Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Nonton Sepak bola


__ADS_3

Di rumah keluarga Pak Budiman, Papah Jemima, pasangan tersebut beserta anak gadis mereka terlihat tengah bersama menonton acara televisi.


Jam menunjukkan hampir pukul sebelas malam, dan acara lokal pun mulai di penuhi dengan acara talkshow malam hari.


Papah terlihat memilih siaran luar negeri, dan menonton siaran langsung premier league. Saat itu adalah pertandingan big match, antara klub andalan Papah Chelsea melawan Manchester United.


Jemima yang memang tomboy, selalu menemani sang Papah setiap kali beliau begadang menonton pertandingan sepak bola.


Terlebih jika ada ajang kejuaraan seperti liga champions, FA Cup, bahkan piala Dunia, Jemima tak pernah absen menemani Papahnya.


Mamah sampai heran dengan anak gadisnya. Sementara kedua putranya justru memiliki minat yang berbeda, dan jarang terlihat menemani Papah seperti si bungsu.


"Jagoan Papah kali ini pasti kalah," ucap Jemima setelah melihat striker andalan setan merah MU memasuki lapangan.


"Oh... tidak bisa. Chelsea itu pola permainannya hebat. Pelatihnya the best," sanggah Papah.


"Ah, Papah mah aneh. Di mana-mana orang nonton bola yang dilihat pemainnya yang main siapa. Ini Papah malah lihatnya pelatihnya," tepis Jemima.


"Kata siapa. Yang ada, kalo pelatih hebat, timnya juga bakalan hebat. Sok tau kamu," kilah Papah.


"Oke, kita lihat aja. Kalo Papah kalah, besok aku minta uang jajan lebih," tantang Jemima.


"Siapa takut. Tapi kalo kamu yang kalah, seminggu ini berangkat kuliah pake bus. Nggak boleh nebeng abang-abangmu. Gimana?" sahut Papah.


"Yah... kok gitu. Nggak adil dong. Kan aku mintanya duit. Papah minta apa kek gitu," sanggah Jemima.

__ADS_1


"Lho itu adil kok. Kamu menang papah keluar uang, kamu kalah papah nggak perlu kasih kamu uang bensin. Kan sama-sama masalah uang," ucap Papah.


"Ehm... Mamah," rengek Jemima pada Mamahnya.


"Kenapa lihat Mamah? Mamah nggak ikutan. Mamah di sini cuma nemenin kalian dari pada di kamar sepi nggak bisa tidur. Sana kami aja sama Papah," seru Mamah.


"Kalo takut ya udah, Papah nggak maksa," ucap Papah.


"Siapa yang takut? Oke, deal. Kalo aku kalah, seminggu aku bakal pulang pergi kuliah sendiri tanpa mobil dan tanpa nebeng abang," sahut Jemima.


Dia mengulurkan tangannya ke arah sang Papah, dan disambut langsung oleh pria paruh baya tersebut.


"Deal," ucap Papah.


Mereka pun kembali fokus pada layar kaca dengan lebar 64". Pertandingan benar-benar berjalan sengit mengingat kedua klub sepak bola tersebut adalah klub besar di dataran Britania Raya.


Hingga paruh pertama selesai, keduanya masih belum bisa mencetak skor sama sekali. Tendangan langsung dan juga umpan yang cantik terus tercipta, akan tetapi satu pun tak ada yang bisa mengoyak gawang lawan.


Saat itu, suara motor Jordi terdengar memasuki halaman rumah tersebut. Jemima menoleh ke arah pintu yang masih tertutup, dan kembali melihat ke depan.


"Bang Jordi manggung lagi, Mah?" tanya Jemima.


"Tadi sore sih ijinnya gitu," sahut Mamah.


"Kok Mamah sama Papah nggak protes sih Abang pulang malem manggung ke sana kemari mulu. Padahal dia kan nggak kurang uang," tanya Jemima.

__ADS_1


"Ya biarin aja sih. Lagian dia kan cowo. Nggak masalah pulang malem, yang penting apa yang dia lakuin positif," jawab Papah.


"Kalo gitu, aku juga boleh dong kek abang? Kan yang penting positif," ujar Jemima.


"Eh... nggak ada. Kamu itu cewe. Nggak baik cewe malem-malem di luaran. Bahaya," sahut Mamah.


"Mamah mah gitu. Itu nanya diskriminasi gender. Emang apa salahnya sih kalo cewe keluar malem-malem," keluh Jemima.


"Imah... cewe tuh ibarat berlian, mutiara, permata. Benda bagus harusnya disimpan dan keluar disaat yang tepat. Nggak bisa sembarangan muncul begitu aja. Nanti maling, rampok dan orang-orang khilaf berdatangan buat ngambil gimana? Kasihan yang punya dong," jelas Papah.


"Wah... berarti aku sama kek mutiara gitu ya, Pah. Daebak," sahut Jemima kagum.


"Iya, tapi kalo elu, mutiaranya masih nyungsep di comberan, makanya banyak erornya dari pada benernya," timpal Jordi yang sudah masuk dan mendengar perbincangan keluarganya.


"Ih... dateng-dateng bukannya salam malah ngatain. Rese lu, Bang," gerutu Jemima.


Namun, Jordi sama sekali tak peduli dan terus berjalan mundur ke arah tangga sembari menjulurkan lidahnya ke arah sang adik.


"Mamah... Abang," keluh Jemima.


"Udah nggak usah ribut. Tuh bolanya udah mau mulai lagi," sahut Mamah.


"Cckk!" Jemima terlihat kesal dengan sikap kakaknya yang selalu saja seperti itu.


Akhirnya, dia hanya bisa menonton siaran langsung pertandingan tersebut yang tinggal setengah waktu lagi.

__ADS_1


Bersambung.... 🐥🐥🐥🐥🐥


__ADS_2