
Jemima berjalan menghampiri sekelompok pria berpenampilan preman yang sedang duduk-duduk di gazebo, yang berada di dekat gapura kampung.
Dengan santainya, gadis itu terus melangkah dan tak menghiraukan Fredy yang sejak tadi merasa khawatir. Saat salah seorang preman itu menyadari kemunculan Jemima, dia bangun dari duduknya dan menatap tajam ke arah gadis tersebut.
Hal itu sontak membuat Fredy waspada dan seketika pasang badan, berdiri di depan adik temannya.
"Ngapain sih, lu?" tanya Jemima yang terdengar kesal.
"Lu mending diem deh. Nggak lihat apa, tuh preman melototin elu," sahut Fredy yang tak kalah ketus.
Namun, bukannya tetap diam, gadis itu justru mencuri lihat dari balik punggung pemuda tersebut.
"Heh, ngapain lu bedua di sini?" tanya si preman dengan suara garangnya.
"Ehm... kita di sini mau...," sahut Fredy takut.
"Bang...," panggil Jemima dengan santainya.
Gadis itu lalu keluar dari balik punggung Fredy dan menyapa preman yang bertampang bengis itu.
"Jemima... hey...," panggil Fredy yang semakin panik.
Namun, sebuah pemandangan tak terduga terjadi, dimana preman itu ternyata mengenali Jemima.
__ADS_1
"Eh... elu, Mah? Ngapain lu di sini?" tanya si preman itu yang terlihat justru seperti akrab dengan gadis tersebut.
"Biasalah, Bang. Hai, semuanya," sapa Jemima.
"Si Imah ternyata yang dateng," tutur si preman kepada teman-temannya.
"Eh, elu Mah. Udah lama nggak ke sini, pasti mau penelitian lagi lu ye," tebak salah satu preman di gazebo.
"Abang emang selalu pinter seperti biasa," puji Jemima.
Fredy tak menyangka jika gadis yang coba dia lindungi, justru tampak akrab dengan para oreman berwajah garang itu.
Dia sampai ciut di depan Jemima, karena sempat terlihat panik saat menghadapi para preman di sana.
"Oh iya, Bang. Gue kali ini bawa temen. Kagak napa-napa kan?" tanya Jemima meminta ijin.
"Itu pacar lu, Mah?" tanya salah seorang preman.
"Bukan, Bang. Dia temen kelompok gue," jawab Jemima.
"Oh, kirain," sahut preman itu.
"Iya juga kagak napa-napa. Cakep juga kok, perhatian lagi sama elu," timpal yang lain.
__ADS_1
"Tapi... cemen," bisik preman itu kemudian.
Hal itu sontak membuat semuanya tertawa kecuali Fredy yang tak apa yang sedang mereka bahas.
"Jadi, kita bisa ketemu Pak RT kan?" tanya Jemima kemudian.
"Bisa... bisa banget. Mau Abang anter?" tawar si preman.
"Nggak usah deh, Bang. Kesian temen gue, masih syok dia. Gue langsung ke sana aja ya," pamit Jemima.
Gadis itu pun lalu berjalan ke arah Fredy dan meraih tangan pemuda tersebut.
"Lu jangan jauh-jauh dari gue ye," seru Jemima.
Keduanya pun berjalan melewati gazebo para preman dan menuju ke rumah ketua RT setempat.
Di sana, Jemima dan Fredy mulai mencari informasi yang bisa dijadikan bahan tugas mereka. Pak RT bahkan mengajak keduanya berkeliling melihat kondisi pemukiman tersebut.
Hingga menjelang petang, keduanya masih berjalan berputar di sekitar perkampungan itu ditemani oleh ketua RT.
Banyak anak kecil yang ikut mereka berjalan-jalan. Bahkan salah satu balita laki-laki terlihat duduk di pundak Fredy dengan begitu bahagianya.
Tanpa terasa, tawa keduanya pun nampak lepas, membuat Jemima bisa merasakan sisi lain dari seorang Fredy yang selalu saja kaku dan dingin.
__ADS_1
Ternyata, bisa juga dia ketawa kek gitu, batin Jemima.
Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥