
Draka yang sudah sadar akan hal itu pun langsung saja menyerang sang rubah dengan segenap kemampuannya.
Monster rubah itu pun mencoba menghindar saat melihat serangan draka yang membuat insting bertahan hidupnya terancam tanpa ia tahu apa yang sudah membuat dirinya merasa kritis kehidupan.
pertarungan pun terus berlanjut hingga tubuh keduanya terlihat berdarah akibat terkena serangan. Akan tetapi tanpa diketahui oleh sang Rubah ternyata selama pertarungan draka hanya menjadikan monsters tersebut sebagai bahan latihan dalam mengontrol kekuatan barunya.
Monster rubah itu pun terkejut saat melihat secara perlahan luka ditubuh musuhnya kembali pulih tanpa luka hingga akhirnya dia pun menyatakan menyerah disaat draka sudah mendekat dan memotong kepala sang rubah.
Setelah monster rubah mati draka kembali berada diruangan yang sangat gelap tanpa ada cahaya sedikit pun hingga terdengar suara tawa mengerikan bagi yang mendengarnya.
"whahahahahaahaahhaaa. Hei anak muda ternyata pewarisku sudah tiba sekarang ambillah kekuatanku ini serta balaskan dendamku".ucap suara tersebut dengan lantang
Draka yang mendengar tawa itu pun bukannya takut akan tetapi malah jengkel dan kesal disaat ia sudah susah payah mengeluarkan kekuatannya dirinya malah disuruh balas dendam oleh suara yang tak jelas asal usulnya.
"berisik tua bangka.lebih baik kau tunjukkan wujudmu saat berhadapan sama orang yang kau ajak bicara".teriak draka balik
Suara itu pun terdiam disaat ia diteriaki oleh sosok yang bisa ia bunuh dengan sekali sentil menurut dirinya akan tetapi tanpa dirinya ketahui draka memiliki kekuatan pasif menghisap yang sangat kuat saat menghadapi situasi kritis.
"hei anak muda apakah kau berani menentang kehendak dari sang agung ini".ucap suara tersebut dengan nada tinggi
"berisik pak tua sang agung apanya yang saya tahu hanya dua yang perlu ditakutkan pertama durhaka ke orang tua yang kedua melawan penciptaku ini".teriak draka tak kalah tinggi
keduanya pun terus adu mulut saling terik teriakkan maupun hingga beberapa waktu berlalu sampai akhirnya suara itu menyerah dan menunjukkan wujud aslinya.
Sesaat sesosok pria berumur sekitar 30 tahun muncul dihadapan draka dengan perawakan sangar tanpa eksperisi diwajahnya.
__ADS_1
Draka yang melihat hal itu pun hanya menunjukkan wajah datar tanpa ada perubahan , tidak ada eksperisi ketakutan yang terlihat serta yang ada malah seperti eksperisi menunjukkan kebosanan disebabkan kekuatan yang ia datangi malah membuat masalah pada dirinya.
Sosok pria yang melihat itu pun langsung menyerang draka tanpa ragu sambil mengeluarkan aura pembunuh miliknya akan tetapi tanpa diketahui olehnya sebuah tangan transparan sedang berada didekat tubuh sang pria.
saat serangan musuh senti saja menyentuh tubuh draka tangan transparan itu langsung menangkap dan menggenggam pria tersebut tanpa rasa belas kasihan terus meremas tubuh pria tersebut.
"hahahaa.sang agung apaan menghindar pada seranganku saja kau tidak mampu , sudah saatnya kekuatanmu kuambil alih".ucap draka
setelah berucap seperti itu draka langsung mendekatkan tangannya pada kepala sang pria dan tiba tiba saja muncul sebuah pusaran hitam yang menghisap seluruh tubuh pria tersebut sampai tak tersisa.
Draka yang melihat hal itu pun tersenyum puas serta dirinya yang kembali pada gua yang hancur berantakan tersisa kelima pedang yang masing menancap dibatu.
Dia pun kembali mengulurkan tangannya dan mencabut pedang didekatnya dan pedang lainnya pun ikut terangkat disaat sudah ditangannya draka langsung membuka segel yang terdapat pada pedang dengan mudah berkat kekuatannya yang sudah terlewat batas.
Setelah pergi dari gua yang hancur draka pun langsung menuju kediaman sikembar dengan hati yang bahagia.
Sesampai disana ia sudah disambut oleh istrinya yang saat itu berekspresi khawatir sedangkan disampingnya terdapat sikembar yang menatap kearahnya dengan wajah kesal.
Draka hanya tersenyum saat melihat wajah saudaranya karena ia juga mengetahui bahwa didekat gua yang hancur tersebut terdapat tempat yang sering digunakan sikembar sebagai tempat bersantai.
Walaupun sikembar tahu terdapat sebuah gua disana akan tetapi hal itu hanya sekilas saja karena mereka terhalang oleh sesuatu saat mendekat.
Draka pun langsung melempar pedang yang memang sejak tadi ingin lari ditangannya disaat dirinya dekat sama sikembar.
Sikembar pun langsung menangkap pedang tersebut dan anehnya tiba tiba saja senjata andalan dari sikembar muncul dan mencoba bersatu sama pedang tersebut.
__ADS_1
Draka yang melihat hal itu suntak saja menyuruh kedua istrinya untuk masuk kedalam villa karena ia ingin mencoba menahan kerusakan yang bakal dihasilkan dari penyatuan senjata saudaranya.
......................
Ditempat lain lebih tepatnya berada disebuah perusahaan terdapat seorang pemuda yang memiliki perawakan usia yang mirip sama draka sedang marah sama bawahannya.
"bo*oh nya kalian semua bagaimana bisa target yang sudah lama kalian ikuti bisa lepas dari pantauan kalian semua hahh".teriak pemuda tersebut
Seluruh bawahan itu pun hanya terdiam disaat dimarahi oleh bos atau tuannya tanpa bisa melawan apalagi membantah perkataan sang boss.
Tanpa diketahui oleh pemuda tersebut terdapat seorang yang tersenyum saat mendengar pemuda itu marah marah.
"kamu tetap disini dan kalian semua cepat cari lagi jejak keberadaan target serta tahanan yang sekarat itu".ucap pemuda itu sambil menunjuk kearah bawahan yang ada disana
Setelah seluruh bawahan pergi kecuali yang memang harus tetap disana .tiba tiba saja terdengar suara tembakan di ruangan siboss.
Dor dor dor
Tiga peluru melarang kearah jantung ,paru paru dan kepala bawahan bersarang tepat sebelum tubuh tanpa nyawa itu jatuh kelantai.
"aku tidak butuh seorang penghianat disisiku".gumam pemuda tersebut
tanpa disadari sang pemuda ia telah membunuh orang yang paling setia kepadanya hanya karena info yang belum tentu kebenarannya.
"hahahahahah.Draka tempest ternyata kau masih hidup sepertinya nyawamu bakal kuambil sendiri serta bakal kurebut semua yang kau miliki".teriak pemuda tersebut
__ADS_1