
Di kantin kampus, ketiga gadis terlihat berjalan bersama dan duduk di salah satu meja yang ada di dekat pojok.
"Mbak, pesen biasa ya," ucap Daisy kepada pelayan kantin.
"Mah, woi... sadar lu," seru Jessica.
Jemima hanya menyangga dagunya dengan kedua tangan, sembari tersenyum seorang diri.
"Lu mah malu-maluin banget tau nggak. Kalo tuh dosen sampe illfeel ke kita gimana? Bisa berabe kalo nanti dia lapor ke Bu Dina. Bisa ngulang semester depan kita gara-gara kelakuan lu," keluh Daisy.
"Lu berdua kenapa sih? Nggak tau apa ada orang lagi seneng habis ketemu ayangnya," sahut Jemima santai.
"Ayang... ayang... pala lu peyang? Dia itu Pak Dimas, dosen pengganti Bu Dina. Emang dia mirip Yonggi, tapi itu bukan bias lu," ucap Jessica.
"Bodo amat, mau Yonggi kek, mau Suga kek, mau Yonggi kek, ma Dimas kek, pokonya aku bakal ngikutin jejak si Iis. Kalo ada yang bisa digapai, ngapain ngehalu yang kejauhan. Ya nggak, Is," jawab Jemima.
"Maksud lu?" tanya Daisy.
"Maksudnya, dia bakal ikutan elu yang ngejar Bang Jordi gara-gara dia mirip sama Soobin. Si Imah juga mau ngejar Pak Dimas karena dia mirip Yonggi," jelas Jessica.
"Ya ampun, Imah. Kejauhan anjir. Sadar woi," timpal Daisy.
__ADS_1
"Nggak peduli. Kalian tau kan kalo gue itu Miss totalitas. Catet," sanggah Jemima.
"Mending lu sama si Fredy aja deh. Dia kan juga mirip sama oppa-oppa Korea," ucap Jessica.
"Bener tuh. Lebih bisa ke gapai lagi," timpal Daisy.
"Muke gila lu. Ogah banget gue ama tuh cowo. Cupu, bukan spek gue. Spek gue tuh kek Pak Dimas gitu. Ehm... Pak Dimas," sanggah Jemima.
Gadis itu kembali senyum-senyum sendiri, membuat kedua temannya hanya bisa menghela nafas panjang, menghadapi Jemima yang sudah terobsesi dengan sesuatu.
...🐥🐥🐥🐥🐥...
Malam hari di sebuah cafe yang ada di daerah Jakarta Pusat, terlihat sekelompok pemuda bersepeda motor tiba di depan cafe tersebut.
Mereka terdiri dari 3 orang personil, dan sering diundang untuk mengisi acara di beberapa tempat hiburan dan juga cafe.
"Masuk sekarang?" tanya teman Jordi yang bernama Husein.
Seorang pemuda dengan gaya rambut kriting mengembang dan berwarna keemasan. Dia memegang alat musik drum dalam band tersebut. Keduanya tengah menunggu satu personil lagi yang memegang gitar dan juga vokalis utama.
Semua anggota band itu adalah mahasiswa di Kampus Harapan Jaya, tempat Jemima dan Jordi kuliah.
__ADS_1
Tak berselang lama, sebuah motor vespa datang dengan seorang pemuda yang menggendong tas gitar.
"Nah tuh dia anaknya dateng," seru Husein menunjuk ke arah pemuda yang baru saja mematikan mesin motornya.
"Lama amat lu, Fer. Darimana aja?" tanya Jordi pada temannya tersebut.
Pemuda itu melepas helm bogonya, dan terlihat wajahnya dengan jelas. Rupanya, sang gitaris band indie tersebut adalah Ferdy, musuh Jemima di kampus.
"Sorry, Bro. Tadi gue mampir beli buku dulu ke toko gramed sebelah sana. Tugas lagi banyak banget. Taulah, mahasiswa telat lulus kek gue ya gini," sahut Fredy yang berjalan menghampiri kedua temannya.
"Udah lengkap kan? Yuk masuk, entar ownernya nyariin lagi," ajak Husein.
Ketiganya pun berjalan bersama masuk ke dalam cafe tersebut untuk bersiap perform.
Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥
Visual Husein
Bonus Visual Fredy main gitar
__ADS_1