bagaimana kondisi Bunga?,”kata Ilham yang didengarkan oleh John dan Petra.


“Kondisi untuk sekarang kurang baik untuk kesehatannya. Sebaiknya jika kamu ingin mengatakan pengakuan kamu jika kondisi Bunga sudah membaik. Apa lagi baru saja Bunga siuman,”kata Dokter Erik.


“Baiklah aku mengerti,”kata Petra yang masih di luar sedangkan John dan Ilham yang sudah berjalan masuk ke dalam ruangan.


Di dalam kamar Bunga menatap kakaknya sampai di depan matanya Bunga bertanya,”Kak...”


“Kamu ingin tahu siapa orang yang membawa gelas tadi,”kata Ilham yang menyembunyikan dari Le.


“Iya kak. Kenapa mereka selalu mengejarku. Emangnya aku salah apa sama mereka?,”ucap Bunga yang mulai murung.


Petra yang mendengarkan merasa kalau dirinya tidak berguna. “Maaf aku tidak becus menjaga kamu,”kata Petra karena meninggalkan dia sendirian.


“Untuk apa kamu meminta maaf inikan tidak direncanakan kalau aku akan pinsan lagi,”kata Bunga.


“Bagaimana kondisi kamu,”kata Kak John.


“Seperti yang kakak lihat,”kata Bunga.


“Apa sebelum kita bimbingan tadi kamu sudah makan obat belum Bunga,”kata Le.


Bunga berpikir untuk mengingat-ingat,”Kayaknya belum.”


“Itu penyebabnya kenapa kamu tidak makan obat dulu, anak nakal,”kata Kak John.


Bunga hanya tersenyum,”Maaf. Namanya juga lupa.”

__ADS_1


“Lupa kok keseringan,”kata Kak Ilham.


“Cepat istirahat jangan banyak pikiran hari ini pulihkan saja dulu kondidi tubuh kamu. Baru nanti kakak akan jelaskan semuanya,”kata kak Ilham.


Bunga hanya menganggukan kepala dan kembali berbaring untuk memulihkan tenaganya. Di sela Bunga istirahat kedua kakak Bunga Petra dan Le berjaga bergantian. Hingga Le ijin pulang karena sudah larut dan akan kembali


menjengug kembali besok.


Dan di dalam ruangan hanya ada kak John, Kak Ilham dan Petra. Di dalam ruanagn mereka berbincang-bincang biasa. Sampai Petra keluar bersama Ilham dan di dalam ruangan hanya ada Bunga yang tertidur dan ditemani


oleh Kak John.


Di luar ruangan Petra dan Ilah saling berbincang-bincang untuk rencana yang akan datang.


“Aku akan membantu kamu, asalkan adikku tidak terluka,”kata Ilham.


Petra hanya menatap Ilham dan menundukan kepala. “Apa yang bisa kamu bantu,”kata Petra dengan dingin.


“Apa yang bisa aku bantu... Sombong sekali dirimu. Aku tidak merestui hubungan kamu baru tahu rasa kamu,”kata Ilham yang kembali masuk. Tapi dihadang oleh Petra,”Apa maksud kamu?.”


“Apa maksud aku, bukannya sudah jelas. Aku tidak mengijinkan kamu menyentuh adikku lagi,”kata petra yang berjalan disampingnya sambil memegang bahu petra.


“Tunggu dulu,ilham jangan masuk dulu. Jelaskan dulu,maaf kalau aku menyinggu kamu,”kata Petra yang kehormatannya turun karena Bunga.


suara pelan.


Tapi dibalik ia berkata terdengar oleh teman John yang sedang ingin bertemu dengannya sekalian menjenguk adik John. Teman John Rena menepuk sekertaris Jim,”Itulah yang namanya cinta tidak bisa melukai hati.”


Rena berjalan menuju ruangan adik John dirawat. Sedangkan Sekertaris Jim yang mendengar perkataannya melihat Rena berjalan dan arah tujuannya menuju ruangan Bunga. “Siapa wanita tadi dan laki-laki yang dibelakangnya,”pikiran Sekertaris Jim.


“Permisi,”kata Rena yang masuk kedalam ruangan.


John yang melihat ke arah Rena  langsung berdiri,”Untuk apa kamu datang kesini?.”


“Kenapa kamu begitu. Akukan Cuma mau lihat keadaan Bunga saja, sekalian mengantarkan beberapa hadia untuk kamu,”kata Rena yang berjalan ke arah Bunga berbaring.


“Ayo kita bicara diluar saja. Aku tidak ingin mengganggu adiku yang istirahat,”kata John.


John keluar dan disusuk oleh Rena dan Jihan. “Sekarang berikan barangnya,”kata John tanpa basa-basi.


Rena memberikan barangnya, setelah John menerimanya ia membaca semua dokumen yang di berikan. Di dalam info yang diberikan ada info yang menarik yang bisa membantunya untuk menyusup ke pihak musuh yang telah


mencelakai adiknya. “Bagaiman apa menarik,”kata Jihan.

__ADS_1


“Tentu saja. Siapkan semuanya dan jalankan rencanya dengan bersih. Kita harus banyak info dari pihak lawan untuk berjaga-jaga,”kata John dengan senyum liciknya.


“Kayaknya untuk beberapa hari ini yang akan datang, akan ada permainan yang seru,”kata Rena yang menantikan suasana.


“Dan kebetulan untuk buku yang kamu cari sudah ditemukan lokasnya,”kat Rena.


“Diman?,”ucap John.


“Di hutan bagian timur laut merah di kuil kuno lama,”kata Jihan.


“Apa itu sudak pasti lokasinya,”kata John untuk memastiakan keberadaannya.


“Iya. Sudah ada lima grup untuk menyelidiki tempat tersebut,”kata Jihan.


“Jika sudah aku akan pergi ke tempat itu. Jika kondisi dan keamanan adikku sudah terjamin,”ucap  John.


“Tapi bagaimana kondisi Bunga sendiri. Sudah mendapatkan sakit yang parah di tambah pembunuhan karena musuh lawan. Kasian sekali adik kamu,”kata Rena.


“Kenapa kamu tidak menyewa pengawal pribadi saja,”ucap Jihan.


“Jika menyewa pengawal. Bagaimana aku menjelaskan kepada orang tuaku,”kata John.


“Terlalu berputar-putar,”kata Rena.


“Aku akan pergi sekarang. Salam buat adik kamu ya, cepat sembuh,”kata Rena yang sudah melangkah meninggalkan tempat ia berdiri bersama Jihan.


Sekertaris Jim menghampiri John yang sedang membaca dokumen,”Tuan siapa orang tadi.”


John menoleh,”Dia tadi temanku Rena dan Jihan. Ada apa?. Apa mereka membuat kamu marah atau mereka melakukan sesuatu yang tidak baik.”


“Tidak hanya saja... tadi kami berpapasan,”kata yang tidak dilanjutkan dan berkata yang lain.


“Aku kira mereka melakan sesuatu kepada anda,”kata John.


“Tidak.. saya permisi dulu. Maaf membuat anda terganggu,”kata sekertaris Jim.


John hanya tersenyum dan kembali membaca dokumen. Menyeleksi semua dokumen yang ia pegang dengan seksama, setelah semua dibaca. Sebagian dari dokumen yang ia baca ia bakar untuk menyembunyikan isi data.


“Kenapa anda bakar dokemennya, tuan,”kata sekertaris Jim yang melihat John membakar dokumennya.


“Maksud ini,”kata John.


“Karena ini sudah tidak berati lagi, makanya saja bakar,”kata John yang membakar semua dokuemn, tinggal beberapa yang ia pegang untuk disimpan.

__ADS_1


__ADS_2