Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Pembagian kelompok


__ADS_3

Kelas dimulai. Dimas, dosen pengganti Bu Dian masuk dan semua mahasiswa mulai memperbaiki duduk mereka.


Jemima terlihat menatap rambutnya di depan cermin kecil, namun segera ditegur oleh Jessica.


Gadis itu pun langsung menyimpan lagi cerminnya ke dalam tas, dan mulai fokus ke depan, tepatnya menatap lurus ke arah sang dosen, sambil tersenyum-senyum sendiri.


Daisy hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan Jemima, yang selalu saja lebay setiap kali di depan Dimas.


Kali ini, dia memang tak mengeluarkan celetukan konyol seperti minggu kemarin, namun sebagai gantinya, dia terus diam sambil mengumbar senyum maut ke arah sang dosen pengganti.


Meskipun Dimas tak merespon sama sekali tingkah Jemima, namun gadis itu terus saja membuat Jessica dan Daisy merasa malu oleh tingkah sahabatnya tersebut.


"Baiklah. Untuk materi kali ini, saya ingin meminta kalian semua meneliti tentang masalah ini. Namun kali ini saya minta berpasangan laki-laki dan perempuan."


"Kenapa saya memutuskan seperti itu, karena tempat yang mungkin akan kalian datangi memiliki cukup resiko tinggi jika mahasiswi tidak didampingi setidaknya satu orang laki-laki."


"Tapi saya menyarankan agar tidak terlalu mengambil resiko dengan memilih tempat-tempat yang memiliki potensi terjadinya masalah. Apa semuanya paham dengan tugasnya?" jelas Dimas panjang lebar.


"Paham, Pak," sahut mahasiswa lainnya.

__ADS_1


"Ye, Oppa," sahut Jemima lain dari yang lain, yang membuat semuanya menoleh dan terlihat jengah dengan sikap gadis tersebut.


Dimas hanya bisa geleng kepala dengan sikap mahasiswinya yang satu itu.


"Baiklah kalau semua paham. Selanjutnya saya akan membacakan pasangan kelompok masing-masing. Silakan setelah ini kalian bisa berdiskusi bersama," ucap Dimas.


Dia mulai menyebut satu persatu nama mahasiswanya dan juga pasangan kelompok mereka. Jemima terus tersenyum ke arah dosen pengganti itu tanpa mendengar dengan baik apa yang dikatakan.


"Fredy Bastian," panggil Dimas.


Fredy yang saat itu duduk di barisan paling depan pun mengangkat tangan saat namanya dipanggil.


"WHAT?" pekik Jemima yang tiba-tiba tersadar dari ke haluannya.


Semua orang menoleh karena terkejut dengan suara nyaring Jemima.


"Ada apa Jemima?" tanya Dimas yang juga terkejut dengan pekikan gadis tersebut.


"Oppa... eh, maksud saya Bapak serius masangin saya sama dia? Mending ganti deh, Pak. Sama siapa kek. Aji wahyudi, David Ardian, Soleh Faisal, atau siapa kek. Disini kan banyak cowoknya juga, Pak. Kenapa malah dia sih?" protes Jemima.

__ADS_1


Dimas terlihat menghela nafas panjang dan menatap Jemima. Dia kemudian melihat kembali daftar mahasiswa di kelas tersebut, dan kembali menatap Jemima.


"Semuanya sudah saya pasangkan. Menurut saya, kamu cocok jika bekerja dengan Fredy berdasarkan hasil analisis tugas yang minggu lalu kalian kumpulkan," jawab Dimas.


"Ya tapi, Pak. Nggak sama dia juga kali. Yang bener aja," sanggah Jemima.


Melihat perdebatan itu, Fredy pun mengangkat tangan, dan membuat fokus kedua orang itu teralihkan.


"Ya ada apa, Fredy?" tanya Dima, sementara Jemima hanya melihat gerakan pemuda tersebut yang berdiri dari duduknya.


"Sebaiknya Bapak menukar kelompoknya. Saya juga tidak mau mendapatkan teman kelompok yang belum apa-apa sudah menolak saya," ucap Fredy.


Dimas kembali menghela nafas panjang, kali ini sambil melepas kaca matanya dan memijat kecil pangkal hidung yang terasa pening.


Dia kemudian mengenakan kembali kacamatanya, dan menatap balik ke arah semua mahasiswa yang ada di sana.


"Tidak ada perubahan kelompok. Tugas yang diterima adalah tugas yang dikerjakan oleh kelompok yang sudah saya bagi tadi. Sekian dan Terimakasih," pungkas Dimas.


Setelah mengatakan hal tersebut, Dimas pun pergi dari kelas, meninggalkan Jemima dan juga Fredy yang tak habis pikir dengan kebetulan ini.

__ADS_1


Si*lan. Kenapa juga gue harus ama tuh anak cupu? Aaahhhh..., keluh Jemima dalam hati.


__ADS_2