
Beberapa hari sudah berlalu sejak masalah taruhan bola dengan Papah, Jemima sekarang mulai terbiasa memakai angkutan umum dengan berkali-kali ganti trayek.
Hari ini, dia selesai kuliah sampai pukul enam petang. Jessica dan Daisy yang sejak awal menawarkan tumpangan untuk temannya, selalu ditolak oleh Jemima, karena dia tau bagaimana orang tua kedua temannya.
Mereka berdua adalah anak rumahan yang patuh. Kedua orang tua mereka selalu mengecek jadwal anak-anak mereka, sehingga setiap kali selesai kuliah, mereka harus langsung pulang sebelum orang tua mereka menelpon dan marah-marah.
Berbeda dengan Jemima yang hidup ditengah keluarga yang menganut sistem kebebasan berekspresi. Papah dan Mamah tak pernah memaksa anaknya mengikuti keinginan mereka.
Keduanya cenderung membebaskan ketiga anaknya untuk melakukan hal yang mereka mau. Saat Jemima memutuskan mengambil jurusan kesejahteraan sosial, Mamah sebenarnya keberatan mengingat kelakuan Jemima yang selalu konyol setiap kali melakukan sesuatu.
Dia mencoba menasehati sang putri, namun Jemima tetap pada pendiriannya. Mamah pun tak bisa memaksa, dan hanya bisa mengingatkan agar selalu berhati-hati dan tidak ceroboh, meski Jemima selalu saja cenderung seenaknya sendiri.
Begitupun saat Jordi meminta ijin untuk membuat sebuah band Indie saat masih di SMA, yang sekarang namanya cukup terkenal di kota Jakarta karena jam terbang yang sudah lama.
__ADS_1
Sama halnya dengan Tomi, anak sulung mereka. Papah ingin dia meneruskan profesi yang sekarang digelutinya, yaitu seorang manager utama salah satu bank swasta, mengingat dia juga kuliah di bidang perbankan.
Namun ternyata, Tomi lebih memilih membuka usaha kafenya sendiri, yang kini sudah memiliki lima cabang.
Meski diberi kebebasan memilih dan berekspresi, namun Mamah dan Papah tetap membedakan perlakuan mereka antara anak laki-laki dan perempuan. Jemima mendapatkan batasan jam malam dari kedua orang tuanya, yang mewajibkan dia pulang sebelum pukul sembilan malam, tapi tidak dengan Jordi dan juga Tomi.
Meski sering protes dengan aturan tersebut, namun Jemima tau itu adalah bentuk kasih sayang kedua orang tuanya.
Ditambah dia bisa melihat berapa demokrasinya keluarga Budiman terhadap anak-anaknya, dibandingkan dengan kedua temannya, Jessica dan Daisy yang harus menjadi gadis baik dan penurut di depan kedua orang tuanya.
Jemima tampak menikmati pemandangan malam dari balik kaca bus. Di dalam bus, hanya ada beberapa penumpang, karena saat ini sudah lewat waktunya jam padat.
Bus yang ditumpangi terasa mulai melambat. Jemima pun melihat sekitar dan mendapati bahwa dia harus turun di halte ini.
__ADS_1
Gadis itu pun turun, dan duduk kembali di halte menunggu bisa selanjutnya. Baru dua kali dia ganti trayek. Masih ada dua bus lagi yang harus dia naiki.
Gak berselang lama, bus yang ditunggu pun datan. Jemima segera memakai tasnya dan masuk ke dalam kendaraan tersebut.
Dia melihat bus itu cukup penuh. Jemima pun melihat-lihat dimana dia bisa duduk. Senyumnya muncul saat mendapati satu kursi kosong di dekat jendela.
Jemima memang sangat senang memandang ke arah luar saat dia berkendara, sehingga tempat duduk favoritnya adalah yang dekat dengan kaca.
Namun, saat dia sampai di kursi itu, tiba-tiba tatapannya mengarah pada seorang pemuda yang duduk di deretan kursi paling belakang. Dia mengenakan ripped jeans, dan jaket hoodie yang menutupi kepalanya.
Pemuda tersebut juga terlihat mengenakan topi di balik hoodie-nya, terlihat dari ujungnya yang menyembul keluar. Dia terus menunduk sambil melipat kedua lengannya di depan dada, dengan punggung yang bersandar penuh ke kursi.
Terdapat sebuah tas gitar di sampingnya, yang ia sandarkan di kursi yang sama.
__ADS_1
Kek kenal. Siapa ya? batin Jemima.
Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥