Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Bantuan tak terduga


__ADS_3

Di tikungan, sebuah mobil tiba-tiba memepet vespa yang dikendadai oleh Fredy dan juga Jemima. Hal itu sontak membuat kedua mahasiswa itu terkejut, terlebih Jemima.


Keduanya lun turun dengan wajah panik dan kebingungan.


"Apaan nih?" tanyanya.


"Lu diam di belakang gue," seru Fredy.


"Lu kenal sama mereka?" tanya Jemima.


"Diem dulu deh," seru Fredy lagi.


Jemima terlihat berdiri di belakang pemuda tersebut, dan mengintip dari balik pundak Fredy.


Dari mobil yang menghadang mereka, turu seorang pria tua berpakaian rapi. Rambutnya beruban sempurna dan berjalan ke arah mereka berdua.


Jemima merasakan tubuh Fredy yang tadi miring, kini tegap menghadap pria tua tersebut.


"Den, saya diminta Bapak buat jemput aden pulang," ucap pria tua itu.


"Bilang ke orang itu, gue nggak mau," sahut Fredy.


Dia lalu menoleh ke samping dan berbisik kepada Jemima.


"Lu naik bus itu," seru Fredy.


Jemima melihat sebuah bus yang hendak melintas dan akan berhenti di halte yang ada di belakang mereka..


"Lu sendiri gimana?" tanya Jemima.

__ADS_1


"Lakuin aja sih. Bawel bener," gerutu Fredy.


Jemima bingung antar harus menurut atau tetap di sana. Bus sudah semakin dekat dan Jemima masih berada posisinya.


"Buruan, beg*!" seru Fredy kasar.


"Anjir lu ngatain gue beg*. Oke, lu gue tinggal. Jangan minta tanggung jawab ya," sahut Jemima.


Gadis itu lalu berjalan mundur, dan berlari ke seberang jalan, dan bukan ke arah halte. Memang tak ada satu pun yang mengejar gadis itu, karena target mereka adalah Fredy.


Namun, Fredy yang melihat hal itu pun tetap ngedumel dalam hati karena kesal dengan gadis yang tak mau mendengar perkataannya.


"Den, sebaiknya aden ikut kita," seru pria tua itu lagi.


"Nggak. Gue udah bilang kalo gue nggak akan pernah mau balik lagi ke rumah itu. Mending kalian berenti deh maksa gue pulang," sahut Fredy.


Fredy pun mulai menyiapkan kuda-kuda karena sepertinya kalo ini dia harus berkelahi.


"Maju lu semua. Gue nggak takut!" tantang Fredy.


Para pria yang mengepung Fredy mulai maju dan bersiap untuk menangkap pemuda tersebut. Suasana sudah begitu tegang dan Fredy pun sudah siap jika harus babak belur.


Namun, belum juga mulai, sepasukan preman datang ke arah mereka tepat dari seberang jalan.


"Woi... ngapain kalian ngeroyok anak itu?" tanya slaha seorang preman berambut kriwil dengan tato di lengannya.


Semua pun seketika menoleh. Fredy tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di depan semua preman itu, berdiri seorang gadis yang beberapa saat lalu dia suruh pergi demi melindunginya.


Jemima datang dengan sepasukan preman kampung kenalannya, yang kebetulan berada di sekitar jalan tersebut.

__ADS_1


Mereka berjumlah lebih banyak dari orang-orang yang ingin menangkap Fredy.


Melihat situasi yang tak menguntungkan, pria tua itu pun memberi perintah kepada anak buahnya untuk segera mundur dan pergi dari tempat tersebut.


Fredy pun bisa bernafas lega karena akhirnya bisa kembali bebas dari orang-orang tadi.


"Lu nggak papa, Tong?" tanya si preman kriwil.


"Nggak papa, Bang. Makasih banyak udah bantuan gue," ucap Fredy sopan.


"Lu makasih sama mereka doang?" gerutu Jemima.


"Iya, makasih udah bantuin gue. Puas lu," sahut Fredy ketus.


"Lu nggak usah makasih. Temen Imah, temen kita juga. Jadi kalo ada yang macem-macem sama elu, lu bisa minta tolong kita," ucap preman lainnya.


Fredy nampak mengerutkan kening sambil tersenyum kaku ke arah para preman itu, dan menoleh ke arah gadis di sampingnya bergantian.


.


.


.


.


Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥


Maaf ya upnya bolong dua hari 🙏😁

__ADS_1


__ADS_2