Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Pemuda asing


__ADS_3

"Butch? or Femme?" tanya si bartender.


Anjir! Gue dikira lesb*ian, batin Jemima.


Jemima hanya bisa tersenyum kikuk mendengar tebakan si bartender di depannya.


"Beri gue minum dong. Tapi kalo bisa yang zero aja yah. Gue lagi nggak pengin mabok soalnya," seru Jemima.


"Kalo yang zero kita nggak stok. Tapi kalo lu minta yang low, kita bisa kasih," sahut bartender.


"Ya udah yang low aja," timpal Jemima.


Bartender itu pun kemudian membuatkan minuman untuk gadis tersebut.


Suara tepuk tangan pengunjung membuat Jemima kembali berbalik melihat ke arah panggung. Rupanya satu lagu sudah selesai dinyanyikan oleh band indie itu.


Sang vokalis kembali berbicara kepada para pengunjung, tapi lagi-lagi tatapan keduanya bertemu, membuat Jemima kembali menghindar.


"Ini pesenan lu," ucap si bartender yang telah selesai membuatkan minuman.


"Thanks," sahut Jemima.


"Lu kalo mau milih jabl*y sini, gue bisa kasih rekomendasi yang nggak bakalan nolak elu," ucap si bartender.


"Seriusan? Boleh juga tuh. Mana-mana, gue mau lihat," sahut Jemima antusias.


Dia bahkan sampai minum dengan cepat, hingga cairannya berlepotan ke dagu.


"Tunggu, gue ambil dulu di belakang," sahut bartender itu.


Dia pun kemudian berbalik dan masuk ke dalam bar, sementara Jemima kembali menikmati minuman serta lagu yang mulai mengalun.


Tiba-tiba, datang beberapa orang pemuda menghampiri Jemima.

__ADS_1


"Cewe. Kita temenin yah," ucap salah satu dari mereka.


"Sorry, tapi gue nggak bisa. Yang lain aja ya," tolak Jemima baik-baik.


"Ayolah. Kita orang baik kok. Cuma pengen ngobrol aja," timpal yang lain.


Jemima nampak memandangi pemuda tersebut dari atas hingga bawah, sambil menaikkan satu alisnya.


Pemuda baik main ke tempat jabl*y kek gini? Lu kira gue bego, batin Jemima.


"Gue duduk sini ya. Kita cuma pengin ngobrol kok," ucap si pemuda itu lagi.


"Ini tempat umum. Gue nggak mungkin juga ngelarang kalian buat duduk. Tapi, sorry gue nggak bisa sok akrab sama orang yang baru gue temuin," sahut Jemima.


"Oh... nyantai aja. Kita paham kok. Sambil minum dong," seru pemuda tadi.


Jemima terlihat mulai tak senang dengan keberadaan pemuda-pemuda itu. Tiba-tiba, dua pemuda lainnya menyodorkan segelas bir kepada teman mereka yang sejak tadi mengajak bicara Jemima.


"Ah, bener. Gue sampe lupa. Cheers," ajak pemuda tadi kepada Jemima.


Jemima nampak ragu.


Tapi kalo gue nolak mulu, yang ada mereka bakal tambah maksa. Ya udah lah, minuman gue ini, bukan mereka yang kasih, batin Jemima.


Gadis itu pun lalu meraih gelas dan mengangkatnya.


"Cheers," ucap Jemima.


Dentingan gelas beradu pun terdengar. Jemima dengan tenang meminum sisa minuman yang sejak tadi dinikmati.


Tak berselang lama, bartender yang tadi keluar dan menghampiri Jemima.


"Nih yang tadi gue bilang ke elu. Lu bisa pilih salah satu dari mereka. Di jamin nggak ada yang bakal nolak elu," ucap si bartender.

__ADS_1


Namun, Jemima terlihat aneh. Dia hendak meraih amplop yang diberikan oleh si bartender tapi selalu saja salah dan berakhir mengambil angin.


"Lu kenapa?" tanya si bartender.


"Nggak tau. Pala gue pusing banget," sahut Jemima.


Dia mencoba menggelengkan kepalanya, untuk mengurangi pening. Namun, rasanya justru semakin berat.


"Mungkin aja dia udah mabuk. Mending kita bawa dia balik," ucap si pemuda.


"Lu kasih apa di minuman dia? Eh... gue nggak tanggung jawab kalo sampe ada apa-apa ya," ucap si bartender yang curiga dengan ketiga pemuda yang ada di samping kiri kanan Jemima.


"Udah deh. Mending lu pura-pura nggak tau aja kek sebelumnya," seru pemuda yang lain.


"Tapi dia nggak suka cowo. Lu liat tuh. Dia lagi cari jabl*y," tutur si bartender.


"Gue nggak peduli. Bentukannya masih cewe. Punya apem juga kan. Bego bener kalo nggak dikasih tau jalan yang lurus. Selurus adek kecil gue. Hahaha...," kelakarnya.


"Punya lu bengkok kali," timpal yang lain.


"Sialan lu. Udah buruan bawa dia pergi," seru pemuda tadi.


Jemima tak menggubris sama sekali percakapan para pemuda tersebut, karena dia sendiri tidak bisa fokus pada kondisinya.


"Lu mau bawa gue kemana, hah?" racau Jemima saat tiga pemuda itu memapahnya keluar dari klub.


"Kita mau ajakin lu parti," sahut pemuda yang lain.


"Gue nggak mau... lepasin," tolak Jemima dengan sisa tenaganya.


Dia terus mencoba lepas, namun karena kepalanya semakin berat, dan matanya seolah dilem, akhirnya dia pun tak sadarkan diri.


Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥

__ADS_1


__ADS_2