
Malam hari, Jordi, Fredy dan Husein sudah tiba di club malam, tempat mereka akan manggung malam ini.
"Yuk masuk," ajak Husein.
Jordi pun berjalan mengikuti temannya itu, akan tetapi dia kembali berhenti saat melirik ke arah Fredy.
"Ngapain lu di situ terus? Ayo masuk buruan," seru Jordi.
"Kalian duluan. Gue mau ke toilet bentar," sahut Fredy.
Pemuda itu lalu berjalan ke arah berlawanan meninggalkan kedua temannya yang kemudian masuk menuju back stage.
Fredy berjalan menyusuri lorong, dan sampai di ruang utama klub malam, dia mulai mengedarkan pandangan, seolah mencari seseorang.
"Di mana tuh cewe?" gumam Fredy.
Sejauh mata memandang, hanya ada sekelompok orang-orang pencari hiburan. Mereka berjoget, mabuk, dan bahkan ada yang sudah mulai bertransaksi dengan wanita penghibur.
Seperti yang dikatakan oleh Jemima, di klub tersebut hampir kebanyakan pekerja **** komersialnya adalah anak remaja, dan tak sedikit pula yang masih berstatus pelajar.
__ADS_1
Saat dia masih sibuk mencari, MC sudah naik dan mulai berbicara. Hal itu membuat Fredy melihat jam tangannya dan segera berbalik menuju ke back stage untuk bersiap.
Suara MC tadi seperti alarm baginya untuk segera bersiap melakukan pertunjukan.
"Kemana aja sih, lu? Lama bener ke toiletnya," gerutu Husein.
"Sorry. Gue sembelit," sahut Fredy singkat.
Dia lalu segera membuka jaketnya dan mulai menatap rambut serta mengoles sedikit pelembab ke wajahnya terlihat segar.
Fredy bukan seseorang yang akan berpakaian over ketika diatas panggung, sama seperti kedua temannya yang lain.
Mereka hanya akan mengenakan kaus oversize, atau singlet yang dilapisi jaket serta celana ripped jeans. Namun justru itulah yang menjadi daya tariknya.
Untuk Jordi dan Husein, keduanya sudah terkenal bahkan di kampus pun mereka seperti selebriti. Namun untuk Fredy, dia lebih menyembunyikan identitasnya. Pemuda tersebut berpenampilan berbeda antara di atas dan di bawah panggung.
Sehingga saat di kampus pun tak ada yang sadar bahwa dialah si vokalis bersuara merdu dari band indie tersebut.
Fredy terlihat tengah membuka tas gitarnya dan mengeluarkan alat musik tersebut dari tempatnya.
__ADS_1
"Apa kalian udah siap?" tanya seseorang yang melongok dari balik tirai yang terhubung dengan panggung.
"Siap, Bang," sahut Husein.
Jordi dan Fredy pun mengangguk. Ketiganya pun mulai berjalan naik ke atas panggung. Suara tepuk tangan begitu riuh menyambut kemunculan personel band tersebut.
Fredy terlihat mulai menyambungkan gitarnya dengan kabel, lalu melakukan check sound. Begitu pula dengan Husein dan Jordi yang mengecek alat musik mereka masing-masing.
Setelah selesai menyetel gitarnya, Fredy mulai meraih microphone dan berinteraksi dengan pengunjung klub.
"Selamat malam semuanya. Seperti biasa kami The Riders datang kembali untuk menghibur kalian semua yang datang malam ini," ucap Fredy.
Dia terus berbicara, namun pandangan matanya tetap mengedar seolah masih mencari seseorang di antara kerumunan orang-orang.
"Kita udah siap, Fred," ucap Jordi memberi aba-aba.
Fredy pun menyudahi kata-katanya, dan menoleh ke belakang. Dia memberi sinyal dengan anggukan kepada Husein untuk mulai membuat ketukan.
Fredy dan Jordi pun bersiap dengan alat musik masing-masing. Namun tiba-tiba netra Fredy menangkap keberadaan seseorang di sana hingga membuatnya hampir tertinggal temponya.
__ADS_1
Ketemu juga, batin Fredy.
Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥