Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Rasa


__ADS_3

Pagi itu, Fredy tak datang menjemputnya. Jemima pun berangkat sendiri dengan menggunakan mobil.


Saat pelajaran selesai, dia pun tak melihat Fredy di gerbang depan seperti biasa. Sepertinya, Jordi sudah mengatakan keputusan Papah semalam kepada pemuda tersebut, agar Jemima tak lagi membantunya.


Hari-hari berlalu begitu saja. Hampir setiap hari, Jemima selalu datang ke gerbang depan setelah kelasnya selesai. Namun, dia hanya berakhir kecewa dan pulang dengan lesu.


Sebenarnya, dia hanya kembali ke rutinitas awal sebelum mengenal dekat sosok Fredy, yang beberapa waktu ini mengisi hari-harinya. Namun, Jemima merasa begitu kosong saat tak lagi melihat sosok tersebut.


Di kelas pun, gadis itu terlihat lebih diam. Jemima yang terkenal absurd dengan segala kekonyolan dan ceplas-ceplosnya, kini tiba-tiba menjadi pemurung dan lebih banyak melamun.


Jessica dan Daisy sangat merasakan perubahan tersebut di diri sang sahabat.


"Imah, lu kenapa sih? Akhir-akhir ini kita ngerasa lu kok beda banget. Kalo ada masalah, lu bisa kok cerita ke kita," ucap Jessica.


Kedua temannya saat itu sengaja pergi ke rumah Jemima di akhir pekan, karena merasa khawatir dengan kondisi sang sahabat. Mereka lalu melakukan deep talk di dalam kamar si bungsu.


"Gue nggak papa kok," jawab Jemima bohong.


Dia bahkan mencoba tersenyum, meski terlihat sangat di paksakan.


"Mah, kita kenal lu udah lama. Lu nggak bisa boongin kita. Ada sih, hem? Cerita dong. Jangan bikin kita khawatir. Udah mau sebulan tau, lu kek gini," bujuk Daisy.

__ADS_1


"Sorry, Mah. Bukannya gue ama si Iis mau ikut campur atau ngepoin elu. Tapi sebagai temen, kita nggak mau kalo lu ngerasa kesulitan sendirian," timpal Jessica.


"Bener kata Ences, Mah. Ada apa sih?" lanjut Daisy.


Jemima tampak terdiam. Tatapannya turun melihat tangan Jessica yang sejak tadi terus menggenggamnya.


"Gue juga nggak tau, guys. Gue juga bingung kenapa gue kek gini sekarang. Gue... gue cuma ngerasa kek ada yang ilang aja sejak...," ucap Jemima.


Namun kata-katanya terhenti. Dia kembali terdiam dan seolah tak berani melanjutkan perkataannya.


Daisy ikut menggenggam tangan sahabatnya, dan menatap penuh tanya.


Bukannya menjawab, Jemima justru kembali tertunduk. Tiba-tiba, bahunya terlihat berguncang pertanda dia sedang terisak.


Jessica dan Daisy pun saling pandang melihat hal tersebut.


"Imah, lu kenapa sih? Lu beneran ada masalah?" tanya Jessica.


Daisy memeluk sahabatnya itu dengan erat, mencoba menenangkan Jemima yanga semakin jelas menangis. Namun, dia justru ikut mewek dan menitikkan air mata.


"Mah...," panggil Jessica.

__ADS_1


"Gue... gue ngerasa kehilangan si kupret," ungkap Jemima.


"Hah?" pekik Daisy.


"Lu seriusan?" tanya Jessica bersamaan.


Jemima hanya mengangguk, sambil terus tertunduk. Dia pun kemudian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dari mulai dia yang pulang larut karena ketiduran di kosa Fredy, hingga ayahnya yang melarang dia untuk membantu pemuda tersebut melakukan penelitian.


Semua itu pada akhirnya benar-benar menjauhkan Fredy dari Jemima secara tiba-tiba, dan membuat gadis itu merasa kosong.


"Gue juga bingung sama diri gue sendiri. Kenapa gue bisa sampe kek gini. Padahal... padahal lu bedua tau sendiri kalo gue gedeg banget ama tuh cowo," pungkas Jemima.


"Ya ampun, Imah. Itu namanya lu jatuh cinta," ucap Daisy.


Jessica dan Daisy yang mendengar hal itu pun memeluk sahabatnya bersamaan. Mereka ikut simpati dengan apa yang sedang dirasakan oleh Jemima.


"Imah, lu nggak nyadar ya kalo lu udah ada rasa sama si Fredy?" tanya Jessica.


Jemima tak menjawab dan justru semakin keras menangis.


Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥

__ADS_1


__ADS_2