
Hari berlalu hingga minggu pun berganti, hampir dua bulan sejak Jemima tak lagi berhubungan dengan Fredy, sejak itu pula sikap dia sangat aneh.
Gadis yang selalu ceria dan enerjik itu terlihat sering melamun dan menjadi pendiam.
Sudah sebulan sejak kedua temannya tau bahwa perubahan itu ada kaitannya dengan Fredy, dan itu membuat mereka sangat khawatir.
Jessica dan Daisy mengenal Jemima sudah sejak lama, dan baru kali ini mereka melihat gadis itu bersikap seperti ini.
"Nces, gue nggak bisa diem lagi lihat si Imah kek gini. Gue nggak tega, Nces. Ini tuh bukan Imah. Sesulit apapun hidupnya, dia nggak pernah se mengkhawatirkan ini. Kek nya gue harus lakuin sesuatu," ucap Daisy.
Keduanya saat ini sedang berada di parkiran, saat Jemima baru saja pulang. Daisy sengaja mengajak Jessica berbincang sebentar sebelum mereka juga kembali ke rumah masing-masing.
"Emang lu mau ngapain?" tanya Jessica.
"Gue nggak tau, tapi gue bakal coba sesuatu. Kali aja ini bisa bantu si Imah," ucap Daisy.
"Gue harap lu juga jangan ngelakuin yang aneh-aneh ye. Gue nggak mau lu juga ikutan kek si Imah. Jadi aneh," seru Jessica.
"Nggak... gue bakal pikir caranya," sahut Daisy.
"Kalo lu butuh bantuan, bilang ke gue. Gue pasti bakal bantuin lu," ucap Jessica.
"Thanks ya. Yuk pulang," ajak Daisy.
Keduanya pun masuk ke mobil masing-masing dan kembali ke rumah.
__ADS_1
...🐥🐥🐥🐥🐥...
Keesokan harinya, bertepatan dengan weekend, Daisy terlihat berjalan di dalam sebuah mall. Dia seperti menuju ke salah satu cafe yang ada di sana.
Nampak dari jauh, seorang pemuda melambaikan tangannya ke arah gadis yang baru saja sampai itu.
Daisy pun mempercepat langkahnya setelah melihat lambaian tadi.
"Abang udah dari tadi? Sorry, di jalan lumayan macet tadi," ucap Daisy.
"Iya, gapapa. Gue maklumin soalnya weekend juga. Pasti jalanan rame," sahut pemuda ya g tak lain adalah Jordi, kakak Jemima.
Daisy pun lalu duduk di seberang pemuda tersebut, dan melepas tas selempangnya, lalu menaruhnya di atas meja.
"Lu mau pesen apa? Biar gue yang pesenin," ucap Jordi.
Jordi lalu bangun dan berjalan ke arah counter, untuk memesan minuman lagi. Pasal kau, dia sudah lebih dulu memesan sebelum Daisy datang.
Tak berselang lama, Jordi sudah kembali dengan segelas minuman dingin untuk Daisy.
"Nih minumnya. Gue juga pesen makanan. Entar dianterin ke sini," ucap Jordi.
"Thanks ya, Bang," sahut Daisy menerima minuman dengan senang hati.
"Oh iya, lu mau ngomongin apa sama gue? Gue kaget lho semalem dapet telpon dari lu. Dah gitu tiba-tiba ngajakin ketemuan gini lagi," tanya Jordi.
__ADS_1
Dia memang kenal Daisy sejak adiknya berteman dengan gadis itu, dan juga Daisy sering main ke rumah sejak masa SMA.
Namun, baru kali ini gadis itu mengajaknya bertemu empat mata, dan seperti ada hal serius yang mau dikatakan.
Daisy terlihat menyedot minumannya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari Jordi.
"Gue mau bahas Imah, Bang," ucap Daisy kemudian.
Gadis itu nampak memainkan sedotan di dalam gelasnya, dengan ekspresi yang seolah tengah bersedih.
"Imah? Maksud lu, adek gue?" tanya Fredy.
"Iya, Jemima. Emang Imah yang sama-sama kita kenal siapa lagi?" jawab Daisy.
"Emang kenapa ama tuh anak? Bikin ulah lagi dia?" tanya Jordi lagi.
"Harusnya Abang sebagai kakak lebih tau dari gue yang cuma temen. Apa abang nggak nyadarin kalo dia berubah? Dia jadi aneh, Bang," ungkap Daisy.
"Aneh? Maksud lu dia jadi adem ayem gitu? Bagus dong kalo dia nggak berulah lagi. Damai hidup kita," jawab Jordi.
"Abang kok gitu. Abang nggak peduli ama adek sendiri?" tanya Daisy.
"Ya gue peduli lah. Tapi dianya aja nggak pernah bilang apa-apa ama keluarganya. Gimana gue bisa tau dia kenapa," sahut Jordi.
"Kalau gitu, fix Abang mesti bantuin kita buat balikin si Imah kek dulu lagi," ucap Daisy.
__ADS_1
"Caranya?" tanya Jordi.
Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥