Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Debat


__ADS_3

Fredy membuka pintu kamar kosnya dan masuk lebih dulu, di susul Jemima yang masih merengut. Gadis itu menurunkan kasur yang sebelumnya dipinggirkan oleh Fredy, dan menjadikannya alas duduk.


Sementara Fredy melempar tas dan jaketnya ke lantai dan duduk di bawah sambil melepas sepatunya.


"Ya gue kan cuma pengin mastiin aja. Kalo lu capek, harusnya bilang. Nggak ikut juga nggak papa," ucap Fredy.


"Lho kok gitu? Elu berarti ngeraguin gue. Eh, kupret. Buat dapet data, kita nggak harus muter lapangan dan tanya satu-satu. Kita itu harus kerja cerdas, bukan cuma kerja keras. Capek-capek kalo hasilnya zonk buat apa."


"Kan Pak RT udah kasih tau ke kita, harusnya kalo mau ngecek, cukup keliling bentar satu blok dua blok aja. Lah tadi, elu hampir semua orang lu tanya."


"Gue tuh bukannya takut capek ya. Cuma gue kesel karena lu nggak mau dengerin gue. Inget ya, yang minta bantuan gue tuh elu, harusnya lu percaya sama pendapat gue," ucap Jemima panjang lebar.


"Udah ngomelnya?" tanya Fredy.


Jemima melengos karena masih kesal dengan pemuda yang sudah membuatnya berputar-putar keliling kampung.


Tangannya tanpa sadar memijat-mijat kakinya yang terasa pegal akibat berjalan jauh, dengan hasil yang tak sebanding.


Fredy yang awalnya ingin marah karena Jemima terus menyalahkannya, tiba-tiba mengendurkan urat di wajahnya saat melihat hal itu. Dia erasa bersalah kepada gadis tersebut.

__ADS_1


Pemuda itu lalu bangun dan masuk ke dapur. Tak lama kemudian, dia kembali keluar dan membawa segelas air minum untuk Jemima.


"Nih minum dulu biar adem," ucap Fredy.


Namun, Jemima terlihat tak peduli dan terus melengos. Fredy yang tak tau cara membujuk wanita, akhirnya adu diam dengan Jemima.


Sementara gadis itu yang selalu nyerocos setiap kali marah, akhirnya semakin kesal dan tak tahan berlama-lama di sana.


"Gue pulang aja. Males gue di sini," ucap Jemima.


Gadis itu pun meraih tasnya dan hendak bangun, akan tetapi tiba-tiba lengannya ditarik Fredy hingga dia terhuyunh ke depan, sampai wajahnya hampir berbenturan dengan pemuda tersebut. Jemima membelalak, namun seolah tersihir, gadis itu membeku seketika.


"Gue minta maaf," ucap Fredy kemudian.


Kalimat itu membuyarkan semuanya. Jemima pun mendorong tubuh pemuda tersebut agar menjauh darinya. Dia menoleh ke arah lain, untuk menyembunyikan wajahnya yang pasti saat ini sedang merona.


"Gue ngaku, gue salah. Oke gue minta maaf udah nyusahin elu. Tapi lu kan tau sendiri kalo dijurusan kita, data sering nggak singkron sama kondisi lapangan, makanya perlu adanya pembaruan data," jelas Fredy.


"Iya tapi kan...," sela Jemima.

__ADS_1


Namun, ucapannya terhenti saat telunjuk Fredy menempel di bibinya, membuat gadis itu kembali membelalak.


"Udah yah... gue nggak mau ribut lagi. Gue udah minta maaf, dan gue bakal coba dengerin pendapat elu," ucap Fredy.


"Mending lu cari orang lain aja deh. Keknya gue nggak cocok jadi partner lu," sahut Jemima.


"Nggak... gue bakal tetep minta bantuan lu sampe selesai. Karena gue udah tau hasil kerja lu kek gimana, dan cocok sama ekspektasi gue," jawab Fredy.


"Lu serius?" tanya Jemima memastikan.


"Iya, gue serius. Udah yah, gue minta maaf buat hari ini. Lu capek kan pengin balik? Gue bakal anterin lu, tapi gue mau mandi dulu. Bau banget nih," ucap Fredy.


"Gue juga bau kali. Mana lengket. Nggak nyaman lagi," gerutu Jemima.


"Lu mau mandi di sini juga?" tanya Fredy.


"Dih... ogah!" sahut Jemima cepat.


Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥

__ADS_1


__ADS_2